Jumat, 17 April 2015

Revenge

Diposting oleh Rumah Kopi di 19.55 0 komentar



Saling membahagiakan merupakan kegiatan imbal balik yang terdiri dari dua orang. Sedangkan memanfaatkan adalah kegiatan searah meskipun itu terjadi antara dua orang. 

Hai, Lalaland. Apa kabar? Sudah lama ya, nggak sempat curhat sama kamu. Aku pikir, manusia mesti butuh waktu menyendiri untuk berpikir, serta merenungkan kembali hal apa saja yang sudah dilakukannya. Jadi, meskipun nggak sempat menorehkan semua kisahku padamu tentang keseharianku, kuharap kamu bisa mengerti.

Lalaland ... Bicara soal hati dan masa depan itu, perkara yang sensitif serta ngambang, ya! Kita kan nggak tahu bagaimana jalan hidup kita kelak. Untuk urusan hati, hanya Tuhan dan siempunya raga yang tahu.


Lalaland ... Hati, semangat, serta pikiran manusia itu seperti gelombang. Nggak akan sama setiap detiknya. Beberapa waktu lalu bisa saja perasaan ini berbunga-bunga, tiba-tiba semangat hilang begitu saja, kemudian pikiran mulai nggak karuan.


Kautahu, kata bapak aku terlalu lama memendam kesedihan, dalam diam menelan sendiri asam garam kehidupan. Jadi, ketika semua sudah terungkap hatiku sudah terlanjur hancur. Luka-luka itu bukan luka biasa sehingga nggak akan pernah sembuh. 

Mungkin aku mengalami trauma yang terlalu hebat, Lalaland. Rasa ketakutanku lebih besar dibandingkan siapa pun. Aku selalu berlebihan. Aku takut kembali ke masa-masa itu. Sungguh. 

Apa kamu bisa membayangkan, saat puluhan pasang mata menyaksikanmu ditampar seseorang di pinggir jalan, setelah sebelumnya dia mencarimu di kantor dengan membawa botol beer kosong? Seperti itukah perilaku mencintai?

Omong kosong tentang cinta. Dan laki-laki di dunia ini yang mengaku memujamu, kurasa nggak akan pernah memperlakukan kita dengan kasar kan, Lalaland?

Terkutuklah manusia-manusia seperti itu. Aku sudah nggak ingin mengingatnya tapi kenangan nggak akan pernah terhapus digerus masa. Kauharus tahu itu. 

Aku benci pernikahan. Paling nggak, untuk saat ini. Terkadang, aku ingin sendiri saja supaya hatiku nggak terluka dengan rentetan kekecewaan. Meskipun masa depanku bisa dikatakan sudah terencana, tetapi perasaanku saat ini hampa.

Untuk apa hidup ini? Apa yang kucari? Aku kehilangan semangat, serta tujuan hidup. Apa fungsinya keluarga? Apa gunanya pasangan? Untuk apa punya saudara, nyatanya aku sendiri. Apa-apa aku upayakan sendiri. 

Manusia itu seperti pasukan pengibar bendera. Dikumpulkan dalam suatu gerombolan. Mematuhi semua aturan. Diperintah maju, belok kanan-kiri, jalan di tempat, demi sebuah tujuan yaitu pengibaran bendera tadi. Setelah tujuan terlaksana maka pasukan dibubarkan. Nggak dibutuhkan. Terlupakan.


Sepertinya, nggak ada yang benar-benar mencintaiku. Rela melakukan apa saja untukku. Nggak ada. 

Aku bukan benalu yang hidupnya bergantung dari orang lain. Bukan pula si manja yang senantiasa meminta-minta. Pengorbanan pasangan kita adalah wujud cintanya.

Barangkali aku lupa, cinta bukan perkara menuntut mendapatkan yang terbaik melainkan memberikan yang terbaik buat kesayangan. Namun, sama sepertinya aku juga ingin sekali saja dituruti supaya aku tahu, aku nggak salah memilih orang yang kujadikan sandaran kelak.

Entahlah! Cinta dan penyatuan jiwa itu butuh proses panjang. Bahkan sampai seumur hidup.

Barangkali, tiga hal ini perlu diaplikasikan bagi pasangan yang hendak memutuskan menikah dengan pasangannya.

1. Komunikasi yang baik

Salah satu rahasia pernikahan yang langgeng adalah komunikasi yang lancar antar suami dan istri. Sebelum memutuskan untuk menikah, tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda bisa berkomunikasi dengan lancar tentang segala sesuatunya? Sebab, banyak kasus perceraian disebabkan oleh karena salah satu pihak merasa sulit berbicara atau menyampaikan hal yang ingin diungkapkan. 

2. Apakah keluarga besar si dia tulus menerima Anda?

Ketika menikah, Anda tak hanya menikah dengan pasangan. Lebih dalam dari itu, Anda "menikah" juga dengan keluarga besarnya. Setelah menikah, keluarga si dia pun akan menjadi keluarga kedua Anda. Jika mertua dan keluarga besar si dia jelas-jelas tidak menyukai Anda, maka pikir-pikir lagi.

3. Bisakah suami menjadi teman?

Kalau Anda bertanya kepada pasangan yang sudah menikah lama tentang rahasia langgengnya pernikahan, Anda pasti akan mendengar banyak jawaban. Selain komunikasi, kebanyakan pasangan akan menjawab, "Saya menikah dengan teman baik saya." 

Sebaliknya, ketika bertanya kepada orang yang gagal dalam pernikahannya, mereka akan menjawab, "Kami adalah pecinta dan pasangan yang hebat, namun kami tidak pernah belajar bagaimana caranya untuk menjadi teman."

Senin, 13 April 2015

Write Something

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.36 0 komentar




Tak ada yang menarik untuk dibahas malam ini. Segalanya masih sama seperti beberapa waktu lalu. Seperti sebuah kesepakatan yang diputuskan berdasarkan satu pemahaman tanpa melihat bagaimana keadaan sekitarnya. Kesepakatan yang terjadi bukan atas dua buah pikiran itu beda tipis dengan pemaksaan.

Ah! Bukankah manusia memang budak-budak alam yang terkadang nampak seperti binatang nan dungu, yang kala dilecut bagian tubuhnya lantas bergerak menuruti tuannya. Meski melenguh. Meski merintih. Meski terseok-seok ia akan terus berjalan dan bertahan entah sampai kapan? 

Di luar dingin. Gerimis tipis yang biasa aku rindukan itu tidak lagi menarik saat ini. Aku hanya ingin menulis. Menulis apa saja karena bagiku menulis tetap menjadi hal yang menyenangkan. Ini duniaku dimana aku bisa bersembunyi dari penguasa ragaku, serta pengendali setiap langkah yang harus aku jalani. Ini duniaku dimana aku bebas bergerak tanpa batasan, tanpa aturan, tanpa tekanan, paksaan, yang menjadikanku layaknya maklhuk abu-abu.

Aku suka menulis. Menulis apa saja. Meskipun aku tak mahir, tetap saja aku menulis. Dimana aku bisa bercerita tentang rahasia, tentang sayatan luka-luka yang kututupi dengan rapi sehingga yang nampak hanya keindahan. Barangkali hanya ini yang aku bisa. Berpura-pura layaknya peri di dunia fantasi. Terlihat memesona tetapi itu hanya fana.

Malam ini aku hanya ingin menulis. Dan tidak bermaksud menyalahkan keadaan yang berkali-kali melubangi bagian kecil dalam diriku yang kusebut hati. 

Apa kalian pikir aku suka dengan keadaan seperti ini? Dimana kata-kata liar mengalun seperti auman siluman mengerikan itu, begitu saja lepas dari bibirku. Dimana terkadang aku tidak bisa mengendalikan diriku yang sering menghasut mengutarakan sesuatu yang sebenarnya aku paham jika kuungkap maka hanya ledakan yang kudapatkan.

Aku tak suka terpilih menjadi seseorang yang terus dan terus menyerang. Ketahuilah, saat seperti itu bagian hatiku yang masih waras, menjerit-jerit ikut melebur dengan kesakitanmu. 

Barangkali kaubenar, jika aku tetap liar seperti ini semua akan meninggalkanku dalam bilik kamar yang selalu berantakan. Ya, kamarku tak pernah rapi karena aku selalu gugup saat mencari sesuatu. Aku selalu berantakan. Barangkali kaubenar. Dan barangkali kau benar-benar tidak tahu bahwa aku pun tak suka dengan sisi lain diriku yang sering gusar.

Aku memahami bahwa bagian tersulit adalah mempertahankan apa yang masih aku miliki. Denganmu aku tidak pernah takut. Aku sudah hafal di luar kepala kutipan ini: Cinta adalah saat dimana emosi telah menjungkir balikkan keadaan, jatuh bangun, tertawa, menangis, memimpikan masa depan, dan atas semua itu aku tetap tenang ketika tanganmu menggenggam erat dan kauberdiri di sampingku.

ME TIME

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.32 0 komentar



(vemale.com)

12 Cara Sayangi Diri Sendiri

 




Ketika stres muncul, badan terasa sakit-sakit semua, emosi gampang meletup, hati-hati, Ma, itu mungkin tanda-tanda Anda sudah terlalu jauh melupakan diri sendiri dan harus mulai lebih fokus memperhatikan diri Anda. Ya, segala kesibukan rumah tangga dan pekerjaan bisa demikian menyerap seluruh energi dan waktu Anda, membuat Anda lupa memperhatikan diri sendiri.

Kalau itu yang kerap terjadi pada Anda, Ma, hati-hati, bukan hanya stres yang akan hinggap di diri Anda, kesehatan fisik pun bisa terganggu, lho. Ya, bukankah pikiran dan fisik itu memiliki koneksi kuat dan saling memengaruhi? Yuk, mulai sekarang beri perhatian secara khusus pada diri sendiri, agar Anda bahagia dan sehat. Berikut ini 12 cara sayangi diri sendiri:

1. Tentukan tujuan-tujuan hidup Anda. Selain tujuan jangka panjang, tentukan tujuan-tujuan jangka pendek. Bisa mencapai tujuan jangka pendek menciptakan kepuasan dan memotivasi Anda untuk mengejar tujuan-tujuan lainnya.

2. Bekerja lebih efektif. Minimalkan lembur. Datang dan pulang kerja tepat waktu, dan buat serta patuhi manajemen waktu. Dengan begitu, Anda punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri.

3. Fokus pada solusi. Anggap setiap masalah adalah tantangan. Jangan ngomel-ngomel atau panik berkepanjangan saat muncul masalah. Tenangkan diri, atur napas, cobalah untuk fokus mencari solusi terbaik dari setiap masalah. Jika sulit, minta pendapat orang lain yang bisa dipercaya. Tapi jangan sekadar curhat, ya. Anda harus tetap fokus bahwa Anda sedang mencoba mencari solusi masalah.

4. Berbagi beban. Jika memungkinkan, delegasikan beberapa tugas Anda kepada orang lain, baik itu tugas-tugas di rumah maupun kantor. 

5. Jaga kesehatan. Mulailah rutin berolahraga, pilih yang paling Anda sukai dan tidak cepat membuat Anda bosan. Makan makanan bergizi dan alami, hindari junk food semacam gorengan pinggir jalan. Tidur cukup, minum banyak air putih. Keduanya penting untuk menangkal stres. Kekurangan air putih menyebabkan dehidrasi, sehingga tubuh tidak bisa berfungsi dengan baik dan berujung stres.

6. Menabung untuk diri sendiri. Selain tabungan keluarga, miliki tabungan khusus diri sendiri, yang bisa Anda gunakan untuk traveling dan persiapan saat pensiun. 

7. Hindari pikiran negatif tentang diri sendiri. Terlalu kritis pada diri sendiri akan meningkatkan level stres. Pahami keunikan, kelebihan, dan keterbatasan Anda. Tingkatkan dan syukuri kelebihan Anda, dan maafkan kekurangan diri Anda. 

8. Berhentilah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalan hidup, keberuntungan, dan kebahagiaan masing-masing. Tidak akan ada yang sama.

9. Hindari rasa bersalah. Jika Anda tidak bisa memenuhi satu dari sekian banyak hal dalam hidup, let it go. Belajarlah untuk berkata, 'Tidak', jika kondisi Anda memang tidak memungkinkan untuk berkata, 'Ya'. 

10. Pahami perasaan dan emosi Anda. Kecewa, sedih, marah, adalah perasaan-perasaan normal. Tapi jangan biarkan itu semua menumpuk dalam diri. Belajarlah mengelola emosi dengan lebih baik.

11. Miliki ‘me-time’. Memberi jarak pada semua beban dan rutinitas harian, lalu melakukan sesuatu yang Anda sukai atau inginkan hanya dengan diri sendiri atau teman-teman, itu penting. Ini bukan berarti Anda tidak bertangggung jawab terhadap anak-anak, keluarga, dan pekerjaan Anda. Justru ini bisa me-recharge baterai dalam diri Anda. Kalau Anda bahagia, keluarga juga bahagia, kan.

12. Bersyukur. Setiap bangun pagi, set pikiran positif dan ucapkan syukur Anda bisa bangun dan siap beraktivitas. Di akhir hari, catat semua pencapaian Anda hari itu, dan bersyukurlah. Fokus pada semua anugerah akan melerai stres, yang artinya Anda lebih mencintai diri sendiri.

Foto: Getty Images

When You Love Someone

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.23 0 komentar



Hai, Lalaland. Apa kabar? Sudah lama ya, nggak sempat curhat sama kamu. Aku pikir, manusia mesti butuh waktu menyendiri untuk berpikir, serta merenungkan kembali hal apa saja yang sudah dilakukannya. Jadi, meskipun nggak sempat menorehkan semua kisahku padamu tentang keseharianku, kuharap kamu bisa mengerti.

Lalaland ... Bicara soal hati dan masa depan itu, perkara yang sensitif serta ngambang, ya! Kita kan nggak tahu bagaimana jalan hidup kita kelak. Untuk urusan hati, hanya Tuhan dan siempunya raga yang tahu.


Lalaland ... Hati, semangat, serta pikiran manusia itu seperti gelombang. Nggak akan sama setiap detiknya. Beberapa waktu lalu bisa saja perasaan ini berbunga-bunga, tiba-tiba semangat hilang begitu saja, kemudian pikiran mulai nggak karuan.


Kautahu, kata bapak aku terlalu lama memendam kesedihan, dalam diam menelan sendiri asam garam kehidupan. Jadi, ketika semua sudah terungkap hatiku sudah terlanjur hancur. Luka-luka itu bukan luka biasa sehingga nggak akan pernah sembuh. 

Mungkin aku mengalami trauma yang terlalu hebat, Lalaland. Rasa ketakutanku lebih besar dibandingkan siapa pun. Aku selalu berlebihan. Aku takut kembali ke masa-masa itu. Sungguh. 

Apa kamu bisa membayangkan, saat puluhan pasang mata menyaksikanmu ditampar seseorang di pinggir jalan, setelah sebelumnya dia mencarimu di kantor dengan membawa botol beer kosong? Seperti itukah perilaku mencintai?

Omong kosong tentang cinta. Dan laki-laki di dunia ini yang mengaku memujamu, kurasa nggak akan pernah memperlakukan kita dengan kasar kan, Lalaland?

Terkutuklah manusia-manusia seperti itu. Aku sudah nggak ingin mengingatnya tapi kenangan nggak akan pernah terhapus digerus masa. Kauharus tahu itu. 

Aku benci pernikahan. Paling nggak, untuk saat ini. Terkadang, aku ingin sendiri saja supaya hatiku nggak terluka dengan rentetan kekecewaan. 

Manusia itu seperti pasukan pengibar bendera. Dikumpulkan dalam suatu gerombolan. Mematuhi semua aturan. Diperintah maju, belok kanan-kiri, jalan di tempat, demi sebuah tujuan yaitu pengibaran bendera tadi. Setelah tujuan terlaksana maka pasukan dibubarkan. Nggak dibutuhkan. Terlupakan.


Sepertinya, nggak ada yang benar-benar mencintaiku. Rela melakukan apa saja untukku. Nggak ada. 

Aku bukan benalu yang hidupnya bergantung dari orang lain. Bukan pula si manja yang senantiasa meminta-minta. Pengorbanan pasangan kita adalah wujud cintanya.

Barangkali aku lupa, cinta bukan perkara menuntut mendapatkan yang terbaik melainkan memberikan yang terbaik buat kesayangan. Namun, sama sepertinya aku juga ingin sekali saja dituruti supaya aku tahu, aku nggak salah memilih orang yang kujadikan sandaran kelak.

Entahlah! Cinta dan penyatuan jiwa itu butuh proses panjang. Bahkan sampai seumur hidup.

Barangkali, tiga hal ini perlu diaplikasikan bagi pasangan yang hendak memutuskan menikah dengan pasangannya.

1. Komunikasi yang baik

Salah satu rahasia pernikahan yang langgeng adalah komunikasi yang lancar antar suami dan istri. Sebelum memutuskan untuk menikah, tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda bisa berkomunikasi dengan lancar tentang segala sesuatunya? Sebab, banyak kasus perceraian disebabkan oleh karena salah satu pihak merasa sulit berbicara atau menyampaikan hal yang ingin diungkapkan. 

2. Apakah keluarga besar si dia tulus menerima Anda?

Ketika menikah, Anda tak hanya menikah dengan pasangan. Lebih dalam dari itu, Anda "menikah" juga dengan keluarga besarnya. Setelah menikah, keluarga si dia pun akan menjadi keluarga kedua Anda. Jika mertua dan keluarga besar si dia jelas-jelas tidak menyukai Anda, maka pikir-pikir lagi.

3. Bisakah suami menjadi teman?

Kalau Anda bertanya kepada pasangan yang sudah menikah lama tentang rahasia langgengnya pernikahan, Anda pasti akan mendengar banyak jawaban. Selain komunikasi, kebanyakan pasangan akan menjawab, "Saya menikah dengan teman baik saya." 

Sebaliknya, ketika bertanya kepada orang yang gagal dalam pernikahannya, mereka akan menjawab, "Kami adalah pecinta dan pasangan yang hebat, namun kami tidak pernah belajar bagaimana caranya untuk menjadi teman."

Minggu, 05 April 2015

Embbb ...

Diposting oleh Rumah Kopi di 12.20 0 komentar


Bolehkah aku meminta sesuatu? Jangan berteriak, jangan terbawa suasana hatiku yang sedang kacau, jangan mengatakan hal yang malah memperkeruh keadaan.

Aku nggak minta dibahagiain. Enggak. Aku mohon, damaikan hatiku. Itu saja. Ya. :(

Biarkan aku istirahat sejenak. Aku nggak kemana-mana. Nggak sedang marah juga. Hanya ingin diam. Penat rasanya.

Tolong jangan menghubungiku dulu. Nanti, jika suasana hatiku sudah membaik, aku akan mencarimu. Entah berapa malam aku nggak bisa tidur nyenyak. Siangnya pun nggak pernah tidur. Otakku terus diforsir tapi hasilnya masih mengecewakan. 

T_T

Jumat, 03 April 2015

Ruang Yang Kusebut Hati

Diposting oleh Rumah Kopi di 08.25 0 komentar

Pada ruang atau apalah itu yang kusebut hati, mungkin aku kembali gagal mengikat kuat-kuat makluk bernama dendam yang kupenjarakan di sana. Kegelisahan itu seperti siluman paling sadis berputar-putar di sekitarku. Tentu ia tidak datang begitu saja tanpa membaui aroma borok yang bersemayam di sana.



Barangkali kita, ah bukan kita, aku saja. Aku bisa saja pura-pura lupa tentang peristiwa lampau. Tetapi sejarah akan bercerita pada masa yang akan segera tiba. Tentang rahasia-rahasia itu, kesakitan itu, luka-luka yang ingin kuhapus saja dan nyatanya malah membatu sehingga memberatkan setiap langkah ini.


Aku tidak tahu apa itu kebaikan? Aku juga kurang paham mengenai cinta serta antek-anteknya! Setahuku , aku tidak bisa berpura-pura baik, serta berpura-pura cinta. Nyatanya apa yang berada pada ruang yang kusebut hati itu, tak bisa kukendalikan mana kala ia berontak keluar begitu saja. Maka dari itu ketika aku berkata: "Aku sayang, atau aku sebal, atau aku kangen, serta aku takut," sesungguhnya itulah kenyataannya.

Sudah terlalu lama aku bersembunyi pada topeng berwujud keceriaan. Riak menertawakan kegembiraan. Sebenarnya itu adalah tangis yang tak disertai air mata sebab kau tahu? Air mataku telah jatuh dalam ruang yang kusebut hati tadi.

Ah, terkutuklah aku menjadikanmu pelampiasan atas rasa takut ini. Takut tersakiti. Takut dikecewakan. Takut. Dan takut.

Pernah aku mangadu pada alam semesta. Aku memintanya menjadi saksi bahwa kelak aku tidak akan lagi membagikan separo atau bahkan seluruh ruang bernama hati tadi, pada makluk yang kusebut kesayangan. Nyatanya alam tidak menyetujuinya dan justru menghadirkan kembali tangan-tangan yang telah menggedor pintu ruang yang bangunannya tak lagi kokoh itu. 

Pernah juga aku berbisik pada bumi ini untuk bersabar sejenak. Sabar membiarkanku berjalan, sesekali berlari, jatuh lalu bangkit merangkak kemudian kembali berjalan di atasnya sampai waktu itu benar-benar tiba. Waktu di mana akhir dari segala kesakitan, awal dari keabadian tak berujung itu, aku melenggang dengan langkah seringan bulu-bulu angsa; tanpa dendam serta kesakitan-kesakitan.


Aku. Terkutuah  aku telah menjadikanmu pelampiasan atas segala ketakutanku itu. Takut sakit. Takut terluka kembali. Takut. Takut sakit luar biasa yang tentu saja dulu pernah kualami sebelumnya. Beberapa kali.

Salahku adalah menjadikanmu satu-satunya penguni ruang yang kusebut hati tadi, sehingga ketika berbagai macam rasa itu muncul kaulah yang pertama kali merasaka imbasnya. Maafkan aku.

Aku tentu saja tak pandai berjanji selayaknya matahari yang selalu hadir di ufuk timur manakala embun menungguinya duduk manis pada ujung dedaunan. Aku manusia biasa yang berharap bisa selalu hadir di sisimu dalam ke adaan apapun itu.

Tangan-tangan kita berkaitan erat mana kala perbedaan prinsip, pemahaman, pelampiasan rasa yang terkadang menyaru serupa begal hendak merampas kedamaian, kenyamanan yang susah payah kita bangun di atas puing-puing ego dan kerasnya hati masing-masing. 

Perbedaan adalah warna. 

Senin, 30 Maret 2015

Just For Fun

Diposting oleh Rumah Kopi di 06.54 0 komentar
Senin (n) sebagian orang membenci hari ini meskipun ia tidak pernah salah. Kalau aku pribadi, baik Senin maupun Jumat tak ada bedanya. Hari-hari penat. Menerima gaji juga cuma numpang lewat. Tapi tetap saja semangat karena ada yang selalu merhatiin. Kasih sayangnya seperti infus yang menggelontorkan kekuatan luar biasa. ^_^

Menjalani hari-hari tanpa beban. Hari-hari ya, seperti ini. 

Beban itu apa? Bentuknya seperti apa? Yang terpenting manusia terus berusaha. Jika beban itu adalah anak tangga, maka jika berhasil melewati masalah (beban) tingkat kemampuan semakin meningkat, bukan?

Mbohlah happy aja! Ada beban tetap makan, jajan, jalan, liburan, kan berarti beban tidak bisa mempengaruhi! 

Mungkin kalau manusia dibiarkan hidup begitu saja tanpa sesuatu yang membatasi langkahnya (beban, masalah, kesulitan) si situ manusia akan liar seliar-liarnya. Lupa bagaimana caranya meminta pada Tuhan lewat doa yang setiap saat dirapalkan. 


Achmad Tohari dalam bukunya yang bertajuk 'Ronggeng Dukuh Paruk' berkata, "Bahagia adalah milik orang yang menerima." Sampai saat ini terkadang aku berpikir keras, bagaimana bisa bahagia dan menerima saat aku dihadapkan pada perlakuan paling keji dari sesama manusia. Well, itu PR! 

Menerima dengan legowo mungkin itu sulit. Yang ada paling hanyalah 'belajar' menerima. Lalu berpikir kembali, namanya juga belajar ya, sudah pasti sukar. Kalau mudah untuk apa dipelajari? Segalanya butuh proses serta pemahaman pelan-pelan. 

Setiap hari belajar. Di awali belajar bersyukur. Mensyukuri apa saja yang saat ini masih dimiliki. Napas, kesehatan, cinta, mimpi! Bayangkan saja jika semua itu tidak lagi bercokol di tubuh kita menempati bagiannya masing-masing. 

Anggap saja dunia ini kanvas. Kanvas sudah pasti putih dan manusia adalah warna. Jadi, jika ingin melihat pelangi lukislah warna-warna cerah. Tetapi jika ingin melihat awan pekat, goreskan saja tinta paling hitam yang kaupunya. Dari sini kita paham bahwa segala sesuatu berasal dari diri sendiri, bukan? Berhenti menyalahkan orang lain.

Terkadang, aku juga ingin melontarkan kata kasar. Makian paling liar. Membawa rombongan binatang untuk dilempar ke orang-orang yang membuatku gusar! Tetapi hal ini tidak pernah aku lakukan bukan karena tidak punya keberanian. Lebih dari itu. Aku tahu hidup adalah proses panjang yang terus berksinambungan. Penyesalan atas kesalahan yang pernah dilakukan akan mengendap dan tinggal dalam kurun waktu yang lama. 

Penyesalan tidak akan terhapus meskipun kita sudah mengucapkan maaf. Maka dari itu aku sangat menghindari mengucapkan kata kasar yang mungkin bisa melukai orang lain.

Pernah mendengar cerita ini? Ketika seorang anak sedang marah, si bapak menyuruhnya memalu sebuah paku pada   papan. Hal itu dilakukannya berulang saat emosi menguasai hati. Lalu, selang berapa lama si bapak menyuruh anaknya mencerabut paku-paku itu. Yang terjadi tentu saja papan tersebut penuh lubang menganga. 

Seperti itulah ketika manusia berbuat kesalahan pada orang lain. Layaknya paku yang ditancap lalu dicabut itu, sakitnya hilang namun masih membekas. Jadi, ketika masih bisa mengucapkan kalimat yang baik, kenapa mesti memaki?

Aku rasa kita tidak akan puas meskipun berteriak lantang, mengucapkan kata kotor saat marah. Sama halnya seperti oranga mabuk yang katanya bisa melupakan masalah yang menumpuk. Tapi bukankah setalah sadar kepalanya pusing berputar-putar? Nah, mungkin seperti itu.

Selain itu yang menjadikan derajat kita naik bukan hanya perkara materi. Namun kepiawaian kita membawa diri di tengah masyarakat, cara kita menghargai orang lain itu merupakan cerminan dari kepribadian. Apa-apa kuncinya diri sendiri. Jika ingin dihargai orang lain, mulailah dari diri sendiri.

Well, jika kemarin membahas wanita seperti apa yang layak dinilahi, saat ini giliran mengupas laki-laki seperti apa yang pas dijadikan suami. :)



  • ciri pria menjadi suami hebat oleh Asmara SegiEmpat


    Setiap wanita pasti ingin mendapatkan pria yang tepat yang akan mendampinginya seumur hidup. Karena pria seperti itu tidak hanya akan menjadi suami hebat tapi juga akan menjadi ayah yang baik dan hebat untuk anak-anaknya kelak. Untuk mendapatkan pria yang seperti itu, Anda tidak harus mencari pria yang sempurna. Karena Anda tidak akan pernah mendapatkan kriteria seperti itu di dunia nyata.

    Yang perlu Anda lakukan hanyalah melihat sifat, karakter serta semua perlakuannya kepada Anda selama ini. Dengan melihat semua hal tersebut, maka Anda bisa yakin kalau pria tersebut memang pantas untuk mendampingi Anda.

    Berikut ini adalah beberapa ciri pria yang bisa menjadi suami hebat:

    • Perlakuannya Kepada Anda

    Seorang wanita sangat suka untuk dimanja serta diperlakukan dengan baik dan spesial. Meskipun pria hebat tidak akan selalu memanjakan Anda, tapi dia akan selalu berusaha untuk berbuat baik untuk Anda dan menyayangi Anda sepenuh hati. Pria seperti ini biasanya akan dengan senang hati mendengarkan cerita dan keluh kesah Anda, meminta maaf meskipun bukan dia yang salah dan menunjukkan rasa hormatnya kepada Anda.

    • Selalu Memberikan Perlindungan

    Seorang pria memang ditakdirkan untuk menjadi pelindung, baik kepada Ibunya, saudara, terlebih lagi untuk istri dan anaknya. Oleh karena itu, jika selama ini pasangan memang selalu memberikan perlindungan kepada Anda, berarti dia memang serius kepada Anda. Tidak hanya itu, hal itu juga berarti kalau dia memang pria yang baik dan bisa diandalkan.

    • Mencintai Apa Adanya

    Seorang pria hebat akan mencintai Anda apa adanya, baik dari luar ataupun dalam. Dia akan selalu menerima Anda, bagaimanapun keadaan Anda saat ini. Karena bisa saja sekarang ini wajah Anda masih cantik dan menarik perhatiannya. Tapi suatu saat nanti wajah Anda pasti akan berubah dan tidak akan secantik dulu lagi. Jadi pastikan kalau dia tidak hanya mencintai Anda dari fisik tapi juga dari hat


Seorang pria yang bertanggung jawab dan memikirkan masa depannya pasti akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta pendamping hidup dan keturunannya. Hal itulah yang kemudian akan membuat mereka bekerja keras sebagai persiapan untuk memberikan nafkah kepada keluarganya. Pria seperti ini tidak akan bermalas-malasan dan akan berusaha keras untuk bisa mendapatkan penghasilan dan menjadi orang yang mapan.

  • Mandiri

Karena nantinya dia akan menjadi pemimpin untuk keluarganya, maka sudah seharusnya seorang pria memiliki kemandirian. Anda bisa melihat hal tersebut dari kehidupannya sehari-hari. Apakah dia mulai membangun usaha atau bekerja untuk mencukupi kebutuhannya tanpa harus meminta dari orangtuanya atau justru keuangannya masih dibantu orangtuanya, apakah dia orang yang suka lari masalah atau justru akan menghadapi masalah secara jantan. Dengan melihat sifat-sifat tersebut, maka Anda bisa tahu apakah dia memang adalah orang yang mandiri.


  • Selalu Tepat Janji

Seorang pria sejati akan selalu berusaha untuk menepati janjinya. Dia pasti akan berusaha untuk selalu menepati janji yang telah diucapkannya. Anda bisa melihat hal tersebut dari hal-hal sepele yang dia janjikan kepada Anda. Meskipun hal-hal tersebut terlihat sepele, namun hal itu merupakan tanda kalau dia memang pria sejati yang bisa diandalkan. Kalau hal sepele saja dia bisa ingat, dia pasti tidak akan pernah melupakan hal besar.

  • Memiliki Kepercayaan Diri

Untuk menjadi pria hebat, tidak perlu wajah yang rupawan dan tubuh yang atletis. Yang paling penting adalah pria tersebut memiliki kepercayaan diri akan potensi dirinya. Jika dia memiliki sifat seperti itu, dia pasti akan merasa lebih nyaman terhadap dirinya sendiri dan akan berusaha untuk tampil apa adanya. Tidak hanya itu, rasa percaya diri ini juga akan membuatnya bisa melalui hambatan dengan lebih mudah.

  • Bermoral Baik

Tidak hanya masalah kemapanan dan kemandirian, seorang pria hebat juga harus memiliki moral yang baik. Karena sebagai pemimpin, dia akan menjadi panutan bagi Anda serat anak-anak Anda. Anda bisa melihat moral dan sifat seorang pria dari pergaulannya, penggunaan kata ketika dia sedang berbincang, caranya menanggapi masalah dan sebagainya. Dengan melihat hal tersebut, Anda bisa yakin kalau pasangan Anda saat ini bisa menjadi suami hebat untuk Anda dan ayah yang baik untuk anak-anak Anda kelak.

 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting