Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2014

Belajar Menulis Cerpen

Diposting oleh Rumah Kopi di 13.19 0 komentar


                                                   MIE KUAH AJAIB                                                   
                                                             Oleh
                                                       Keyzia Chan

     Menangis sampai bola mataku keluar sekalipun tidak akan mengubah keadaan. Yang ada dalam pikiranku saat ini, dari mana aku bisa mendapatkan uang 79 juta dalam kurun waktu sehari semalam? Aku sudah berusaha menghubungi segenap kerabat yang ada. Hasilnya nihil. Sambil mengusap air mata, kupandangi selembar kertas yang diberikan suster sore tadi.
                                                                         *
     “Pencuri! Kembalikan obat-obatan itu!” Teriakan yang semula terdengar samar-samar tersebut kian jelas, kini. Ayah menghentikan aktivitasnya. Sekonyong berjalan ke luar dari kedai mie, siang itu. Aku mengekor ayah yang berpawakan kurus tersebut. Dari jarak yang tidak jauh tempatku berdiri, nampak bocah laki-laki dengan kepala pelontos berjalan mundur—keluar dari apotik. Di tangan bocah yang usianya terpaut beberapa tahun di atasku tersebut, terdapat sebotol obat serta beberapa lembar pil yang akan ia bawa begitu saja tanpa menukarnya dengan sejumlah uang. Wanita pemilik apotik terus menceracau. Tak ketinggalan tangannya menjorok-jorokkan kepala bocah sesaat setelah mengambil paksa barang dagangannya yang hampir berpindah tangan. 
     “Tunggu dulu!” teriak Ayah mencoba melerai. Raut muka ibu berambut keriting tersebut nampak berang. Sementara bocah itu terus menekuk wajahnya. Dari informasi yang disampaikan bocah itu, ayah mengetahui bahwa ibu si bocah sedang sakit. Tanpa bicara banyak, ayah merogoh kantong celananya. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Tentu saja beliau berniat membayar sejumlah obat itu.
     “Sayang, bawakan sebungkus mie kuah kemari. Cepat!” perintah ayah.
     Mulutku sedikit maju. Jelas aku kesal. Sudah tahu bocah itu berniat mencuri, ayah memperlakukaannya dengan baik. Entahlah! Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran ayah waktu itu. Bagiku pencuri tetaplah pencuri apapun alasannya kejahatan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan? Tentu saja aku tak berani menentang beliau. 
     Ayah memasukkan obat-obatan tersebut ke dalam kantong plastic yang terdapat sebungkus mie kuah di dalamnya. Detik berikutnya, bocah itu mengangkat wajahnya. Menatap ayahku lekat-lekat. Setelah menyambar barang yang diberikan padanya—ia lari tunggang langgang tanpa mengucapkan terima kasih. Aku semakin kesal melihatnya. Ayah merangkulku. Kami berdua berjalan beriringan kembali melanjutkan aktivitas siang itu.
                                                                           *  
    Matahari bersinar terik. Lalu lalang kendaraan, serta pejalan kaki yang melintas di depan kedai mie menimbulkan suara gaduh. Sesekali ayah terlihat mengusap peluh yang sedari tadi menetes—menggunakan handuk kecil yang menggantung di lehernya. Kedai mie yang dirilis ayah sejak beberapa puluh tahun lalu memang berada di tengah pasar. Tak ayal tempat kami senantiasa ramai pembeli. 
      “Ayah!” Aku memanggil beliau setengah berteriak sedetik setelah mataku memelototi siapa yang datang ke kedai kami siang itu. Ya, siang kesekian kalinya setelah kejadian beberapa waktu silam. Tahun demi tahun terus berlalu. Aku beranjak dewasa. Rambut ayahku kini sudah dipenuhi uban. Tubuh kurusnya semakin ringkih saja. Segala hal telah berubah. Tetapi kebiasaan baik ayah tidak pernah berganti. 
     “Ini makan siangmu. Pergilah!” ujar ayah pada pengemis yang bertandang ke kedai kami. Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, ayah yang berkulit coklat tua tersebut masih saja memedulikan pengunjung yang seperti itu. Tentu saja makanan tersebut, ayah berikan secara cuma-cuma. Aku sempat berpikir, mungkin hal inilah yang membuat usaha milik keluarga tidak pernah berkembang. Dalam benakku terbersit jawaban penyebab ibu meninggalkan kami sejak aku masih kecil. Bagi ayah, yang terpenting kami tidak kekurangan makan. Sedangkan berbagi dengan orang yang membutuhkan merupakan bagian hidup yang tidak boleh ditinggalkan. Mungkin saja waktu itu, ibu menganggap ayah berlebihan. Mengingat kondisi keuangan keluarga hanya pas-pasan.
     Aku melanjutkan aktivitas. Kuhela napas kasar sambil mencuci piring serta gelas kotor yang ada di hadapanku. Bunyi gedebum diikuti suara benda-benda yang berjatuhan  membuat perhatianku beralih, cepat. Detik itu juga kupalingkan wajah ke arah sumber suara. Mulutku terbuka lebar. Mataku terbelalak. Kulempar sembarang benda yang aku pegang tadi. Gegas aku mengampiri ayah yang tengah terkapar di lantai.
                                                                                                                                               
     Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani kasus ayah menyampaikan bahwa kondisi beliau kritis. Harus segera dilakukan operasi. Aku menuruti apa yang dokter sampaikan kendati tidak memiliki sejumlah uang untuk biaya operasi yang tentu saja jumlahnya cukup besar. Yang ada dalam hati, aku harus melakukan sesuatu yang terbaik untuk ayah. Sesaat setelah selesai membahas hal tersebut, dokter kembali bertandang ke ruangan di mana ayah di rawat. Dokter tersebut seperti berusaha mengingat sesuatu ketika sorot matanya menelusup ke wajah yang tengah tak sadarkan diri tersebut.
     Aku satu-satunya keluarga yang ayah miliki. Sehingga dapt dipastikan tidak ada seseorang pun yang bisa kuajak berbicara mengenai perihal yang terjadi pada beliau. Ditengah kemelut yang sedang menyelimutiku, saat aku dipaksa memikirkan masalah beserta solusinya dalam jeda waktu 24 jam, waktu menatap tubuh ayah yang terbaring tak sadarkan diri dengan belalai infuse di sebelahnya, serta alat bantu pernapasan yang bertengger di  sebagian wajah beliau—tidak ada pilihan lain aku harus menjual rumah kami secepatnya. Rumah sekaligus kedai mie milik keluarga.
     Bangsal rumah sakit nampak sepi ketika kakiku melangkah meninggalkan ruangan di mana ayah di rawat. Terlihat beberapa suster yang bertugas jaga malam, tengah sibuk keluar-masuk kamar pasien. Malam kian tua. Aku memutuskan untuk pulang mempersiapkan sertifikat rumah. Tak ada kendaraan umum yang beroperasi di malam hari selain tukang ojek dan becak. Lagi pula tidak tersisa sepeser uang pun, maka aku putuskan untuk berjalan kaki. Jarak antara rumah sakit dengan tempat tinggalku, lumayan jauh. Dan di antaranya terdapat bulak yang konon rawan terjadi tindak kriminal di sana. Aku sudah tidak peduli apapun kecuali melakukan sesuatu demi kelangsungan hidup ayah.
                                                                               *
     Hampir lima jam segenap tim dokter tengah berjuang menyelamatkan nyawa ayah, malam itu. Aku terus mondar-mandir menungguinya di luar. Mulutku komat-kamit merapal doa. Doa supaya nyawa ayah tertolong. Doa supaya rumah kami segera terjual. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Sementara air mataku seperti tak pernah kehabisan stok. Terus dan terus mengucur deras. Degub jantungku kian tak beraturan. Kuremas jemariku yang juga berkeingat. Sesekali menggigitnya untuk mengalihkan rasa gelisah yang hampir tidak dapat kukuasai.
     Tak kurang dari tujuh jam, peralatan medis menjelajah bagian tubuh ayah yang dibedah. Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, operasi itu berhasil. Ayah masih tidak sadarkan diri. Namun, masa kritisnya sudah lewat. Kubenamkan wajahku di samping ayah berbaring. Jiwa serta ragaku lelah. Doa terus kurapal karena bagaimanapun rumah belum terjual. 
     Tak tanggung-tanggung pagi itu sinar mentari begitu semangat memamerkan pesona kehangatannya. Aku yang terlelap di samping ayah, terjaga oleh getaran HP yang kutaruh di di sebelah. Satu pesan masuk tertulis di layarnya. Ck. Kuhela napas berat. Sms itu mengabarkan bahwa orang yang kemarin menawar rumah kami, mengurungkan niatnya. Tubuhku lemas seketika.
     Aku menaruh HP  itu. Mengusap wajah dengan ke dua tangan. Tunggu dulu. Kata hatiku sesaat setelah mendapati keberadaan selembar kertas. Ya, di sebelah ayah berbaring, terdapat secarik kertas. Aku gegas menyambarnya. Di atasnya tertulis seluruh biaya operasi serta perawatan ayah, lunas. Adalah dokter yang bertanggung jawab menangani kasus ayah tersebut, orang yang berbaik hati menanggung segala urusan kami. Di atas surat itu juga tertulis, segenap ucapan terima kasih atas kebaikan yang telah ayah lakukan 30 tahun silam. Tentang sejumlah obat-obtan serta sebungkus mie kuah yang pernah diberikan padanya. 
     Aku baru menyadari bahwa hidup adalah serangkaian sebab akibat yang terus berkesinambungan. Mie kuah yang ayah berikan secara cuma-cuma pada siapa pun yang tidak mampu membeli, memang ajaib. Di sana terselip doa yang baik bagi pemberinya yang tidak pernah mengharap apa-apa. Tak terkecuali ucapan terima kasih.
                                                                     Selesai 
    

Selasa, 03 Desember 2013

Terlambat Sudah

Diposting oleh Rumah Kopi di 05.19 0 komentar



Oleh



Keyzia Chan


Jika menangis, meratap bisa menyelesaikan masalah, mungkin Anisa Maharani dan semua penghuni bumi ini tak perlu susah payah mencari solusi. Ini bukan dongeng namun cerita nyata anak manusia. Tekanan dan penghinaan yang datang dari keluarga Reyhan, membuatnya bepikir nekat. Dia memutuskan pergi  ke suatu tempat yang jauh, meninggalkan keluarga serta kekasihnya tersebut.

***


”Mamah dan Kakak perempuanku ingin berkenalan denganmu, Ran. Sabtu malam aku akan membawamu bertemu mereka.“ ujar Reyhan lembut. ”Malam minggu ini, nggak ada jadwal pentas nari kan?” lanjut Reyhan meyakinkan.


” Iya, nggak ada jadwal tapi aku belum siap bertemu dengan keluargamu, Rey. Aku takut mereka...” Rani menghentikan ucapannya. Dalam benaknya sejuta kekhawatiran membuncah, bayangan penolakan keluarga kekasihnya itu tiba-tiba menghantui. Gadis berlesung pipit itu menghela napas kasar di depan Reyhan yang sedari tadi menggamiti jemarinya. Rey menatap retina gadisnya dengan tatapan penuh harap. Cowok berwajah oriental tersebut tidak memahami apa yag dirasakan Rani. Jarak di antara ke duanya bagaikan langit dan bumi. Itulah momok besar penghalang hubungan dua sejoli tersebut.


”Ayolah, sayang. Ku mohon, jangan takut karena aku akan selalu ada di sisihmu.” ucap Rey, kemudian dengan lembut cowok itu mencium jemari Rani.




Malam yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Pukul 19.00 WIB Rey menjemput Rani dengan mengendarai Toyoya Yaris warna hitam. Saat itu juga ke duanya berangkat ke kediaman keluarga Reyhan. Sesampainya di rumah berlantai dua nan mewah itu, mobil yang dikendarai Rey berhenti. Setelah memarkir mobilnya, cowok yang memiliki tinggi 180centi tersebut menggandeng tangan kekasihnya yang dingin dan berkeringat. Meskipun mengenakan blosh on namun pipi chuby Rani terlihat pucat.


Seorang wanita paruh baya nampak berjalan menuruni anak tangga. Sorot matanya tajam, tanpa senyum dia memandangi Rani dari kejauhan. Membuat nyali Rani semakin menciut. Rambut keriting sebahu dengan lipstick merah menyala adalah style yang melekat pada Mamah Rey. Setelah berdiri di hadapan Rani, akhirnya wanita itu tersenyum saat menjabat tangan calon menatunya itu, tentu saja senyum sinis tanda tak suka. Rani menggigit bibirnya kuat-kuat, nampaknya ada makluk lain yang tak kalah mengerikan dibanding Mamahnya Rey. Ya, dia adalah Malinda Indah. Kakak perempuan Rey. Tangan Rani semakin dingin, keringatnya membasahi kening sehingga poni kesayangannya itu nampak lepek. Sesudah semua hidangan selesai disajikn oleh pembantunya, mereka berempat bergegas menuju ruang makan. Tak ada canda tawa dan obrolan hangat menghiasi acara makan malam waktu itu.


”Jadi ini, gadis yang kamu pilih, Rey?” sorot mata Mamah Rey, bagaikan anak panah yang menghujam tepat di jatung Rani si anak seorang janda yang menjadi tukang jahit semenjak Rani bayi.


”Perbedaan antara kalian sungguh terlau jauh. Apa kata teman Mamah dan keluarga kita mengenai calon yang kamu pilih.” ujar Mamah Rey ketus, sambil mengerling ke arah Rani. ” Seorang pangeran Memeilih gadis kampung yang tak jelas asal usulnya.” lanjut Mamah Rey menghina terang-terangan di depan Rani.



***

Meski pun dengan berat hati, akhirnya Rey merelakan Rani untuk hijrah ke luar negeri sebagai perawat di panti jompo. Formosa adalah negara yang ia pilih. 

”Percayalah, Rey. Jarak nggak akan merubah kesetiaan dan cintaku padamu. Justru di sinilah semuanya diuji, jika kita mampu menjalani masa sulit ini maka tak ada lagi jarak di antara hatimu dan hatiku.” ujarnya sambil terisak waktu itu.

Saat ini dirinya sudah tinggal di Formosa. Rani adalah gadis manis yang tidak suka hura-hura. Kesempatan libur dua minggu sekali dia manfaatkan untuk mengasah kemampuannya menari. Tari tradisional lah yang ia kuasai. Gadis berhidung lancip itu sering tampil di acara yang diselenggarakan KDEI. Tak jarang dia didaulat menari di depan para Duta besar untuk memerkan salah satu tari tradisional yang dimiliki negara indonesia. Rani yang piawai menari sejak SD, tak ayal memukau para Dubes maupun para pejabat yang hadir pada event yang diselenggarakan.


Hampir dua tahun berjalan, tapi kelurga Rey masih tidak menyukai bahkan masih saja menolak mentah-mentah menerima Rani menjadi bagian dari anggota keluarga. Suatu hari tanpa sengaja Malinda membaca salah satu tabloit Ibu kota, menulis tentang perjuangan  BMI indonesia.  Bekerja di Taiwan, sekaligus berusaha memperkenalkan seni tari tradisional pada dunia. Dan sering menjuarai event yang diadakan di sana. Orang itu tak lain adalah Anisa Maharani. Dari situlah kesombongan keluarga Reyhan mulai terkikis. Mamah dan Kakak Reyhan sering menanyakan kabar gadis miskin itu pada putranya. Ini merupakan angin segar bagi ke dua sejoli tersebut. Nampaknya usaha Rani tidak sia-sia. Ribuan mil yang ditempuh kini mulai menghasilkan harapan kebahgiaan. Selaian mendapatkan modal finansial, beberapa penghargaan atas prestasinya. Akhirnya Rani memegang tiket untuk masuk ke dalam keluarga tersebut.




Jam menunjukkan pukul 10.45 WIB, namun Rey tak kunjung keluar kamar. Mamahnya nampak khawatir karena Rey belum pernah seperti ini sebelumnya. Wanita paruh baya tersebut bergegas menuju kamar putranya. Nampak sesosok bertubuh kurus meringkuk di dalam kamar mandi, terdapat bercak darah di lantai dan telapak tangan. Reyhan tidak sadarkan diri. Wanita berbadan gemuk itu berteriak memanggil Malinda yang tidak kalah terkejut melihat keadaan menyedihkan itu. Beberapa saat kemudian dengan mobil Ambulance, Rey dibawa menuju rumah sakit harapan kita. 



”Sebelumnya saya atas nama pribadi minta maaf, Bu Rusmi. Mungkin yang saya sampaikan adalah berita kurang baik” ujar dokter itu sesaat setelah memeriksa Rey yang tergeletak di ruang ICCU. ” tabahkan hati anda, Bu. Putra anda terkena liver akut dan prosentasi hidupnya sangat tipis.” ujar dokter itu lirih.


Kabar itu sampai di telinga Rani. Gadis itu! beringsut saat mendengar berita ini dari mamahnya Rey. Tubuh langsing gadis itu gemetaran. Sementara air matanya meleleh membasahi pipi mulusnya. Kembali lagi Rani diuji dan kali ini ujiannya luar biasa dahsyat. Kepalanya terasa berat bagaikan dihantam godem raksasa dan Rani pun terkulai tak sadarkan diri.


***

Kembali lagi hal sulit datang menghampiri Rani, susah payah dia mengajukan pemohonan cuti. Namun setelah mendapat izin, Gadis itu tidak diperkenankan meninggalkan Formosa karena TBC yang ia derita. Setelah menunggu 6bulan masa penyembuhan maka dia boleh meninggalkan Formosa.

Ya, Tuhan. Kuatkan hatiku dan beri kesempatan untuk bertemu dengan dia. Jeritnya dalam hati.

Siang itu Rani kembali mendapat kabar buruk bahwa kondisi Rey memburuk. Seperti menelan timah mendidih, dadanya terasa panas. Kali ini dia bersikeras untuk pulang ke indonesia dan usahanya berhasil karena 6bulan terakhir TBC itu mulai sembuh.


Tunggu aku, Rey. Ku akan pulang, maafkan keegoisanku telah meninggalkanmu pergi sejauh ini, sayang. Ujarnya lirih. Taxi yang ditumpanginya menuju rumah sakit, berjalan bak siput. ”Maklum, bukan Jakarta namanya jika tidak macet, Neng.” kata sopir taxi itu.


Gadis bermbut panjang itu berlari menyusuri koridor rumah sakit, dari kejauhan nampak Mamah dan Kakak Rey saling berpelukan. Rani memelankan langkahnya, dalam hatinya berkecamuk ketakutan yang luar biasa. Ah, tidak mungkin! Reyhan akan menungguku dia pasti baik-baik saja. Ia mencoba meyakinkan dirinya.

" Tante, Kak Linda. Bagaimana keadaan Rey?" tanyanya gelisah. Mamah Reyhan menghambur memeluk Rani dan menumpahkan tangisnya. Rani semakin bingung dibuatnya.

Sesaat kemudian suster keluar mendorong ranjang tempat Rey berbaring. Selimut bertuliskan Rumah Sakit Harapan Kita nampak menutupi seluruh bagian tubuh dari ujung kaki sampai menutup bagian muka lelaki muda yang Rani kasihi.



Gerimis tipis mengiringi pemakaman siang itu. Semua yang hadir kepemakaman Reyhan, sudah pergi meninggalkan tempat itu. Tinggal Rani seorang diri duduk bersimpuh dan memegangi batu nisan. 


"Sudahlah, tak ada yang bisa kamu lakukan di sini." suara itu sontak mengejutkan gadis berkerudung hitam tersebut. 


" Aaaaa... Reyhan...!" teriaknya, kembali terkejut melihat sesosok yang dia cintai berdiri di depannya. Rani berjalan mundur ketakutan. Sambil tersenyum cowok tampan itu mengulurkan tangan seraya berkata " Jangan takut, aku bukan hantu. Perkenalkan namaku Revan, saudara kembar Reyhan yang diasuh Om dan Tante sejak bayi." 

Kehadiran Revan sangat berarti untuk memulihkan semangat Rani. Di awal tahun mereka memutuskan menikah setelah 2tahun menjalin kasih.



Selesai



Sabtu, 28 September 2013

Senja Sore Itu

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.58 0 komentar

Oleh

Keyzia kencana

Cinta itu seperti warna langit yang tak selamanya sama, kadang berwarna biru, kadang jingga, dan kadang menghitam pekat. Cinta bisa mematikan juga bisa menghidupkan, semua tergantung bagaimana menjalaninya.

Gubraakk....!
Suara pintu di tutup dengan kencang. Kemudian terdengar suara isak tangis dari dalam kamar. Dia adalah Nura gadis yang sudah duduk di bangku kelas l SMA, tapi kelakuannya satu level dengan anak SD. Pembawaanya selalu ceria, tapi di imbangi dengan  cengeng yang luar biasa.

Sejurus kemudian mamahnya masuk ke dalam kamar ” kamu kenapa lagi, pulang sekolah bukannya makan malah nyanyi”, canda mamahnya yang berusaha mecairkan suasana sambil memungut tisue yang berserakan di lantai.

”Bangun, cuci muka ganti baju lalu mamah tunggu di meja makan.”

”Nura nggak mau makan, biarin Nura sakit.”

”Eh, anak mamah kok ngomongnya kayak gitu, siapa yang ngajarin?
Mamah nggak akan ngulangi apa yang barusan mamah perintahkan, Nura sendiri janji mau berubah untuk nggak manja lagi kan?”
Setelah mengucapkan kata itu, mamah keluar dari kamar.

Nura masih terisak-isak, ucapan Affan tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinganya. Tak hanya membuatnya sedih, tapi juga malu karena di bentak-bentak di depan banyak orang. Apalagi Cindy saingan berat Nura ada di sana, di kantin tempat Affan dan Nura berselisih tegang.

Setelah cuci muka dan ganti baju, gadis berhidung mancung itu melangkah menuju meja makan. Wajahnya masih cemberut, mata sipitnya kelihatan tampak aneh seperti habis di tonjokin bajak laut. Bengkak dan merah.

“Kalao ada masalah, jangan langsung di sikapi dengan emosi. Cobalah tenangkan hatimu, cerna baik-baik ucapan yang masuk dan ambil positifnya.” ujar mamahnya  yang sudah menunggunya di meja makan dari tadi.

”Coba cerita sama mamah, ada apa? Mamah akan mencoba menengahi dan akan besikap obyektif, tidak memihak siapa-siapa. Pasti berantem lagi sama kak Affannya, kan?”

Nura mulai bercerita sambil makan siang bersama mamahnya.

        
                                                       ***

Pagi itu nggak seperti biasanya, Nura berangkat seorang diri ke sekolah. Affan pacar sekaligus bodyguard pribadinya, nggak datang menjemputnya.

Selama ini apapun yang Nura inginkan, Affan berusaha menurutinya. Namun omelan-omelan yang panjang kali lebar selalu meluncur dari bibir pacarnya itu jika sedikit saja Affan keliru.

Cemburu itu boleh tapi jika tanpa dasar yang kuat, bisa jadi boomerang dalam suatu hubungan.

Manusia nggak mungkin selamanya sama, jika ada perubahan asal masih dalam taraf wajar harusnya bisa saling menyesuaikan.

Akhir-akhir ini Affan jarang ada waktu untuk Nura, kesibukannya dengan tim basket dan persiapan menghadapi ujian akhir sekolah, memaksa Affan sedikit mengacuhkan Nura.

Hal ini yang sering memicu pertengkaran di antara mereka, sifat kekanak-kanakan Nura tak ayal bikin Affan emosi dan sedikit keras menghadapi Nura.

Bukannya menyadari, emosi Nura justru semakin menjadi-jadi. Nura berfikir kekasihnya sudah nggak sayang sama dia lagi, sedangkan Affan sendiri mulai bosan dengan omelan Nura yang tak beralasan.

Dia memilih diam jika Nura sudah mulai ngambek, sementara menghindar agar nggak terjadi perang dunia ke v dengan pacarnya.

Namun bagaimanapun Nura, dia tetap menjadi gadis bawel kesayangan Affan.
Terbukti sampai saat itu, Affan nggak pernah meninggalkan Nura dan mencari penggantinya.

”Ra, kok sendirian pagi ini?” tiba-tiba Uly mengejutkanya dari arah belakang, Uly adalah sahabat Nura satu-satunya.

”Iya, aku mau belajar mandiri biar nggak di katain mirip bayi gorila seperti tempo hari.”

”huahaha..!” Uly tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Nura.

”Siapapun orangnya, pasti juga akan menganggapmu demikian, ra?

Kamu ingat nggak, kamu hilang di keramaian pasar malam tempo hari. Kamu ketakutan dan terisak menangis sambil menelfonku minta di jemput.”

”Ah...! Siapapun juga bisa tersesat di keramaian seperti itu, apalagi aku kan baru pertama kali ke sana!”
Mukanya langsung masam.

”Emmm...! Kamu tau, Affan benar-benar berubah sekarang.” curhatnya pagi itu.

”Dia rajin nyuekin aku tau nggak? Mungkin dia udah punya gebetan baru, dulu dia selalu ada waktu buat aku, tapi kini hanya marah-marah mulu kerjanya tiap ketemu aku.” ocehan Nura panjang nggak ada putusnya seperti kereta api, membuat Uly pusing mendengarnya.

”Mungkin saja dia sibuk belajar, lagian tim basketnya kan sering ikut pertandingan?” Uly mencoba menenangkannya.

”Tapi setidaknya dia ngasi kabar kek ke aku, kalao lagi sibuk dan nggak mau di ganggu. Jangan seenaknya saja main ngilang, udah kek jelangkung aja! Dia nggak bisa menghargai perasaanku sama sekali!”
Mungkin putus lebih baik kali ya?

”Yakin nih..? Uly memicingkan matanya, air mukanya berubah serius mendengar ucapan terakhir Nura.

“Nggak yakin juga sih....!” Nura menghela nafas panjang.

                                                      ***

”Besok aku ulang tahun, pengennya di temani dia. Tapi, jangankan muncul di hadapanku pesannya aja nggak pernah aku dapati lagi memenuhi hp ku. Dia benar-benar semakin menjauh.” kali ini giliran diary nya yang menjadi sasaran untuk mencurahkan isi hati gadis itu.

”kalao tau begini, aku nggak akan bawel lagi supaya dia nyaman denganku! Kalao kayak gini, aku juga yang susah. Mana pake acara kangen segala.
Mau menghubunginya lebih dulu, akunya nggak berani, lagi” dia masih asik melanjutkan menulis kata demi kata di buku hariannya, sampai akhirnya terlelap ketiduran.

Keesokan paginya,

Dia terperanjat bangun, matanya terbelalak ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Berarti otomatis jam masuk kelas udah lewat 15menit.

”Hari ini aku kan jadi petugas pengibar bendera di upacara bendera senin ini, matilah aku.” dia terus menggerutu di sela-sela kesibukannya mempersiapkan buku pelajaran.

Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya dia langsung cabut dari rumah, berlari menuju ke halte.
Sialnya tak satupun bus yang lewat padahal sepuluh menit sudah dia berdiri di sana.

Keringatnya bercucuran, nafasnya tak beraturan. Bayangan hukuman dari pak Bagus, guru BP sekaligus wali kelasnya sudah menari-nari memenuhi pikirannya.

Degub jantungnya semakin kencang ketika jam tangannya menunjukkan pukul 08.00 WIB.

Puas hampir pingsan berdiri di sana, akhirnya bus yang di tunggu datang juga.

Tampaknya hari ini nasip sial benar-benar masih betah bersamanya.
Karena ada demonstrasi, jalan yang biasa di lewati bus yang mengantarkannya ke sekolah. Harus mengambil arus alternetif, agar bisa sampai di tempat tujuan.
Tentu saja hal ini memakan waktu beberapa menit lebih lama untuk sampai di sekolah.

Wajahnya tampak seperti mayat hidup, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya nggak kebayang lagi apa yang akan terjadi dengannya setelah sampai di sekolahan nanti.

Setelah turun dari bus, dia mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah. Dia tampak kebingungan, pagar di kunci dari luar.

Dari kejauhan terlihat tak ada aktivitas di sekolahan.

”Mungkinkah para siswa sudah pulang sekolah, apa aku tadi ketiduran di dalam bus?” dia bertanya-tanya dalam hati.

”Neng, ini kan hari libur. Kok eneng masuk sekolah” tegur abang becak yang parkir di sebelah gerbang sekolah.

Nura baru sadar kalao hari ini tanggal merah, pantas saja mamahnya nggak ngebangunin dia tadi.

”Apaa.........!” teriaknya histeris.
Matanya melotot, dia masih nggak percaya dengan ucapan yang baru saja di dengarnya.

”Oohh betapa pikunnya aku....!” ucapnya lirih, ”padahal aku sudah bersusah payah untuk sampai di sekolah, ternyta...?

Oh mamah, tolong anakmu...!”

Ping..! Ping..! Dua pesan masuk di BB nya.
Tertulis nama Affan di sana. BBM Affanitu berisi, meminta Nura hadir di pertandingan basket yang dia ikuti sore ini.

Setelah turun dari bus, langkahnya gontai menyusuri jalan menuju ke rumahnya.

                                                   ***

Di temani Uly sahabatnya, Nura pergi ke pertandingan basket sesuai permintaan Affan.

Sesampainya di sana, dia di buat kesal oleh pacarnya itu. Bukannya di sambut dengan hangat malah di cuekin dan  di bikin keder.

Affan tampak asik duduk berdekatan sama Cindy yang notabene adalah adik sepupunya.

Kedahsyatan Boom yang di rakit teroris, mungkin masih belum sebanding dengan ledakan marah Nura sore itu.

Bibirnya langsung manyun, air mukanya berubah menyeramkan.

Uly berusaha menenangkannya, untuk menahan diri jangan bikin keributan di tengah orang banyak.

Akhirnya mereka memilih duduk di kursi penonton. Puas Nura menggigit bibirnya menahan geram, akhirnya acara pertandingan selesai juga dan tim basket Affan juara pertamanya.

Sedikitpun wajah Nura nggak tampak turut gembira, waktu tim nasket pacarnya jadi juara utama.

Tiba-tiba,,

”Mohon perhatiannya sebentar teman-teman, jangan dulu meninggalkan tempat ini.“ suara affan terdengar lantang.

”Hari ini adalah hari ulang tahun gadis kesayanganku, mohon do’a nya agar dia menjadi lebih baik lagi ke depannya. Panjang umur dan sehat selalu tentunya!”

Gemuruh dan tepuk tangan penonton sore itu membuat Nura yang tadinya emosi jadi tersipu malu-malu.

Cindy membawa kue ulang tahun berjalan menuju tengah lapangan basket, Affan menjemput Nura dari kursi penonton lalu berjalan turun ke tengah lapangan.

”Maafkan kakak ya, bawel..!” ujarnya

Diamku, bukan untuk menjauhi dan berarti nggak perduli. Tapi memberimu kesempatan untuk belajar mandiri, supaya nggak terlalu tergantung sama orang-orang di sekitarmu.” lanjutnya.

”Happy birth day to you, my little angel.. I love you…!”

Gemuruh tepuk tangan kembali meramaikan acara surprise untuk Nura, sore itu.

Setelah meniup lilin, kecupan kecil di jidat Nura dari Affan, menjadi pelengkap kebahagiaan di ujung senja sore itu.

Selesai.

Sabtu, 21 September 2013

Sepenggal Cerita Cinta

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.22 0 komentar

Oleh 

Keyzia Chan 

Aku tidak pernah berniat melupakannya, kenangan tentang dia biar tersimpan rapi dalam hatiku. Meskipun tidak bisa lagi menyentuh raganya, tapi jiwanya masih selalu bersamaku.

Ku sandarkan kepala di pinngir jendela, mataku menerawang jauh memandang derasnya hujan yang turun sore itu. Setiap kali aku mengingatnya,  tidak terasa air mata ini jatuh membasahi pipi.Memoryku kembali ke peristiwa lima tahun silam. Minggu pagi itu seharusnya menjadi hari bahagia, malah berubah menjadi hari na’as pembawa malapetaka.

                                                                    ***

Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, aku hendak liburan ke puncak bersama Rizky kekasihku. Kami sengaja berangkat pagi karena ingin menikmati sejuknya udara pegunungan yang bebas dari hiruk pikuk aktivitas kota, bebas asap kendaraan bermotor serta kepulan asap pabrik. Hari ini cuaca sangat bersahabat, mentari bersinar cerah.
Hangatnya menyentuh permukaan kulit.
Hamparan kebun teh yang meghijau bak permadani yang menyelimuti bumi.
Aku begitu menikmati perjalanan itu. Rizky juga tampak bahagia, terlihat dari senyumnya yang terus mengembang di sepanjang jalan.
Lagu romantis kesukaan kami mengiringi perjalanan ke puncak pagi itu.

Hari ini setahun kami jadian dan berniat merayakannya berdua di villa milik orang tua Rizky.
Rizky cowok yang baik, dewasa dan sabar.
Perhatian dan kasih sayangnya membuatku tidak pernah mampu berpaling darinya.
Walaupun di kampus banyak cowok lain yang berusaha mendekatiku, tapi tidak ada yang bisa menggeser ke dudukan dia di hatiku.

Aku belum pernah sesetia ini sebelumnya. Kulit putih, hidung mancung, bentuk bibir yang sensual adalah ciri fisik yang ada padaku. Aku tidak menyia-nyiakan  anugerah Tuhan.
Rajin gonta-ganti cowok adalah hobbyku. Rasa mudah bosan mendorongku untuk selalu mendapatkan gebetan baru. Kehadiran Rizky mampu merubah segalanya.
Dia dengan segala pesonanya mampu mengikat hatiku untuk khusuk pada satu cinta dari dirinya.

Namun tidak ada gading yang tidak retak. Di dunia ini setiap manusia pasti punya masalah dalam hidupnya.
Begitupun dengan cerita cintaku bersama Rizky.

Sebenarnya dia sudah dijodohkan, bahkan setatusnya adalah tunangan orang. Sampai ketika Namira tunangan Rizky selingkuh.
Dia memilih menjalin hubungan dengan seorang yang lebih kaya dari Rizky yang hanya seorang mahasiswa.
Semenjak itu Rizky mulai mendekati dan akhirnya menjalin hubungan denganku. Tapi dihadapan  kelurganya Rizky dan Namira tidak pernah bercerita tentang keadaan hubungan mereka yang sudah retak.

Aku pun tidak pernah mendesak Rizky untuk segera membersihkan setatusnya dari seorang tunangan Namira.
Biarkan waktu dan keadaan yang membuka semua tabir ini. Yang terpenting dari ini semua,  Rizky selalu sayang padaku, bagiku itu sudah lebih dari cukup.

”Hari ini kamu kelihatan cantik sekali, Dania...!“ tiba-tiba suara Rizky membuyarkan lamunanku.

”Kalao aku nggak cantik, kamu nggak bakal mau jadi pacarku!” timpalku.

”Paling-paling aku hanya jadi penggemar rahasia yang setia mengikuti jadwal acaramu.
Ngintip dari balik buku, senyum malu-malu ketika kamu menabrakku waktu kita berpapasan, padahal aku memang sengaja menabrakkan diri lo, buat nyuri perhatian kamu.” lanjutku sambil tertawa.

”Hahaha...! Kamu paling bisa bikin aku tertawa, sekarang kamu bukan hanya berhasil mencuri perhatianku tapi seluruh isi hatiku.” ujarnya diiringi senyum manis sambil sesekali melirik ke arahku.

”Aku ingin selalu menjagamu, menyayangi dan mendampingimu menjadi wanita terhebat.
Nanti jika aku nggak ada di sampingmu lagi, kamu nggak boleh sembarangan menjatuhkan cintamu pada orang yang hanya memuja fisikmu. Kamu harus pandai menjaga diri, aku akan selalu ada di setiap hembusan udara yang kamu hirup.” ucapan Rizky panjang lebar membuatku tercengang.

Aku memicingkan mata ke arahnya. Kupandangi dia puas-puas karena ucapannya barusan sangat aneh.
Reflek sekujur tubuhku merinding mendengarnya, tapi aku tidak merasakan firasat apa-apa.

Kuulurkan tangan kiriku dan mencoba menyentuh keningnya.
”Padahal kamu nggak lagi demam lo, kok tiba-tiba ngomongnya ngaco.
Kamu nggak akan pergi, aku nggak akan mengijinkan kamu menjauh dariku barang sejengkalpun, Riz.”
ucapku.

                                                                                    ***

Sesampainya di villa, aku menghambur keluar dari mobil.
Lari kecil kesana kemari bagaikan anak ayam yang lepas dari kandang.

”Wooow...! Indahnya pemandangan di bawah sana..! Rizky cepat kesini.” triakku sambil melihat-lihat pemandangan yang memang jarang aku temui sebelumnya.
Maklum di Jakarta mana ada tempat yang seperti ini.
Puas jalan-jalan sekeliling villa membuatku lelah. Matahari tidak ramah lagi, bukannya menghangatkan tapi sinarnya mulai membakar permukaan kulit.

Ku lihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB pantas saja perutku keroncongan,
sebab tadi pagi aku tidak sempat sarapan.

”Biar aku yang masak buat kamu sayang, kamu mandi gih biar segeran. Dari tadi asik lompat kesana kemari, liat tuh peluh kamu bercucuran seperti habis main bola aja..!” ujar Rizky sambil mempersiapkan sayur yang akan di masak siang itu.

Deg! Deg! Deg..!

Kenapa sikap Rizky aneh sekali, dia memang selalu baik dan perhatian denganku.

Tapi...

Jantungku tiba-tiba berdebar-debar, bukannya bahagia karena di layani seperti putri tapi entah kenapa aku merasa takut kehilangan cowok yang sedang sibuk di dapur itu.

Aku melangkah menghampirinya yang membelakangiku, kemudian memeluk tubuhnya dari belakang.
Ku tenggelamkan wajahku di punggungnya.
Aroma parfum ini, wangi tubuh ini..sungguh aku tidak mau kehilangannya.

Aku mengasihinya, aku mencintainya sepenuh hatiku.

Siang itu perasaanku tidak menentu, entah kenapa aku tidak mau jauh-jauh darinya.
Setelah mandi dan selesei makan kami tiduran di atas karpet permadani di depan tivi.

Aku berbaring di sampingnya beralaskan lengannya, wajahku menghadap ke dadanya. Tangannya membelai lembut rambutku sesekali kecupan mesra mendarat di keningku.

Rasanya ingin tidur, tapi aku takut ketika terlelap tidak bisa lagi melihatnya. Merasakan detak jantungnya.

“Rizky..! Rizky...! Keluaaarr..! Aku tau kamu berada di dalam bersama gadis manja itu!”
Tiba-tiba kami di kagetkan suara gaduh seorang wanita,  yang berteriak memanggil serta menggedor pintu villa.

Kami terperanjat bangun dan berlari menuju pintu. Namira berdiri di sana, dia menyelonong masuk tanpa di suruh.
Aku tidak heran kalao dia juga tau tempat ini, secara dia adalah mantan tunangan Rizky.

”Apa yang kamu lakukan di sini, ha..? Oh...jadi gadis kecil ini yang membuatmu berani berpaling dariku.” celoteh Namira.

Ocehan demi ocehan ngelanturnya membuatku mulai gerah, lipstick warna metalic yang tebal, eye shadow warna gotic membuat wajah judesnya jadi semakin tampak menyeramkan.

Permen karet yang terus di kunyah di sela-sela ocehanya, rok mini serta jacket kulit warna hitam yang membalut tubuhnya membuat dia persis seperti preman.

Bibirku serasa mau putus karena terus kugigit kuat-kuat menahan luapan amarah. Kata demi kata yang dia lontarkan memancing emosiku. Ingin rasanya aku lempar asbak ke arah muka judesnya,  geram sekali aku di buatnya.

”Kamu mabuk ya...! Bukannya kamu yang memilih bos kaya raya itu dari pada aku?
Kamu yang lebih dulu merusak hubungan tunangan ini, sekarang kamu memutar balikkan fakta seolah aku yang bermain gila.” triak Rizky pada mantan tunangannya tersebut.

”Aku hanya ingin membuatmu cemburu, aku nggak bermaksud menjalin hubungan serius denganya, Riz...!” Namira mencoba meyakinkan kekasihku.

”Aku nggak mau kehilanganmu dan nggak rela gadis menyebalkan itu mencuri hatimu.
Aku ingin kita baikan lagi Riz..!” Ujarnya diringi isak tangis.

Namira membuatku muak....berani sekali dia menghujatku, padahal aku sama sekali tidak menyalahi dia.

”Kamu pikir aku bodoh...! Aku tau bos itu sekarang jatuh miskin, makanya kamu kembali mencariku.” Rizky kembali berbicara dengan nada tinggi.

”Aku tau kamu sudah pernah hamil dengan laki-laki itu bukan? Akhirnya kamu mengaborsi bayi yang nggak berdosa itu demi menutupi aibmu!” lanjutnya.

“Itu fitnah, semua nggak benar...! Aku, aku mana mungkin berbuat senekat itu? Kamu jangan percaya hasutan dia!” Sangkal wanita judes tersebut.

Kembali Namira memancing emosiku, dengan menunjuk ke arahku serta mengkambing hitamkan diriku.
Tanganku meraih vas bunga yang ada di atas meja ruang tamu.
Rasanya kali ini sudah tidak tahan lagi! Ingin aku memberi pelajaran padanya.
Belum sempat aku melakuknya, Rizky meraih pinggangku dan menahanku melakukannya.

”Mira, kamu pergi saja! Di antara kita sudah nggak ada yang bisa di pertahankan. Farah sahabat karibmu sudah menceritakan semua padaku. Jadi kamu nggak perlu repot berkhotbah di depanku”
Pergiii kataku..! Atau aku seret dan melempar kamu keluar dari sini!” emosi Rizky mulai memuncak, dan aku melihat Namira mengeluarkan sesuatu dari dalam tas LV nya.

Oh Tuhan, dia membawa pistol dan mengacungkannya ke arah kami.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku.
Kakiku serasa lemas tak bertulang.

”Jika aku nggak mendapatkanmu kembali, maka gadis kecil itu juga nggak berhak memilikimu!“
Hardik Namira. Tatapan tajamnya membuat syarafku mati rasa.

Kali ini aku benar-benar kaku di buatnya. Dia mengarahkan pistol ke arahku. Jantungku serasa berhenti berdetak meskipun belum di tembak.
Aku mematung di tempat yang sama, tubuhku tak bergerak dan bibirkupun kelu.

“Mira, kamu jangan gila! Kamu bisa di penjara, kamu masih muda masih banyak laki-laki yang lebih baik dariku!” ucap Rizky mencoba menenangkan Namira.

”Diam kamu Rizky..! Atau kamu juga aku tembak biar nggak ada yang bisa memilikumu!”
Kita bertiga mati di sini, kita bertiga nggak ada yang saling memiliki.”

Tiba-tiba suara Namira terdengar pilu, hardikannya yang tadi sadis kini berubah menjadi tangisan sendu.
Entah apa yang terjadi dengannya?
Akupun terbawa perasaan dan bermaksud menenangkanya, aku melangkah mendekati Namira. Tapi apa yang terjadi?

Dia kembali mengacungkan senjatanya ke arahku, tiba-tiba suara ledakan keras seperti petasan keluar dari pistol itu.

Tubuhku terpental jauh, seperti ada benda keras yang menghantam kepalaku kemudian aku tidak  ingat apa-apa lagi.

Aku tidak tau berapa lama pingsan. Ketika membuka mata aku mendapati tubuh ini berbaring di atas ranjang kamarku.
Mamah duduk di sampingku memegangi tangan serta tak henti mengusap keningku sambil menangis tersedu.

Aku meraba kepalaku yang terasa berat sambil mencoba mengingat apa yang terjadi.

”Rizky di mana mah..?” suaraku terdengar lirih.
Aku mencoba mencari tau keberadaan kekasihku, mamah hanya menangis sambil memeluk tubuhku.
Aku terus histeris dan bertanya pada mamah.

Mamah bercerita bahwa Rizky menghembuskan nafasnya beberapa jam setelah peluru yang di tembakkan Namira berhasil menembus jantungnya.
Dia meninggal, operasi yang di lakukan oleh tim dokter tidak mampu menyelamatkan nyawanya.

Pelan-pelan aku mulai mengingat kejadian itu.
Seingatku Namira hendak menembakku, lalu Rizky mendorong tubuhku kuat-kuat sampai aku berhasil terhindar dari bidikan senjata api tersebut.

Oh  Tuhan..!
Rizky menyelamatkanku dan mengorbankan nyawanya sendiri.

Aku tidak yakin Rizky secepat itu meninggalkanku.

Bagaikan tersambar petir mendengar apa yang mamah tuturkan padaku.

”Nggak mungkin, mah...! Ini semua nggak benarkan, mah...?” triaku histeris berusaha menyangkal kenyataan ini.
Tiba-tiba aku merasa ada kekuatan besar yang menindih dadaku, rasanya nafasku sesak sekali. Lalu aku kembali tak sadarkan diri.

                                                                                                             

                                                                               ***

Namira mencoba bunuh diri setelah mengetahui mantan tunangannya tak bernyawa lagi di tangannya. Namun usahanya berhasil di gagalkan oleh penjaga villa. Suara gaduh dari dalam vila membawa langkah penjaga tersebut masuk untuk memeriksa apa yang terjadi?

Mang Udin mendorong tubuh Namira ketika dia mengarahkan pistol kekepalanya sendiri. Peluru berhasil lepas dari dalam pistol, tapi meleset dan hanya melukai pelipis kanannya.

Akibat terbukti melakukan pembunuhan berencana, Namira di jebloskan ke dalam jeruji besi dan di jatuhi hukuman mati.

Sungguh tragis kenyataan ini. Aku masih tidak percaya, ini bagaikan mimpi buruk.

Tapi inilah kenyataan menyedihkan yang harus aku alami.

Mungkin aku bisa merubah cinta Rizky ke Namira beralih kepadaku.

Tapi aku tidak mampu merubah takdir dari Tuhan atas nasipku.

Selesai

Kamis, 29 Agustus 2013

Hapus Air Mataku Dengan Jari-Jari Mu

Diposting oleh Rumah Kopi di 06.34 0 komentar

         
             ”Subuhan dulu chayank” pagi ku selalu di kejutkan suara nada dering dari ponsel ku,tanda pesan masuk darimu yang membangunkan aku untuk melaksanakn kewajiban bersujud pada Tuhan.
Hari ini hari ke empat aku tak mendengar suara mu semenjak pertengkaran minggu itu. Engkau tau itu rasanya seperti di gigit ribuan semut kecil tepat di bagian yang paling sakit yang ada dalam tubuhku.
Setiap pagi ketika aku membuka mata,aku mencari-cari handphone, dan ketika tak ku dapati pesan mu yang tertulis di layar monitor hp ku,saat itu aku lemas. Tulang-tulangku seperti tercabut dari balutan daging pada sekujur tubuhku.
Jika kamu anggap ini berlebihan,ya seperti itulah gambaran cintaku padamu sangat berlebihan.
           
             ”Benarkah aku sudah kehilangan mu mas?” (gumamku dalam hati)
Jika kesalahan ku kali ini tak lagi bisa membuatmu berniat melanjutkan menemani setiap malam-malamku, menyemangati hari-hari ku, mengingatkan ku tentang ini itu, lalu salahkah jika aku bertanya sebenci itukah kamu padaku?
Tidakkah kamu ingat kembali salah satu senyummu dulu berasal dari Dede mu ini mas...?
Mungkin aku terlalu fokus padamu, sehingga setiap kali mengingat masa bahagia bersama tak terasa air mataku kembali membasahi pipi.
Subuh ini selesei mengerjakan petintah Tuhan yang selalu kamu ajarkan, aku bersiap menerobos rintik rintik hujan yang mengguyur setiap jalan menuju rumah sakit untuk mengambil obat-obatan.
             
            ”Dede tak cantik lagi mas..”( kataku dalam hati ketika nenatap wajah ku sendiri di cermin )
Senyumku tak lagi mengembang, mataku sayuku berubah menjadi mata kodok yang segede batok.
Dede masih dan terus berdo’a agar Tuhan membawamu kembali, di kamarku bercanda  tersenyum dan kadang tersipu malu ketika kamu memujiku.
Di sana di tempat kita menghabiskan waktu bersama, di setiap malam yang sering di hiasi ribut kecil dariku yang berebut perhatian dengan layar laptopmu.
Tempatmu berekspresi lewat foto dan editan hasil karyamu. Aku cemburu karena mas lebih banyak mengarahkan pandangan ke dia lcd dari pada ke wajah ku yang berseri karena setiap malam selalu mas temani.

              ”Mas berangkat kerja ya chayank...Dede jangan nakal,jangan lupa shalat,Assalamualaikum”
Pesan itu kiriman kedua ketika pagi tiba, dan itu selalu kamu lakukan setiap hari sebelum kerja.
Jika tak kamu lakukan,siap-siap saja pulang kerja terima omelan.
Itulah aku dan kamu.
kamu yang baik,pema’af,dewasa,selalu perhatian dan aku yang bawel manja dan rajin mengulangi kesalahan.
Yapp!! Kali ini aku tak ingat lagi kesalahan ku yang ke berapa kali,sehingga kamu lelah dan berlalu pergi meninggalkanku tanpa ma’af yang terucap!!
Kamu pergi bukan karena tak sayang lagi,tapi karena lelah menghadapi sikap ku yang rajin marah marah padamu setiap hari.

            Ma’afin Dede mas...!! Dede yang salah ( ucapku lirih di sela-sela tangis hati yang perih )
Ku coba redakan relung hati,bayangmu yang berlalu pergi terlukis di dalam kenangan bebas bermain di hatiku.
Cerita masa lalu, cerita kau dan aku kini tinggal kenangan kau ada di dalam hati ku
Harus nyatakan ku biarkan engkau pergi, membuatku terpuruk dan rasanya aku sudah tak ingin mengkonsumsi obat-obatan lagi. Obat penahan nyeri sakit kepala yang sering aku alami, serta obat penguat jantung lemah yang aku derita selama ini.
Tuhan beritahu aku, derita yang menjerat ini kapankah akan berakhir hanya dia yang mampu taklukkan hatiku!!
Tuhan bawa dia kembali pada ku ya..
Langit yang mendung seperti mewakili hatiku yang sedang berkabung, hujan yang turun adalah gambaran air mata ku yang sedih menangisi kepergian mu karena sikap buruk ku.

***

Ku tulis sepenggal harapan terakhirku untuk mu mas..

tak kan pernah aku menyerah,walau harus terpisah ruang,terlukis dalam mimpi , tertulis dalam hayal tetap aku tunjuk setia
biar hujan yang turun membasahi jiwa ini,ku tetap setia menanti dirimu

biar waktu terus berlalu hati tak kan pernah berhenti mendengarkan lagu mu membaca puisi mu selamanya aku rindu

karena cinta ku sanggup mematahkan sepi ku sanggup menunggu hadirmu walaupun harus menunggu seumur hidup

Maaf..Maaf...dan hanya penyesalan dan maaf yang kini menyelimuti setiap detik waktu ku!!

Selesei,
By Dede Keyzia

 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting