Jumat, 15 April 2016

MUNGKIN JUGA TIDAK PERLU TERLALU SERIUS MEMBACA INI

Diposting oleh Rumah Kopi di 19.21 0 komentar

Kita memang seperti ini. Selalu begini. Tidak pernah berubah meskipun umur telah bertambah. Entahlah. Ada rasa bosan ketika mengingat kembali beberapa peristiwa yang membuat maskaraku meleleh. Meskipun sebenarnya aku tidak pernah memakai maskara, kecuali ketika belajar mengaplikasikan riasan di wajah.

Kamu harus tahu, mungkin juga tidak perlu tahu bahwa kadang-kadang aku kepingin menyedot tubuhmu  menggunakan vacuum cleaner. Kemudian memasukkannya ke dalam botol kaca. Menutupnya rapat-rapat. Selanjutnya aku bergegas ke laut. Bukan untuk piknik apa lagi berjemur. Bukan. Aku tidak suka bau matahari di tubuhku, di rambutku. Kamu tahu, aku gampang berkeringat. Jadi lupakan tentang piknik ke pantai bersamaku.

Dengan botol berisi tubuhmu, pikiran-pikiranmu, juga mulutmu yang enggan terbuka itu, oh tak ketinggalan kusertakan juga keegoisanmu, semuanya terperangkap di sana. Aku melihatmu menggapai-gapai. Kamu berharap aku melepasmu. Dan dari luar, aku menggeleng dengan memasang senyum paling licik namun bahagia. Kepuasan itu membuncah begitu saja setelah berhasil membuatmu tak berdaya. Dan kupikir saat ini dan selanjutnya, aku pasti berhenti menangis. Berhenti sakit hati karenamu.

Omong-omong, sebelum ke pantai, tentu saja aku terlebih dahulu sarapan. Sebab, sarapan adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Dengan setangkup roti tawar isi selada, ikan tuna, mayonis, irisan tomat segar, dan segelas kopi 3 in 1. Aku tidak suka kopi hitam. Kecuali saat itu, dulu pertama kali mencicipi kopi hitam  buatan Ibu yang tentu bukan disuguhkan untukku. Kopi hitam kepunyaan Bapak yang masih mengeluarkan asap tipis meliuk-liuk laiknya penari tiang (aku lupa nama tarian yang diperagakan oleh gadis yang melilitkan tubuh indahnya pada tiang stainless itu, seperti ulat bulu yang merambat pada tanamam) aku menyesap kopi panas itu barang satu, dua, tiga kali, dan uh membuatku tergila gila dengan kopi sampai detik ini.

Jangan bertanya menyoal kesopanan dan semacam itu, mencuri kopi hitam kepunyaan Bapak, sebab pertama kali jatuh cinta dengan kopi, aku masih terbiasa mengenakan kaos dalam serta bawahan berbentuk segitiga dengan motif kartun lucu, bermain-main ke seluruh penjuru kota. Desa ding, kan aku anak desa. :)

Entah kapan tepatnya, pelan-pelan aku meninggalkan kopi hitam. Aku lebih suka menikmati pahitnya kopi, manisnya gula, serta gurihnya krimer, larut bersama. Aku pikir, pahitnya hidup bisa disiasati dengan cara seperti ketika aku menikmati secangkir kopi blanded.

Omong-omong tenagaku cukup kuat untuk melempar botol berisi tubuhmu itu. Betapa girang hatiku melihat botol itu membubumbung tinggi sebelum akhirnya jatuh mengapung di permukaan laut saat itu. Oh iya, sebelumnya, aku telah bernegosiasi pada Tuhan, supaya melindungimu dari tajamnya gigi ikan hiu, rakusnya kawanan ikan paus, dan sepertinya Tuhan setuju akan hal itu. Lalu aku mengusap-usapkan kedua telapak tangan setelah melemparkan botol berisi tubuhmu--seolah-olah baru saja memegang benda kotor. Membalik badan dan mengayun kaki meninggalkan pantai.

*

100 tahun kemudian, pada pagi yang belum sempurna, aku tergopoh menghampiri bibir pantai. Lebih tepatnya menjemput botol kaca yang tergeletak sembarangan di sana. Ketika menemukan benda itu, aku tidak terlalu kaget. Sebab, sesuai doa yang aku panjatkan waktu melempar botol berisi tubuhmu, kurapalkan mantra bahwa kelak, hanya aku yang akan menemukannya. Membebaskanmu. Dan berharap, ketika itu, semua berubah. Tak ada lagi teriakan. Tak ada lagi tingkah lakumu yang menyebalkan itu, juga protes nyinyir dariku, dan itu semua bibit-bibit penyebab kita berdua mabuk emosi yang akhirnya entah kapan mulainya, kita saling melemparkan kata kotor. Lalu kamu terlelap. Sementara aku susah tidur karena migrain.

Saat pertengkaran demi pertengkaran itu terjadi, aku membencimu seperti membenci semangkuk bakso yang telah dingin dan dipaksakan untuk masuk ke mulutku, dan sialnya, setelah terlempar ke perut, bakso dingin itu keluar melalui jalan yang sama. Itu menyebalkan. Sepertimu.

Mula-mula, aku menganggap apa yang terjadi antara kita, adalah kekonyolan dua manusia yang hatinya telah lama kering. Kering karena ketidak hadiran kecintaannya pada kurun waktu lama--di hadapan masing-masing. Lalu seperti mayat-mayat yang bangkit dari kubur, mencari mangsa, balas dendam, sebab mayat-mayat itu belum siap mati. Ya walaupun kenyataannya tak ada makluk yang siap mati. Ini kasus lain, tentu saja mayat itu penasaran mendatangi pembunuhnya.

Ah, sepertinya analogiku tidak masuk akal membandingkan mayat yang bangkit dari kubur mendatangi pembunuhnya (Seperti Dewi Ayu dalam novel Cantik Itu Luka, namun dalam kisah itu Dewi Ayu bukan mati karena dibunuh) dengan perasaan rindu yang ditahan menahun, dan seolah tidak sabar menunggu untuk disegarkan dalam sebuah pertemuan.

"Kita sudah berjalan cukup jauh, dan tinggal selangkah lagi sampai pada rencana yang telah kususun rapi. Jadi tolong bersabarlah, dan jangan berpikir macam-macam," katamu sesaat setelah bebas dari belenggu botol kaca.

"Apa kamu tidak marah dengan apa yang aku lakukan padamu?"

"Hah! Aku sudah terbiasa menghadapi ulah si manusia keras kepala. Lagi pula, kamu telah berkali-kali mematahkan hatiku. Jadi apa lagi? Aku akan membuatmu menangis suatu hari."

"Sudah kuduga. Kamu memang penjahat."

"Aku akan membuatmu menangis dan kemudian memelukku. Tersengal mengucapkan terima kasih, sebab diam-diam aku bersumpah akan menggunakan sisa hidupku untuk membahagiakanmu."

Senin, 29 Februari 2016

KETIKA HARUS BERJUDI DENGAN KEHIDUPAN

Diposting oleh Rumah Kopi di 10.59 0 komentar

Aku tidak tahu, seperti apa kehidupanku kelak. Itu jelas. Aku toh bukan peramal masa depan. Aku hanya tahu bagaimana mempersiapkan segala seuatu, jauh di awal.

Tentang keputusanku untuk meninggalkan negara yang telah mengajariku banyak hal, sedikit membuatku risau. Tetapi melulu pada kerisauan itu, yang bersifat keduniawian, yang tidak membuatku bahagia, alih-alih nyaman, apa lagi yang kupertahankan?

Aku belajar mengikuti langkah kaki. Tentu saja logikaku masih jalan. Masih hidup. Tentu saja. Bukankah aku ini seperti robot autentik, yang setiap geraknya senantiasa diperhitungkan. Andai saja, ada hal yang keliru, meleset dari perhitungan, aku tahu bagaimana mengantisipasi supaya langkahku tidak terlalu lama timpang. Apakah aku terdengar sombong?

Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bahagia di sini, bahkan dengan nominal gaji yang fantastis bagi ukuran wanita.  Ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang mondar-mandir di kepala:

Untuk apa hidupku ini? Apa semua melulu tentang materi yang tak akan terpuaskan sampai akhir zaman.

Aku ingin menemukan jawaban. Aku tidak mau terjebak dan selamanya hidup sebagai tumbal kehidupan. Aku berhak mencari kebahagiaanku. Pun begitu, segalanya masih sama. Prioritas tetap sama. Apa pun itu, hidupku ini tak lain demi memenuhi hajad hidup orang banyak. Selebihnya, aku juga ingin mewujudkan impianku.

Barangkali memang, ini beresiko tinggi. Aku melepaskan sesuatu yang sudah pasti dan menggapai hal yang masih samar. Tapi kan kalau kita tidak mencoba, tak pernah tahu hasilnya.

Hidup itu perjudian besar. Jika tidak berani memasang taruhan, bagaimana mungkin berkesempatan memenangkan hadiah. Lagi pula, bukan hanya hadiahnya yang membuatku bersemangat. Seseorang, yang kelak akan mendampingiku seumur hidup, menungguku di sana.

Pernikahan, hidup seatap, sama-sama mewujudkan impian, adalah pasti menenangkan. Inilah harapan terbesar wanita. Menikah dengan orang yang tepat.

Hidup bukan perihal menambah jumlah nol di rekening. Lebih dari itu, kenyamanan, bagiku segalanya. Ya, saat-saat terburuk, jauh lebih mudah dijalani ketika ada seseorang yang tak pernah melepaskan kita untuk pergi. Segala sesuatu akan terlihat indah jika kita melihatnya dari kaca mata (hati) bening (bahagia). Sebaliknya, semua jadi redup, gelap, kalau kaca matanya kotor berdebu.

Rabu, 17 Februari 2016

KERACUNAN SAMBAL

Diposting oleh Rumah Kopi di 21.26 1 komentar

Lidah jawa, selalu akrab dengan makanan pedas. Tidak selalu sih, tetapi kebanyakan memang begitu, pecinta kuliner pedas. Katanya sih kalau tidak pedas, makanannya kurang sedap. :)

Aku suka pedas. Eh, tapi masih di level standar kali ya. Pedasnya tidak sampai bikin lidah kebas.

Bicara soal pedas, yang jelas pikiran kita tertuju pada sambal. Kapan hari itu, dapat kiriman sambal terasi dari saudara. Seneng sudah pasti. Secara, sambal terasi merupakan makanan langka di negara ini. Dan mengingat, aku sendiri "tidak bisa masak" dan jarang mendapati sambal terasi menghiasi piring nasi, kemarin aku makannya lumayan rakus. Nasinya sedikit, sambalnya banyak.

Oh sial! Semalam, gara-gara keracunan sambal, aku diare. Bolak-balik ke kamar mandi. Sakit perutnya benar-benar parah. Sumpah gilak, habis BAB, langsung muntah. Rasanya mau pingsan. Aku curiga, ditaruh obat pencuci perut pada sambal itu. Pfffttt

Pagi-pagi, aku menelpon saudaraku. Komplain tentang sambal kirimannya. Dia malah terkekeh santai. Katanya, dia juga ikut makan sebelum sambal itu dikirim ke tempatku. Tapi, perutnya baik-baik saja. Yah ... aku jadi garuk-garuk jidat. Mungkin kondisi pencernaan setiap orang tidak sama. Jadi, efek pasca makan sambal pun jelas-jelas memiliki reaksi beda.

Bagi kalian penyuka makanan pedas, ini beberapa efek samping yang ditimbulkan. Hati-hati ya. Boleh makan pedas sih asal tidak berlebihan sehingga diare sampai mau pinsan.

1. Gastritis

Gastritis adalah inflamasi atau peradangan yang terjadi pada lambung. Biasanya gastritis atau yang biasa disebut dengan maag ini disebabkan karena bakteri tetapi terlalu banyak makan cabai juga bisa menjadi salah satu penyebabnya karena makanan pedas dipercaya dapat menurunkan kemampuan lapisan pelindung lambung. Lapisan ini berfungsi melindungi lambung dari asam lambung.

2. Refluks asam lambung

Salah satu yang tidak dibolehkan pada orang yang memiliki penyakit refluks asam lambungadalah mengkonsumsi makanan yang pedas-pedas. Refluks asam lambung kronis dapat menimbulkan berbagai komplikasi seperti kanker esophagus, pneumonia dan gigi rusak karena asam lambung.

3. Insomnia

Kebanyakan kita tidak tahu bahwa selain kafein ternyata makanan pedas juga bisa menimbulkan kesulitan tidur. Ini terjadi karena setelah memakan makanan pedas maka suhu tubuh akan naik (itu sebabnya kita berkeringat setelah memakannya) sementara tubuh perlu melambatkan metabolisme sebelum tidur. Supaya lebih mudah tidur, hindari makanan pedas mendekati jam tidur.

4. Menurunnya kepekaan lidah

Semakin lama orang terbiasa mengkonsumsi makanan yang pedas maka kepekaan lidahnya menurun. Bagi orang lain satu sendok sambal sudah sangat pedas tetapi bagi orang yang terbiasa maka hanya sedikit merasakan pedas. Ini tidak hanya berlaku pada rasa pedas saja tetapi juga berpengaruh terhadap pengecapan rasa lainnya seperti manis, asin, asam dan pahit. Menurunnya indera pengecapan ini tidak jauh berbeda pada berkurangnya pendengaran orang berada dilingkungan bising, keduanya mempunyai akibat yang permanen.

5. Sakit perut dan diare

Ini akibat iritasi pada organ pencernaan karena makanan pedas. Meskipun sifatnya akut dan tidak persisten tetapi ini merupakan suatu tanda bahwa kita sudah kelebihan makanan pedas.

(Sumber: kesehatanlengkap.com)

Minggu, 14 Februari 2016

CARAMEL MACHIATTO YANG HAMBAR

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.44 3 komentar

Tadi, setelah enam bulan yang lalu, aku datang lagi ke sana. Kedai kopi favorit kita. Benar tidak ya, itu tempat memang favorit, atau kita berdua kurang familiar dengan kedai kopi di Ximenting. :)

Terakhir ke sana, beberapa hari menjelang kepergianmu dari negara ini. Lalu, aku memutuskan tidak akan mendatangi Starbucks lagi. Bukan apa-apa sih, hanya saja, kenangan saat kita asyik menikmati setiap detik yang terus merangkak pergi, membuat rasa kangen kian menjadi. Dan betul saja.

Sepulang les, tadi aku mampir ke Starbucks dengan teman. Ketika mengantri di meja barista, kok rasanya lain. Biasanya, kamu yang berdiri di sebelahku, dan ketika bukan dirimu yang kudapati di sana, aku sedih.

Starbucks masih seperti yang dulu. Dan sialnya, tadi aku mendapat tempat di lantai 3, pojokan. Kamu ingat kan? :(
Caramel Machiatto, kopi favorit kita itu, yang biasanya enak dan selalu membuatku kurang sehingga merebut bagianmu, demi Tuhan, terasa hambar.

Air mataku jatuh satu-satu, masa. Tidak tahu kenapa? Jatuh begitu saja. Padahal aku tidak serapuh itu, kamu tahu. Aku hanya sedikit merasa sedih. Sedih telah berusaha membohongi diri sendiri bahwa aku membencimu dan berniat meninggalkanmu. Sedih telah mengucapkan kata-kata yang sebenarnya, aku sendiri tidak ingin mendengarkannya.

Aku tidak pernah mempermasalahkan masa depanmu, tidak pula merendahkanmu atas keadaan hidupmu. Aku menerimamu seperti kamu menerima keadaanku. Bahkan aku salut denganmu. Jika jadi kamu, belum tentu aku mampu menjalani hidup dengan penuh tekanan yang entah kapan berakhirnya.

Aku tidak pernah menjanjikan apa pun. Hanya saja, berniat memberikan dukungan dan menyediakan pundak untukmu bersandar dari beban hidup. Aku rumahmu. 

Tapi .... Kamu membenciku? Ah itu hanya ucapan saat emosi. Aku tahu kamu menyayangiku.

Aku ingin menua dengan melepas kegelisahan. Mendamaikan hati dengan tidak banyak memikirkan hal yang membuatku kian tertekan. Memasrahkan segala sesuatu pada Tuhan. Tentu saja setelah aku berupa terlebih dahulu. Dan kurasa, upayaku sudah lebih dari cukup. Maaf jika belum maksimal. Karena toh aku hanya manusia yang tak luput dari salah. Nabi saja, pernah salah, apa lagi aku? Kembalilah ketika rindumu sudah amat menggila. Sebelum itu, mari berbicara tentang setia ala penulis keren ini: Fadh Pahdepi.

Setia adalah melindungi.

Lazimnya seseorang yang bisa melindungi orang lain, dirinya harus terlebih dahulu selamat dari marabahaya. Melindungi tak sama dengan ‘menyelamatkan’. Mungkin kita bisa tidak selamat ketika kita berusaha menyelamatkan orang lain. Tapi kita tak bisa melindungi orang lain jika kita sendiri tak terlindung, bukan? Setia adalah situasi semacam itu… Saat kita tahu bahwa rasa cinta dan sayang kita telah terlindung, sehingga kita bisa melindungi perasaan orang yang kita cintai atau sayangi. Dalam relasi semacam ini terdapat hukum sebab akibat. Semua akibat yang kita terima ditentukan oleh sebab-sebab yang kita ciptakan. Jika kita tidak ingin disakiti, maka kita tak boleh menyakiti. 

Setia itu takut.

Ketakutan adalah situasi di mana kita tak bisa mengukur kekuatan kita sendiri karena kita tak memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang situasi yang sedang dihadapi. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, seberapa besar ujian yang akan datang, seberapa berat cobaan yang akan menimpa, dan seterusnya… Di sini, rasa takut diperlukan agar kita mawas diri. Kekhawatiran dibutuhkan agar kita selalu rendah hati dan tidak jumawa merasa bisa menghadapi semuanya sendirian. Kita selalu butuh teman sejati, seseorang yang akan mendampingi kita dalam kondisi apapun dan bukan seseorang yang hanya akan membersamai kita saat bahagia saja… Setia adalah rasa takut kehilangan teman semacam itu.

Setia itu tidak mendua.

Tidak menduakan cinta. Tidak menduakan rasa. Tidak menduakan hati. Tidak memberi kesempatan untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat satu hati tersakiti.

Setia itu bersyukur.  

Sabar itu ada batasnya, tetapi syukur tak pernah memiliki batas. Syukur itu meluaskan. Cara berpikir kita akan sempit ketika kita gagal bersyukur. Mungkin seseorang yang selama ini kita cintai memiliki banyak kekurangan. Jika kita tidak bersyukur, tentu kita akan mulai mencari yang tak dimiliki pasangan kita pada diri orang lain. Tetapi jika kita bersyukur, betapa kita akan tahu bahwa seberapa banyak pun kekurangan yang dimiliki pasangan kita, sebenarnya tak bisa kita bandingkan dengan begitu banyak kelebihan-kelebihan yang telah ia berikan dalam hidup kita selama ini. Syukur semacam itu mungkin tak akan mengubah masa lalu, tetapi pasti melapangkan masa depan.

Tapi, di atas semua itu, setia itu sulit…

Maka hanya mereka yang bersungguh-sungguh mencintai saja yang bisa setia. Ya, setia itu sulit. Sebab jika ia mudah, tak akan ada orang yang memiliki cinta yang luar biasa.

Selasa, 02 Februari 2016

KARENA HIDUP BEGITU BERHARGA

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.06 0 komentar
Dragon Ball saja, berjuang agar hidupnya lebih baik. Masa aku kalah sih. :D 

Aku dan mungkin juga pekerja lainnya, tidak bisa mengelak atas sebuah tekanan. Tekanan dari pekerjaan. Terkadang bukan pekerjaan itu yang membuat rumit. Melainkan perilaku sok kuasa 'ia' yang adalah pemilik atas kebebasan para pekerja, membuat semuanya terasa menyebalkan.

Tolong jangan menghakimi bahwa aku dan mungkin juga mereka yang hidupnya di bawah tekanan, berhati lembek. Manja, lebih tepatnya, sehingga mengkambing hitamkan tekanan-tekanan itu sebagai sesuatu yang patut ditakuti. 

Takut sih tidak. Mungkin hanya kesal. Betapa pun pandainya seseorang menahan emosi, adakalanya kondisi fisik yang lelah, dengan emosi yang menggunung, sama halnya menggenggam bom yang suatu saat, menunggu waktu, meledak.

Kadang-kadang aku kehabisan cara menyemangati diri sendiri. Bahwa aku punya motifasi besar atas apa yang sedang kupertahankan saat ini. Bertahan pada masa-masa menyebalkan, hidup bersama dengan orang asing yang menganggap dirinya adalah bebas menyuruhku lompat dari ketinggian lantai 7, tentu saja bukan hal mudah. 

Aku hanya bisa berkata dalam hati, ayolah ... Ini hanya sementara. Segala sesuatu, apa pun itu, diawali dari yang sulit dulu. Bahkan di sela hari-hari sulit ini, aku bisa melanjutkan pendidikan. Lagi pula, dari sini aku mendapatkan banyak kesempatan yang barangkali luput jika aku tetap bernaung di bawah lindungan orangtua. 

Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, tentu saja mesti ditukar dengan hal yang besarnya sebanding. Pengorbanan, entahlah jika aku menyebut ini pengorbanan, semoga tidak terlalu mendramatisir. Yang jelas, semua rasa lelah hati dan fisik, terbayar lunas dengan apa yang kuperoleh. Menjadi tulang punggung keluarga, meskipun orangtua tidak menuntut atas hal itu, namun sumpah hal ini membuat hidupku lebih berarti. Ya, paling tidak, tak sia-sialah mereka memiliki anak sepertiku. Hehe 

Bukan hanya senyum bangga dari orangtua, gelar sarjanan ekonomi yang akan kubawa pulang ke tanah air kelak, adalah bukti bahwa kesulitan seperti apa pun tidak lantas menyurutkan niatku dan berhenti di tengah jalan sebelum tujuanku tercapai. 

Prinsip hidupku, akan kuupayakan apa pun itu semaksimal mungkin. Ngeyel barangkali. Aku akan menyerah jika semua jalan, tertutup. 

Aku lelah. Tapi hidupku bukan melulu menperjuangkan kebahagiaan atau masa depanku sendiri. Ada banyak tanggung jawab yang menuntunku untuk tetap tegak meskipun nyeri itu membuatku meradang. Hidup terlalu berharga jika hanya diawali dari turun ranjang dan kembali ke ranjang, tanpa melakulan sesutau yang hebat. 

 

Minggu, 24 Januari 2016

DOSEN MASA GITU

Diposting oleh Rumah Kopi di 18.55 0 komentar
Kita hidup di zaman yang awakward di mana hal biasa menjadi heboh karena pemberitaan yang berlebihan di sosmed. Greget sih! Salah makan apa ya mereka itu? Atau kesambet apa gitu para pengguna internet tersebut sehingga latah menyebar luaskan dan memberitakan berita yang tidak penting amat. 

Merunut ke belakang. Mengingat tragedi bom di Jakarta beberapa waktu silam. Di mana perhatian publik teralih oleh sosok polisi ganteng. Yang menurutku tidak ganteng amat. Sumpah demi apa pun, isi perutku sempat mau berontak ketika apa yang menempel pada polisi yang katanya ganteng itu, menjadi sempel produk pada lapak jualan toko online. Kalau tidak salah, sepatu dan tasnya. (Kenapa nggak sekalian dalemannya juga dijadikan sempel produk haha) 

Selain polisi yang katanya ganteng itu, ada banyak polisi lain yang aksinya tak kalah keren seperti di film laga. Sempat melihat salah satu TV Nasional menyebut-nyebut seseorang berbaju putih yang tertangkap kamera CCTV, diyakini sebagai teroris. 

Hallo ...! Awak media kok begitu semberono menyebarkan berita. Menurut pemberitaan TV tersebut, sesosok berbaju putih itu ialah salah satu anggota teroris, masa. Padahal ia AKBP Ir Untung Sangadji Hendro. :(

Yang masih hangat adalah berita tentang Wayan dan tangan robotnya. Laki-laki asal Pulau Dewata itu disebut-sebut sebagai pembohong dengan ciptaanya, tangan robot. 

Ih pliz deh! Kenapa pada usil banget mempermasalahkannya. Wayan mencari makan dengan tangan ciptaannya itu. Ia tidak mencuri. Tidak juga menyalahi orang lain. Tidak minta diliput begitu diliput dan terkenal malah dipojokkan digadang-gadang sebagai pencipta tangan robot gadungan. Kesyel sumpah! 

Ayolah menjadi pengguna internet yang cerdas. Jangan ganas menghadapi sesuatu hal biasa. Jangan menjadi pribadi yang kagetan. 

Ada hal lain yang sempat membuatku geregetan. Dan perutku sempat menegang karenanya. Bagaimana tidak, jika seorang dosen membagikan video tawuran antar TKI wanita, di Negeri Beton, beberapa saat lalu. Sumpah! Tindakan dosen itu membuatku ilfeel! Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari menyebarkan video purba itu? Aku menamainya video purba. Sebab, perkelahian hanya dilakukan oleh manusia purba yang otaknya masih alami. Naluri purba. Naluri binatang di mana untuk mempertahankan sesuatu, dilakukan dengan kekerasan. Perkelahian. 

Kembali ke dosen dan video heboh. Demi apa publik harus melihat tontonan itu? Supaya tahu bahwa mental sebagian TKI serendah itu? Bukankah yang seperti itu harusnya dibungkus. Malu. Jika ada yang mesti dilakukan, ya sebaiknya memberikan pengarahan pada mereka yang memiliki darah dan naluri purba itu supaya tidak mencoreng nama baik bangsa, di negri orang. 

Pak Dosen, wajah TKI yang sudah kadung jelek di mata penduduk Indonesia sendiri, setidaknya sedikit tertupi apabila jarimu tidak sembarangan menekan tombol 'BAGI'. (Kesel deh jadi mahasiswa Anda :( 
Pak Dosen, jika waktu luangmu begitu banyak, mending berbagilah ilmu yang bermanfaat dengan kami. 


Ada lagi yang paling heboh saat ini. Aku pikir ada yang lebih penting dari pada sekadar membicarakan salju di musim dingin. Apanya yang wow gitu? Salju turun di negara yang setiap tahunnya mengalami musim dingin. Itu hal biasa. Menurutku. Kecuali kalau salju itu turun di musim panas. Baru heboh. 

Hak kalian sih menghebohkan sesuatu yang biasa dan memenuhi beranda FB dengan berita itu-itu saja. Kalau tidak mau melihat, ya cukup log out dari FB. Beres. Tetapi, ada tapinya loh ... kalian termasuk pribadi yang kagetan. Hal biasa menjadi luar biasa, seolah-olah. Sampai ada yang lompat-lompat kegirangan gitu. Norak. NORAK. 

Kamis, 21 Januari 2016

LAKI-LAKI TUA DAN SETUMPUK SELEBARAN

Diposting oleh Rumah Kopi di 13.02 0 komentar


Hari ini kotaku muram. Amat muram selaiknya seseorang yang baru patah hati, atau baru kehilangan sesuatu yang berharga di hidupnya. Musim dingin ditambah hujan deras. Emperan pertokoan menjelma bak kandang bebek. Becek oleh tempias, bekas kaki yang berlalu lalang, tetesan air dari ujung payung yang dibawa oleh orang-orang yang berjalan tergesa. Entah demi apa? 

Aku berlari kecil menuju 7-11. Pandanganku tertumbuk pada laki-laki tua yang berteduh di emperan pertokoan sambil membagikan selebaran. Sebelum sampai di depan laki-laki tua tersebut, mataku terus mengamati. Tak terhitung berapa banyak orang yang melintas di depannya, menolak menerima selebaran yang dibagikan. 


Lalu aku bertanya dalam hati, bagaimana dulu orangtua mendidik anak-anaknya sehingga kebanyakan dari anak-anak tersebut tumbuh menjadi manusia bebal. Manusia yang tidak memanusiakan orang lain. Manusia yang enggan mengangsurkan tangan demi menerima selebaran yang dibagikan di pinggir jalan. Merasa bahwa selebaran itu amat tidak penting baginya, barangkali. 




Mungkin selebaran tersebut memang tidak penting. Tetapi demi rasa kemanusian, kiranya sudilah menerimanya. Menerima selebaran itu lalu meremas dan kemudian membuangnya, tidak apalah. Yang penting selembar selebaran itu berkurang. Selebaran yang isinya tentang iklan sebuah warung makan yang baru dibuka tanggal 20 kemarin. Yang menawarkan makanan murah selama dua hari, demi menarik pelanggan. Dan laki-laki tua bekerja membagikan selebaran, demi sejumlah uang, tentu saja. Dan tidak banyak jumlahnya. 



Mekanisme pekerjaan laki-laki tua itu, sederhana. Tetapi membutuhkan kerjasama orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Bayarannya tergantung dari setumpuk selebaran tersebut. Jika habis dalam sekejap, maka ia bisa secepatnya menerima upah. Jika selebaran itu tidak habis sampai malam tiba, maka ia tetap berdiri di sana, mencoba membagikannya, dan terus begitu sampai selebaran itu tak terisa, baru ia akan mendapatkan hasil jerih payah. 

Pekerjaan yang semacam itu, sering diremehkan. Laki-laki tua tubuhnya dibalut jaket motif kotak-kotak, topi yang terlihat usang, dengan wajah lelah yang dipaksakan tersenyum ramah, bagaikan benda tidak penting yang keberadaannya tak perlu diakui. 

Pekerja jujur yang menjual tenaga itu, justeru sering kali dipandang remeh. Tetapi si bedebah yang berpakaian rapi, pembawaannya intelek, bermulut manis, yang setiap ucapannya menguarkan kebohongan, yang otaknya penuh tipu muslihat, justeru diakui, dipercaya, dihormati.

Entah bagaimana memaknai hidup ini! Keadilan itu seperti apa? Kenapa orang-orang bedebah dibiarkan memperoleh uang serta tetek bengek bersifat keduniawian dengan mudah. Sementara itu, yang bekerja seperti robot autentik, mesin-mesin penggerak roda kehidupan, tumbal-tumbal keluarga, lekat sekali dengan kesulitan, hanya demi memperjuangkan hidup yang lebih baik?

Oh maafkan aku jika pertanyaan ini membuat-Mu tersinggung, Tuhan. Aku tidak bermaksud lancang. Bertanya sesuatu yang jelas-jelas semua itu, tak ada yang luput dari pengamatan-Mu. Segala sesuatu yang terjadinya telah Kau ketahui. Tetapi boleh kan sekiranya, aku sedikit tahu tentang mengapa orang jahat  diberikan kemudahan dalam hidupnya. Sementara orang baik, malah sebaliknya? 

Nasib ditentukan oleh manusia itu sendiri atas usahanya, katanya. Aku tidak percaya sepenuhnya. Sebab, ketika berusaha untuk memperjuangkan sesuatu, tak selamanya berjalan linier. Kadang-kadang nasib seolah mempermainkan. Nasib terbahak sambil memegang perut yang menegang melihat manusia yang gagal dan menemui jalan buntu ketika berupaya. Kemudian pulang telanjang memanggul kekalahan.

Manusia sebagai pelaku kehidupan yang terlanjur tengik, dipaksa menerima takdir apa saja. Dan tidak berhak menentukan hidupnya kecuali semua telah diatur oleh-Nya. 

Jika boleh dan bisa memilih, orang tua itu pasti ingin bertukar posisi, menjadi bagian yang melintas di depan orang yang sedang membagikan selebaran. Tetapi apa boleh buat, sekali lagi takdir telah bertindak semena-mena atas dirinya. 

Lalu aku mulai meraba diri sendiri. Bukankah aku dan pekerjaanku lebih baik darinya. Dari laki-laki tua itu yang bahkan harus membawa air putih dalam botol bekas di jejalkan dalam tas usangnya. Dan ketika kakinya pegal, tidak ada tempat untuknya duduk. 

Seringkali manusia iri dengan manusia lainnya. Iri dengan mereka yang mendapat kehidupan lebih baik. Padahal belum tentu kenyataannya begitu. Ketika orang lain bisa begini dan kenapa dirinya tidak, lalu pikirannya mulai berontak.  Manusia yang suka iri tersebut hanya memandang dari satu sisi. Ambil contoh, ketika kita melihat sesosok tubuh dari ketinggian tertentu, yang tampak hanya titik hitam, yang merupakan kepalanya. Sementara, ketika melihat tubuh dari kejauhan, bukankah yang terlihat hanya segaris lurus. Jadi buat apa iri dengan kehidupan orang lain. Kenapa tidak melihat bahwa masih banyak orang-orang yang tidak lebih beruntung dariku, darimu, dari kita. 



 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting