Senin, 30 September 2013

Catatan kecilku

Diposting oleh Rumah Kopi di 18.03 0 komentar
TENGGELAM



Kali ini akan aku bertahu dirimu, apa yang telah aku lakukan untukmu?

Lima puluh tahun air mata telah kutumpahkan

Berteriak, berdusta, dan berdarah untukmu

Dan masih saja kau tak mendengarkanku, aku tenggelam

Tak ku inginkan bantuanmu kanli ini, aku akan selamatkan diriku sendiri

Mungkin suatu saat aku akan terbangun, tak tersiksa setiap hari, tersakiti olehmu

Saat ku sangka ku tlah sampai dasarnya, Aku sekarat lagi

AKU TENGGELAM, TENGGELAM, TENGGELAM dalam dirimu

Aku terus terjatuh, terjatuh, harus ku terobos, aku tenggelam

Samar dan campur aduk antara kenyataan dan dusta

Hingga aku tak tau, mana yang nyata dan semu

Selalu bingung dengan pikiran di kepalaku

Hingga aku tak percaya pada diriku sendiri lagi

Aku sekarat lagi, aku tenggelam, tenggelam terus terjatuh

Harus ku terobos

Maka teruskanlah dan berteriaklah, aku sudah jauh

Aku tak mau hancur lagi, aku harus benafas aku tak boleh tenggelam

Tenggelam dalam dirimu, aku terus harus bangkit lagi


#

Now i will tell you what i've done for you

fifty thousand tears i've creid

screaming, deceiving  and bleeding for you

And you still won't hear me, i'm going under

Don't wan't your hand this time i'll save my self

Maybe  i'll wake up for once

No tormented daily, defeated by you

Just when i thought i'd reached the bottom

I'm dying again, going under, i'm going under, drowning in you

 I'm falling forever, i've got to break throught, i'm going under

Blurring and stirring the truth and lies

So i don't know what's real and what's not 

Always confusing, the thoughts  in my head 

So i can't trust myself  anymore

i'm dying again, im going under, drowning in you

I'VE GOT TO BREATHE  I CAN'T KEEP UNDER 
 



 

 

Minggu, 29 September 2013

Catatan kecil pribadiku

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.42 0 komentar

Catatan kecil_ fiksi mini

Oleh

Keyzia Kencana

# Dengan dendam membara ku bangun kekuatan yang mutlak lahir dari diriku sendiri

# Dengan kesadaran tinggi aku memilih menyendiri untuk menemukan jati diri

# Dulu aku rajin mengumpat pada mereka yang meninggalkanku sendiri dalam keadaan sekarat, namun kini ku sadari bahwa dari sini aku bisa belajar untuk mandiri

# Lelah meneriaki mereka yang menggores luka hati, diam adalah cara yang terbaik menghargai diri sendiri.

#Bukan marah ataupun benci, justru terimakasih pada sederet nama yang telah kluar masuk hati ini.
Karena mereka kini aku termotivasi untuk lebih baik dari hari ini.

# Beruntung aku menemukan orang baik sepertimu, sialnya aku tak bisa keluar begitu aku mulai memasuki gerbang hatimu.

# Tersenyumlah, karena kini aku sanggup menepati janji untuk berhenti mencari-cari.

# Karakter yang terlanjur melekat padaku, penilian buruk tentangku darimu,
semoga suatu hari kau menyadari telah keliru menilai diriku.

# Dendam!! Aku dendam setengah mati, namun akan aku balas kau dengaan memperlakukanmu secara baik nanti.

# Seperti tata cara menulis, akupun juga akan mengalami proses perubahan secara alami, sengaja ku biarkan jiwaku berkelana menjelajahi bumi cinta agar kelak ketika tua aku sudah tidak penasaran lagi tentangnya.

# Inilah aku sebenarnya, optimis dan yakin dengan masa depan yang memang sudah aku persiapkan jauh hari sebelumnya.

# Hati ini setipis kertas, namun sekuat baja menerima luka demi luka untuk menuju bahagia selamanya.

***

Sabtu, 28 September 2013

Tanda Tanya

Diposting oleh Rumah Kopi di 19.54 0 komentar

Oleh

Keyzia Kencana

”kenapa lagi..!” Tanyanya ketus.

”nggak apa-apa.” jawabnya, sembari mengobati luka di jarinya yang berdarah.

”masih kepikiran dia..?” adiknya mencoba mengintrograsi, seperti layaknya jaksa dan terdakwa.

Dia terdiam dan masih melanjutkan aktivitasnua. ”apa sih yang bisa membuatmu seperti ini! Bukankah...”

”berhenti mengurusi masalah pribadiku!”  suaranya terdengar lantang, sembari beranjak pergi dari ruang keluarga, lalu masuk ke dalam kamar.

Brukk...! Ran menghepaskan tubuhnya di atas ranjang, matanya memandang ke langit-langit.

Pikirannya melayang kesana-kemari.
Tentang dia, tentang orang-orang yang mencoba mendekatinya.

”Kenapa aku ini?” gumamnya.

”Apa ada yang salah dengan syarafku?

Bukankah ini aneh...? Aku masih memikirkan, dan berputar-putar bermain dengan lingkaran api!
Yang setiap saat membakar hangus hatiku!” rintihnya.

”Kenapa aku tak bisa menerimanya, orang yang jauh lebih perduli padaku! Bodohnya aku!” ucapnya lirih. Sejurus kemudian matanya terpejam, air matanya tumpah sudah!

”Apa yang dia inginkan?
Apa maksud semua ini, jika aku memang tidak pantas di pertahankan, sudahlah.

Sudah ku bilang, aku bisa dan akan baik-baik saja tanpamu!

Kamu juga nggak perlu sibuk mencuri waktu untukku.

Tanpamu, tanpa dia, tanpa siapa-siapa. Yang aku butuhkan hanya kedamaian. Hatiku butuh istirahat..

Sudah, sudah...!

Ku mohon, kasihani aku!
Jangan pernah kamu datang lagi padaku. Biarkan aku hidup dengan jalanku.

Pergilah, kembalilah dengan jalan yang sudah kamu pilih.

Ya Allah, kuatkan hatiku.
Aku tak mau muluk-muluk, aku tak ingin berangan terlalu jauh.

Aku hanya ingin jadi orang yang kuat, dengan berpegang dengan agama-Mu.

Amin,” sederet do’a yang Ran panjatkan seusai menghadap Tuhan-Nya.

Selesai

Tokyo Daigaku

Diposting oleh Rumah Kopi di 15.17 0 komentar

Oleh

Keyzia Kencana

Fiuuuhhhhh.....! Ini menakjubkan......!
Dulu aku hanya bisa melihatnya dalam adegan drama seri di tivi. Tapi kini aku mengalaminya sendiri.

Bersepeda menyusuri jalan menuju Universitas Tokyo tempatku menempuh ilmu setelah lulus dari SMA.

Berawal dari hobyku menonton anime dan drama seri jepang, mendorong kuat ke inginanku untuk menginjakkan kaki di negeri yang mempunyai julukan matahari terbit itu.

Bermodal dari lolos test beasiswa Mitsui-Bhusan, akhirnya aku sampai juga di negeri sakura tersebut.

Meski selama 4 tahun aku harus berpisah dengan keluarga tercinta, aku yakin mampu menjalaninya.

Kini tak terasa 2 tahun sudah aku di sini. Malam ini tiba-tiba rinduku pada Bunda, membuncah memenuhi rongga dada.
Rasa gundah menggelayuti hati dan pikiranku.

Seusai belajar, aku bermaksud menelfonnya. Namun berkali-kali aku hubungi, tak juga ada jawaban dari seberang sana.

“Aneh, tak biasanya rumah sepi malam begini? Pada kemana mereka?” tanyaku dalam hati.

Kemudian aku mencoba menghubungi hp Om ku, namun hasilnya juga nihil.

”mereka pada kemana? Kira-kira apa yang terjadi dengan keluargaku, kenapa hatiku gelisah seperti ini..!” pertanyaan itu terus berkecamuk dalam hati.

Malam ini tak sekejappun mataku bisa terpejam, padahal subuh hampir tiba.

Beberapa saat kemudian, aku di kagetkan suara nada dering hp ku.
Satu pesan  masuk dari om ku, isi pesan itu mengabarkan bahwa kesehatan Bundaku sedang memburuk. Sejak kemarin sore, semua keluarga menunggui beliau di sana.

Leherku seperti tercekat! Tubuhku bagaikan di aliri arus listrik jutaan watt.

”Setahuku Bundaku dalam keadaan sehat walafiat, kenapa tiba-tiba mendadak jatuh sakit?”
Gumamku dalam hati.

Tangisku pecah tak terbendung! Aku ingin pulang saat ini juga!
Aku ingin melihat keadaan Bunda! Namun bagaimana mungkin bisa?

Nalarku tak bisa berfikir, aku tak tau apa yang akan aku lakukan selanjutnya?

                                                                         ***

Di sela-sela isak tangisku, tiba-tiba ada yang menepuk punggung sembari memanggil namaku. Aku terperanjat dari tempatku semula.

Nenek menyuruhku beli chen cu nai cha. Aku pun bangkit dan  bergegas pergi.

Selesai

Senja Sore Itu

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.58 0 komentar

Oleh

Keyzia kencana

Cinta itu seperti warna langit yang tak selamanya sama, kadang berwarna biru, kadang jingga, dan kadang menghitam pekat. Cinta bisa mematikan juga bisa menghidupkan, semua tergantung bagaimana menjalaninya.

Gubraakk....!
Suara pintu di tutup dengan kencang. Kemudian terdengar suara isak tangis dari dalam kamar. Dia adalah Nura gadis yang sudah duduk di bangku kelas l SMA, tapi kelakuannya satu level dengan anak SD. Pembawaanya selalu ceria, tapi di imbangi dengan  cengeng yang luar biasa.

Sejurus kemudian mamahnya masuk ke dalam kamar ” kamu kenapa lagi, pulang sekolah bukannya makan malah nyanyi”, canda mamahnya yang berusaha mecairkan suasana sambil memungut tisue yang berserakan di lantai.

”Bangun, cuci muka ganti baju lalu mamah tunggu di meja makan.”

”Nura nggak mau makan, biarin Nura sakit.”

”Eh, anak mamah kok ngomongnya kayak gitu, siapa yang ngajarin?
Mamah nggak akan ngulangi apa yang barusan mamah perintahkan, Nura sendiri janji mau berubah untuk nggak manja lagi kan?”
Setelah mengucapkan kata itu, mamah keluar dari kamar.

Nura masih terisak-isak, ucapan Affan tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinganya. Tak hanya membuatnya sedih, tapi juga malu karena di bentak-bentak di depan banyak orang. Apalagi Cindy saingan berat Nura ada di sana, di kantin tempat Affan dan Nura berselisih tegang.

Setelah cuci muka dan ganti baju, gadis berhidung mancung itu melangkah menuju meja makan. Wajahnya masih cemberut, mata sipitnya kelihatan tampak aneh seperti habis di tonjokin bajak laut. Bengkak dan merah.

“Kalao ada masalah, jangan langsung di sikapi dengan emosi. Cobalah tenangkan hatimu, cerna baik-baik ucapan yang masuk dan ambil positifnya.” ujar mamahnya  yang sudah menunggunya di meja makan dari tadi.

”Coba cerita sama mamah, ada apa? Mamah akan mencoba menengahi dan akan besikap obyektif, tidak memihak siapa-siapa. Pasti berantem lagi sama kak Affannya, kan?”

Nura mulai bercerita sambil makan siang bersama mamahnya.

        
                                                       ***

Pagi itu nggak seperti biasanya, Nura berangkat seorang diri ke sekolah. Affan pacar sekaligus bodyguard pribadinya, nggak datang menjemputnya.

Selama ini apapun yang Nura inginkan, Affan berusaha menurutinya. Namun omelan-omelan yang panjang kali lebar selalu meluncur dari bibir pacarnya itu jika sedikit saja Affan keliru.

Cemburu itu boleh tapi jika tanpa dasar yang kuat, bisa jadi boomerang dalam suatu hubungan.

Manusia nggak mungkin selamanya sama, jika ada perubahan asal masih dalam taraf wajar harusnya bisa saling menyesuaikan.

Akhir-akhir ini Affan jarang ada waktu untuk Nura, kesibukannya dengan tim basket dan persiapan menghadapi ujian akhir sekolah, memaksa Affan sedikit mengacuhkan Nura.

Hal ini yang sering memicu pertengkaran di antara mereka, sifat kekanak-kanakan Nura tak ayal bikin Affan emosi dan sedikit keras menghadapi Nura.

Bukannya menyadari, emosi Nura justru semakin menjadi-jadi. Nura berfikir kekasihnya sudah nggak sayang sama dia lagi, sedangkan Affan sendiri mulai bosan dengan omelan Nura yang tak beralasan.

Dia memilih diam jika Nura sudah mulai ngambek, sementara menghindar agar nggak terjadi perang dunia ke v dengan pacarnya.

Namun bagaimanapun Nura, dia tetap menjadi gadis bawel kesayangan Affan.
Terbukti sampai saat itu, Affan nggak pernah meninggalkan Nura dan mencari penggantinya.

”Ra, kok sendirian pagi ini?” tiba-tiba Uly mengejutkanya dari arah belakang, Uly adalah sahabat Nura satu-satunya.

”Iya, aku mau belajar mandiri biar nggak di katain mirip bayi gorila seperti tempo hari.”

”huahaha..!” Uly tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Nura.

”Siapapun orangnya, pasti juga akan menganggapmu demikian, ra?

Kamu ingat nggak, kamu hilang di keramaian pasar malam tempo hari. Kamu ketakutan dan terisak menangis sambil menelfonku minta di jemput.”

”Ah...! Siapapun juga bisa tersesat di keramaian seperti itu, apalagi aku kan baru pertama kali ke sana!”
Mukanya langsung masam.

”Emmm...! Kamu tau, Affan benar-benar berubah sekarang.” curhatnya pagi itu.

”Dia rajin nyuekin aku tau nggak? Mungkin dia udah punya gebetan baru, dulu dia selalu ada waktu buat aku, tapi kini hanya marah-marah mulu kerjanya tiap ketemu aku.” ocehan Nura panjang nggak ada putusnya seperti kereta api, membuat Uly pusing mendengarnya.

”Mungkin saja dia sibuk belajar, lagian tim basketnya kan sering ikut pertandingan?” Uly mencoba menenangkannya.

”Tapi setidaknya dia ngasi kabar kek ke aku, kalao lagi sibuk dan nggak mau di ganggu. Jangan seenaknya saja main ngilang, udah kek jelangkung aja! Dia nggak bisa menghargai perasaanku sama sekali!”
Mungkin putus lebih baik kali ya?

”Yakin nih..? Uly memicingkan matanya, air mukanya berubah serius mendengar ucapan terakhir Nura.

“Nggak yakin juga sih....!” Nura menghela nafas panjang.

                                                      ***

”Besok aku ulang tahun, pengennya di temani dia. Tapi, jangankan muncul di hadapanku pesannya aja nggak pernah aku dapati lagi memenuhi hp ku. Dia benar-benar semakin menjauh.” kali ini giliran diary nya yang menjadi sasaran untuk mencurahkan isi hati gadis itu.

”kalao tau begini, aku nggak akan bawel lagi supaya dia nyaman denganku! Kalao kayak gini, aku juga yang susah. Mana pake acara kangen segala.
Mau menghubunginya lebih dulu, akunya nggak berani, lagi” dia masih asik melanjutkan menulis kata demi kata di buku hariannya, sampai akhirnya terlelap ketiduran.

Keesokan paginya,

Dia terperanjat bangun, matanya terbelalak ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Berarti otomatis jam masuk kelas udah lewat 15menit.

”Hari ini aku kan jadi petugas pengibar bendera di upacara bendera senin ini, matilah aku.” dia terus menggerutu di sela-sela kesibukannya mempersiapkan buku pelajaran.

Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya dia langsung cabut dari rumah, berlari menuju ke halte.
Sialnya tak satupun bus yang lewat padahal sepuluh menit sudah dia berdiri di sana.

Keringatnya bercucuran, nafasnya tak beraturan. Bayangan hukuman dari pak Bagus, guru BP sekaligus wali kelasnya sudah menari-nari memenuhi pikirannya.

Degub jantungnya semakin kencang ketika jam tangannya menunjukkan pukul 08.00 WIB.

Puas hampir pingsan berdiri di sana, akhirnya bus yang di tunggu datang juga.

Tampaknya hari ini nasip sial benar-benar masih betah bersamanya.
Karena ada demonstrasi, jalan yang biasa di lewati bus yang mengantarkannya ke sekolah. Harus mengambil arus alternetif, agar bisa sampai di tempat tujuan.
Tentu saja hal ini memakan waktu beberapa menit lebih lama untuk sampai di sekolah.

Wajahnya tampak seperti mayat hidup, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya nggak kebayang lagi apa yang akan terjadi dengannya setelah sampai di sekolahan nanti.

Setelah turun dari bus, dia mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah. Dia tampak kebingungan, pagar di kunci dari luar.

Dari kejauhan terlihat tak ada aktivitas di sekolahan.

”Mungkinkah para siswa sudah pulang sekolah, apa aku tadi ketiduran di dalam bus?” dia bertanya-tanya dalam hati.

”Neng, ini kan hari libur. Kok eneng masuk sekolah” tegur abang becak yang parkir di sebelah gerbang sekolah.

Nura baru sadar kalao hari ini tanggal merah, pantas saja mamahnya nggak ngebangunin dia tadi.

”Apaa.........!” teriaknya histeris.
Matanya melotot, dia masih nggak percaya dengan ucapan yang baru saja di dengarnya.

”Oohh betapa pikunnya aku....!” ucapnya lirih, ”padahal aku sudah bersusah payah untuk sampai di sekolah, ternyta...?

Oh mamah, tolong anakmu...!”

Ping..! Ping..! Dua pesan masuk di BB nya.
Tertulis nama Affan di sana. BBM Affanitu berisi, meminta Nura hadir di pertandingan basket yang dia ikuti sore ini.

Setelah turun dari bus, langkahnya gontai menyusuri jalan menuju ke rumahnya.

                                                   ***

Di temani Uly sahabatnya, Nura pergi ke pertandingan basket sesuai permintaan Affan.

Sesampainya di sana, dia di buat kesal oleh pacarnya itu. Bukannya di sambut dengan hangat malah di cuekin dan  di bikin keder.

Affan tampak asik duduk berdekatan sama Cindy yang notabene adalah adik sepupunya.

Kedahsyatan Boom yang di rakit teroris, mungkin masih belum sebanding dengan ledakan marah Nura sore itu.

Bibirnya langsung manyun, air mukanya berubah menyeramkan.

Uly berusaha menenangkannya, untuk menahan diri jangan bikin keributan di tengah orang banyak.

Akhirnya mereka memilih duduk di kursi penonton. Puas Nura menggigit bibirnya menahan geram, akhirnya acara pertandingan selesai juga dan tim basket Affan juara pertamanya.

Sedikitpun wajah Nura nggak tampak turut gembira, waktu tim nasket pacarnya jadi juara utama.

Tiba-tiba,,

”Mohon perhatiannya sebentar teman-teman, jangan dulu meninggalkan tempat ini.“ suara affan terdengar lantang.

”Hari ini adalah hari ulang tahun gadis kesayanganku, mohon do’a nya agar dia menjadi lebih baik lagi ke depannya. Panjang umur dan sehat selalu tentunya!”

Gemuruh dan tepuk tangan penonton sore itu membuat Nura yang tadinya emosi jadi tersipu malu-malu.

Cindy membawa kue ulang tahun berjalan menuju tengah lapangan basket, Affan menjemput Nura dari kursi penonton lalu berjalan turun ke tengah lapangan.

”Maafkan kakak ya, bawel..!” ujarnya

Diamku, bukan untuk menjauhi dan berarti nggak perduli. Tapi memberimu kesempatan untuk belajar mandiri, supaya nggak terlalu tergantung sama orang-orang di sekitarmu.” lanjutnya.

”Happy birth day to you, my little angel.. I love you…!”

Gemuruh tepuk tangan kembali meramaikan acara surprise untuk Nura, sore itu.

Setelah meniup lilin, kecupan kecil di jidat Nura dari Affan, menjadi pelengkap kebahagiaan di ujung senja sore itu.

Selesai.

Selasa, 24 September 2013

Catatan kecilku

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.33 0 komentar

Kadang sibuk mengkritik, sibuk menyalahkan, sibuk ini itu yang sekiraranya nggak perlu di lakukan.
Sampai-sampai lupa bahwa kenyataannya diri sendiri nggak lebih baik dari orang lain.

Kenyataannya menggunjing lebih mudah, tapi ketika mencoba apa yang di anggap sepele ternyata luar biasa susah.

Setelah benar-benar tau dan menyadari, keknya nggak lagi-lagi dah sembarangan mengkritik orang!

Huft!!

Menempatkan diri pada posisi orang lain itu sangat penting, agar nggak banyak menuntut orang lain mengikuti kemaun pribadi.

Sekian,

Keyzia

Minggu, 22 September 2013

Menghela Nafas

Diposting oleh Rumah Kopi di 21.29 0 komentar
aku tak ingin di tinggalkan, jarak adalah temanku
menarik nafas di dalam jaring-jaring dusta
tlah ku habiskan sebagian besar hidupku, kendarai ombak bermain akrobat
bertinju dengan bayangan, belajar cara bereaksi
tlah ku habiskan sebagian besar hidupku

menarik nafas, merelakannya
menarik wajah ku demi pertunjukan
kini telah kau tau inilah hidupku, aku tak mau di beritahu apa yang harusnya aku lakukan
menarik nafas, tak kan kubiarkan mereka menghalangi ku
kini semuanya begitu sederhana

hati yang berat, kini berubah tanpa beban
kan ku habiskan sisa hidupku meluangkan waktu demi orang-orang yang menganggapku berharga dan yang aku anggap berharga!

tertawa keras dengan jendela yang terbuka, tinggalkan jejak kaki di seluruh penjuru kota
percaya bahwa karma akan terjadi, 
tak akan ku habiskan sisa hidupku untuk membenci dan marah-marah lagi


i don't want to be life behind, distance was a friend of mine
catching breath in web of lies
i've spent most of my life, riding waves playing acrobat
shadow boxing the other half, learning how to react
i've spent most of my time, catching my breath letting it go
turning my cheek for the sake of the show

now that you know this  my life, i won't be told what's supposed to be right
i ain't got time for that catching my breath won't let emget me down
it's all so simple now

keeping faith karma comes around 
i won't spend the rest of my life 

pada akhirnya melepaskan beban adalah akhir dari sebuah pilihan
ketika apa yang di upayakan tak kunjung mendapatkan sambutan

seperti seharusnya, 
jangan di sesali terlalu dalam karena semua akan menjadi sebuah masa lalu dan kenangan

berhenti melukis di atas air, 
simpan tenaga untuk memahat di atas kerasnya permukaan batu meski lelah hasilnya bisa terlihat 







 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting