Minggu, 05 Oktober 2014

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.19 0 komentar

                        ANAK SAPI
                                                                      
                              Oleh
                               
                       Keyzia Chan

     Ibukmu d rmhsakit. Kami brda d ruang gwt darurat. Hpnya paman yg bw

     Satu pesan masuk ke HP-ku itu, berasal dari nomer ibu. Aku kelabakan sesaat setelah membaca SMS tersebut. Otakku membeku. Tiba-tiba semua terasa hening. Bukan hanya itu saja, rasanya ada kekuatan super yang mencekik leherku sehingga aku kesulitan bernapas. Segala rasa  bercampur aduk dan tertahan di hati. 
 
     Tidak berlebihan jika aku menganggap ibu pemilik separuh jiwaku. Sayangnya, akhir-akhir ini hubunganku dengan beliau kurang harmonis. Dan itu salahku.

     Terlambat sudah! Desisku sambil menggigit bibir kuat-kuat.
     BRUK! Lututku membentur lantai. Kotak berisi mukena yang terbungkus kertas kado—hadiah untuk ibu, berhambur keluar dari kantong plastic.
                                                                     ***
     “Sarapan dulu, Ibu sudah mengambilkan sepiring nasi untukmu.”
     “Nggak usah!”
     “Tapi, nasinya sudah nggak panas seperti kemarin pagi.”
     “Nggak keburu, Bu. Lihat, tuh! Udah jam berapa?!” teriakku dari kamar.
     Ibu melenguh kesal, tapi perasaan itu ia simpan rapi dalam hati.
     “Ya, sudah kalau begitu. Bekal makan siangmu, Ibu masukkan ke dalam jok.”

     Aku mendengarnya tetapi tidak membalas kalimat terakhir dari ibu. Di kamar, aku justru asyik membalas pesan dari sahabatku.

     Sampai kapan pun, anak tidak pernah menjadi dewasa di hadapan ibunya. Meski usianya berbilang kepala dua. Anak tetaplah anak yang harus diurusi segala keperluannya. Kendati sebenarnya si anak tidak ingin merepotkan ibu. Selama ini, ibu selalu turut andil menentukan apa-apa yang akan kulakukan. Itulah sebabnya aku terlambat dewasa.

    Aku masih ingat saat itu ketika masih duduk di bangku SD, teman-teman sering memanggilku ‘anak sapi’. Saat terik mentari membungkus kota. Aku berjalan seorang diri. STBottom oBesekali jemari kecilku mengelap pipi yang basah. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku masih terpusat pada ucapan Yuna, ia teman sebangku di SD Darmawanita. Kerikil dan bebatuan kecil jalanan menjadi pelampiasan kekesalanku. Kutendang benda-benda tersebut kencang. Sambil manyun aku bertanya dalam hati, apa iya aku bukan anak kandung Ibu?

     Sesampainya di rumah aku melempar sembarang tas sekolah itu, kemudian kubanting pintu keras-keras. Ibu yang sedang sibuk di dapur bergegas mencari tahu apa yang terjadi?  Dipungutnya tas sekolah yang berada di lantai, setelah itu ia duduk di tepi ranjang. Mengetahui kedatangan ibu, aku bangun dan duduk di hadapannya. Dengan sorot mata tajam, aku yang berkepang dua—meminta penjelasan pada sesosok berparas lembut tersebut.

     ”Katakan sejujurnya, sebenarnya Sasi anak siapa?” ucapu sambil terisak-isak.

     ”Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” ibu kembali bertanya, bingung.

     ”Katakan saja, siapa ibu kandungku? Kata teman-teman, aku ini anak sapi.” Bibirku semakin maju. Sejurus kemudian aku kembali tengkurap di atas ranjang. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Sambil mengusap kepalaku, pemilik kulit kuning itu berkata, ”Tidak ada tanduk di kepalamu.” Seulas senyum tersungging di bibirnya. ”Berarti Sasi bukan anak sapi. Bukankah sapi itu bertanduk?” tandas Ibu.

     Beberapa detik berikutnya aku kembali bangkit. Tak mau kalah dengan ibu, aku pun menjelaskan asal mula munculnya pertanyaan bodoh tersebut. Kusampaikan pada ibu bahwa teman-teman menyebutku ‘anak sapi’ lantaran dari kecil tidak minum asi melainkan susu kaleng. Dan karena setiap hari aku masih disuapi, temanku bilang: Itu memalukan.

     ”Apanya yang memalukan?” tanya ibu akhirnya.

     ”Disuapi itu memalukan, apa lagi Sasi sudah SD. Mulai sekarang, Ibu jangan lagi menyuapiku,”

     ”Ibu akan terus melakukannya.”

     ”Kenapa?”

     ”Karena Ibu sayang dengan Sasi.”

     ”Sampai kapan Ibu melakukannya?”

     ”Sampai kapan pun, selagi tangan Ibu masih bisa menyuapimu.”

     ”Apaka Ibu meminta bayaran?” 

     Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Beliau merengkuhku ke dalam dekapannya.

                                                                       ***
     Perlahan, aku mulai membiasakan diri untuk tidak tergantung dengan ibu. Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi menjadi dewasa adalah suatu pilihan. Kutipan kalimat tersebut terus mendorongku untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh gadis berusia 20 tahun. Aku tidak lagi melibatkan ibu dalam masalah-masalah yang kuhadapi. Aku jarang menghabiskan waktu bergelayut manja pada ibu. Kami, khususnya aku seperti orang asing di rumah sendiri. Menyapa sekadarnya. Bicara seperlunya. Tentu saja ibu mempertanyakan atas perubahan sikapku. Aku selalu beralasan sedang lelah karena padatnya pekerjaan. Itu saja.

     Sore itu hujan deras mengguyur kota. Sesekali kilat membelah langit diikuti gemuruh guntur, menggelegar. Aku dalam perjalanan pulang. Beruntung rumahku tidak jauh dari tempat kerja sehingga aku nekat menerobos jalanan basah, waktu itu.

    “Ya, ampun … kenapa nekat pulang?! Harusnya berteduh dulu sampai hujan reda.”

     Kedatanganku disambut berondongan pertanyaan ibu. Aku tidak menjawabnya. Setelah memarkir motor, kulepas helm kemudian menaruhnya sembarang.

  “Ibu bilang, jangan lupa bawa jas hujan. Sudah tau lagi musimnya, kok ya nggak mau nurut sama ibu ….”
     Aku masih malas bicara. Kurasa ibu meracau tidak pada tempatnya. Apa tidak bisa ditunda barang sejenak? Paling tidak, menunggu aku selesai mandi. Gerutuku. Tidak berhenti sampai di situ, ibu masih saja bicara panjang lebar.

     “Lihat! Gara-gara ini, jas hujannya nggak muat ditaruh dalam jok,” ucapku mengkal. Kusodorkan kotak tempat makan itu. Dan aku baru sadar hari ini isinya belum aku sentuh sama sekali.

     “Loh, kok masih berat? Kamu nggak memakannya? Kenapa? Lagi kurang enak badan, atau banyak pekerjaan sehingga nggak sempat makan, Nak?”

     “Cukup, Bu! Bisa nggak, ngomelnya nanti aja. Aku nggak lagi sakit. Biasanya, makanan itu kuberikan sama temanku,” ujarku lirih. Tetapi ternyata, ibu mendengarnya. Ibu tertunduk memegangi tempat makan itu. Entahlah, mungkin beliu menangis. Aku terlanjur kesal sampai-sampai aku mengabaikannya.

                                                                       ***

     Hari-hari berikutnya, ibu tidak lagi ribut soal bekal makan. Ibu masih menyiapkan sarapan untukku. Bedanya, ibu tidak lagi berteriak menyuruhku segera sarapan. Teman, pernahkah kalian merasakan hal ini? Sesuatu yang sempat kita benci, suatu saat akan menghandirkan aroma rindu yang membuncah. Aku sering mengalaminya. Seperti sekarang ini. Aku merindukan kotak makanku—isinya dan ….

     Bukan hanya kehilangan bekal makan, tetapi lebih dari itu. Sepertinya, ibu juga sering terlihat murung. Tidak lagi banyak bicara tentang ini itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku berkata dalam hati. Segala cara telah aku lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Namun belum menunjukkan adanya perubahan.

     Aku mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumah. Tangisku meledak. Kuambil kado itu lalu memasukkanya ke dalam plastic. Aku berusaha bangkit, tapi kakiku seperti terpatri dengan lantai. Ini kiamat kecil. Ya, aku merutuki diriku yang telah menyia-nyiakan kasih sayang ibu.Tangisku semakin menjadi-jadi.

     “Sasiii …! Apa yang terjadi, Nak …?”
     Serta merta mataku terbelalak. Kupertajam pendengaranku. Apa aku berhalusinasi? Ibu tergopoh menghampiriku, diikuti paman, bibi, serta nenek. Mereka baru saja menjenguk saudara yang tengah di rawat di rumah sakit.

Selesai


Taipe, 3 Oktober 2014

Senin, 29 September 2014

Referensi Novel

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.03 0 komentar

Sewaktu didaulat menjadi first rider salah satu karya besar seorang Hengki Kumayandi, tentu saja saya merasa senang, terharu, sekaligus bangga (lebay dikit hihi). Terlintas di benak saya bakalan mendapat banyak ilmu baru dari penulis hebat, berdarah Sumatera tersebut. Yupp! INSYA ALLAH YOU’LL FIND YOUR AWAY merupakan karya ke tiga menyusul dua saudaranya VAN LOON (tidak dicetak ke dalam hard copy), dan TELL YOUR FATHER I M MOSLEM yang telah beredar di seluruh toko buku, Indonesia. Best Seller pula. Selamat ya, Kak.

Kak Hengki, selain penulis favorit saya ia sekaligus kakak angkat serta guru besar yang karya-karyanya selalu menginpirasi. Menurut saya, kalimat-kalimat yang terangkai dalam setiap pragrapnya sederhana, tetapi tentu saja penuh makna. Berbobot (yang berbobot bukan orangnya lo! Orangnya sih, ‘KURKESING’ alias kurus kecil langsing, hihi) cara bertuturnya lembut mencerminkan kepribadian penulisnya (bocoran bagi yang naksir kakakku).

Novel ini dituliskan berdasarkan kisah nyata seorang guru muda. Tetapi, tentu saja sedikit dibumbui adegan fiktif supaya lebih crispy. Oh, iya! Sebelum memulai membaca, saya sarankan kepada Anda untuk terlebih dahulu menyediakan segelas air putih, serta sekotak tissue. Untuk apa? Yang jelas bersiaplah emosi Anda di permainkan oleh si penulis. Ada adegan konyol yang bikin cengar-cengir. Ada juga adegan menengangkan, bikin senam jantung. Serta beberapa kejadian menyedihkan memaksa Anda menitikkan air mata.

Mengikuti perjalanan hidup BRAM tokoh utama dalam Novel tersebut, saya dipaksa untuk membuka mata lebar-lebar. Setelah itu, saya segera mengucapkan syukur bahwa ternyata hidup saya jauh lebih beruntung dari orang-orang di luar sana. Setiap manusia terlahir dengan persoalan-persoalan, serta beban hidup yang tak kalah berat dari apa yang saya alami. Namun begitu, setiap masalah pasti ada penyelesainnya. Salah satunya ialah, melalui pendekatan. Berbicara dari hati ke hati. Tentu kalian pernah mendengar penggalan kalimat ini? “Yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.” Nah, itulah bagian dari jurus andalan BRAM untuk menghadapi, mendamaikan murid-muridnya yang istimewa, lengkap dengan persoalan pribadi mereka—menyeret BRAM sang guru muda, masuk kemudian berputar-putar pada pusara kehidupan yang sempat membuatnya koma karena luka tusukan oleh salah satu murid dari sekolah lain.

Sekali lagi, BRAM mengajarkan saya bahwa untuk menyikapi persoalan hanya dibutuhkan dua hal. Kejernihan berpikir, dan ketenangan hati. Insya Allah ke duanya mampu memberikan jalan ke luar atas masalah apapun.

Bagi saya, ini bukan sekadar bacaan yang setelah dinikmati isinya lantas menguap begitu saja. Lebih dari itu. Novel ini merupakan obat mujarab untuk orang-orang yang dilanda galau. Percayalah. Dari  BRAM saya belajar bagaimana memaknai sebuah kehilangan. Allah tidak menunggu kapan kita siap menerima ujian. Tetapi, kita dituntut senantiasa siap ketika cobaan itu datang. Lelaki muda tersebut, tetap tegar meskipun harus kembli jatuh sebelum ia mampu kembali berdiri tegak. Bagaimana melanjutkan hidup setelah kepergian orang-orang yang dikasihi. BRAM percaya, tetap melanjutkan hidup dengan baik berbekal semangat yang tersisa merupakan wujud cinta abadi yang dipersembahkan teruntuk almarhum ayah, sahabat, serta kekasih hatinya.

Novel ini wajib ada di tangan Anda.

My Heart Said

Diposting oleh Rumah Kopi di 10.43 0 komentar

Dear, Laland ... Apa kabar?

Rasanya akhir-akhir ini, aku hanya menorehkan kisah sedih, ya! Seolah-olah tak pernah ada hal baik yang bisa disampaikan. Memang begini adanya? Aku tidak sedang berpura-pura, Lalaland. Aku sering mengalami hal-hal kurang menyenangkan. Tetapi aku hanya ingin berbagi padamu.

Perasaan oh perasaan! Apa yang terjadi dengan perasaanku. Aku ingin menyerah pada sesuatu yang menguras seluruh kendali hatiku. Aku tak mau orng lain mengacak-acak ketenanganku. Aku tahu bagaimana teori menjaga hati. Namun nyatanya, aku selalu kalah. Kalah. Kalah. Bagaimana ini, aku gampang terpengaruh gunjingan orang lain. Ramalan buruk yang terjadi di depan sana, aku tahu bagaimana menyikapinya. Aku hanya ingin melakukan apa-apa yang bisa diupayakan manusia, selebihnua urusan Tuhan. Dari dulu juga begitu. Hidup hanya sampai hari ini. Maka aku ingin bahagia hari ini.

Bukan menyerah pada takdir. Hanya saja ingin melepaskan sesuatu yang telah banyak menyita perhatianku. Suka duka itu memang biasa, tapi jika setiap hari berduka bukankah itu masalah? Ya, masalah besar! Aku harus melanjutkan hidup! Aku mempunyai tanggung jawab besar atas beberapa nyawa, jauh di seberang sana. Dan untuk itu, aku butuh kerja keras. Semangat yang tak pernah putus. Masa depanku, serta masa depan mereka ada padaku. Aku tak ingin urusan hati ini mengacaukan segalanya.

Dulu, aku cukup tenang. Hampa, sih! Tetapi waktu itu aku malah memiliki banyak teman. Aku lebih produktif. Aku ceria. Tak ada yang membuatku mati kesal. Tak ada gunjingan miring atas sikapku yang kolokan. Dan aku selalu memikirkan langkah apa yang akan aku ambil, jauh hari sebelum aku sampai pada masa itu. Aku bahagia dulu. Jika menangis, itu hanya karena aku jatuh sakit.

Lalaland, kurasa cinta tak begini. Harusnya dua orang yang saling menjaga. Melengkapi. Bukan seseorang yang terus-terusan mencari jawaban atas sederet pertanyaan yang memenuhi pikiran dan hati atas sikap tak acuh. Lalaland, apakah ini ujian pendewasaan, atau pengukuhan hubungan itu sendiri? Apakah sesudah melewati masa-masa penuh tekanan ini, nantinya akan ada hari-hari mendamaiakan? Hari-hari bahagia. Di mana waktu merayap begitu cepat. Sampai-sampai aku takut jika nanti bulan merebut matahariku. Ah, jika ingin mendapati jawaban atas pertanyaan ini, maka yang bisa aku lakukan hanyalah menjalani. Menjalani. Menajalani dengan berani. Berani dalam artian, siap menerima resiko apa pun. Baik atau buruk. Ke duanya pastilah sudah di atur olehNya.

”Di Taiwan, banyak wanita muda cantik. Pintar. Tapi kenapa dia memilih bertahan bersamamu?” ibu bertanya padaku tempo hari.

Oh, ibu! Apa pula jawaban atas pertanyaanmu ini? Kautahu, anakmu tak cukup pandai menduga hal-hal yang berkaitan dengan hati. Bukannya apa? Aku sudah pernah melakukannya, dulu. Pada orang yang berbeda. Namun, ternyata aku salah. Aku keliru mengartikan keadaan hatiku saat itu. Aku tak mau hal ini terulang kembali.

”Yang tenang, Key! Terpenting dari segalanya, lakukanlah yang terbaik. Bagaiamana pun hasilnya kelak, kamu tak akan menyalahkan diri sendiri atas takdir yang kamu jalani. Dan saat itu apapun yang ada di hadapanmu, serahkan segalanya pada yang Maha Bijak,” Mas Anang menasihatiku begitu.

”Sejauh ini masih bertanya tentang rasa sayang? Apakah kautidak peka lagi? Bukankah kau sendiri mampu menyimpulkan banyak hal tentang arti sikapku selama ini? Apa kaumasih belum mengenaliku? Karakterku?” dia berkata begitu padaku, tempo hari.

Ah, Lalaland! Sebenarnya aku paham. Aku tidak akan pernah bisa merasakan kenyamanan yang telah dipamah masa. Aku tak mungkin kembali ke masa itu? Masa di mana hari-hari aku mabuk. Mabuk asmara. Layaknya ABG yang baru merasakan cinta. Aku tinggal melenturkan hati. Mengikuti alunan irama hidup. Tidak perlu menuntut banyak hal, karena jika tidak kesampaian justru akan membuatku mengkal. Lentur bukan berarti pasrah

Minggu, 21 September 2014

One Day In My Live

Diposting oleh Rumah Kopi di 19.36 0 komentar

Dear, Lalaland .... Apa kabar? Kautahu, hari ini kotaku dilanda badai. Tetapi, jangan khawatir semua aman terkendali. Bagaimana dengan kotamu?

Lalaland ... Ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Namun, aku tak tahu harus memulainya dari mana. Aktifitas yang monton itu membuat jenuh, ya? Sampai-sampai semua hal terasa datar. Tidak ada yang istimewa lagi walau baru saja menerima gaji. Meskipun mendapatkan hadiah. Tak ayal saat bersama orang yang aku sayang pun, terasa biasa saja.

Ada yang hilang. Tapi aku tidak tahu apa itu? Hambar. Hambar. Hambar. Tawar. Ah, apa lagi yang harus aku lakukan supaya hidupku menyanangkan. Aku ..., masih punya tujuan hidup. Tahu kemana melangkahkan kaki. Mengerti bahwa segala hal harus diupayakan secara maksimal. Namun ada kalanya ketika hati jenuh, semua-muanya terlihat abu-abu.

Kemana perginya pelangi? Kemana hilangnya keceriaan itu? Kemana raibnya canda tawa?

Lalaland ... Jika orang-orang tidak lagi peduli padaku, tidak lantas menyurutkan semangatku, bukan? Aku tidak perlu mengeluh tentang apa-apa! Mengingat segalanya sudah kumiliki. Apa lagi yang kucarai? Pasangan yang baik. Keluarga yang selalu ada untukku berbagi suka duka. Pekerjaan yang sudah pasti mendatangkan hasil setiap bulannya. Kesempatan untuk mempersiapkan masa depan? Apa lagi yang kucari?

Oh, mungkin aku butuh suasana segar. Yang mampu membakar semangatku. Tapi, apa ya? Emmm.... Ah, aku jenuh, Lalaland ... Tapi aku tak boleh menyerah. Masa ini memang harus aku lewati. Siklus ini tidak dapat dihindarkan. Aku harus berjuang menemukan kembali jati diriku yang dulu. Ceria. Semangat.

Lalaland: Optimis. Jangan menyerah, Key! Kamu bisa. Pasti bisa menemukan kembali semangatmu yang berapi-api seperti dulu. Kamu perlu waktu untuk menyendiri dan berpikir dengan tenang. Kamu harus.bisa mengendalikan hatimu, karena kemenangan sejati letaknya di situ. Jadilah orang yang berpengaruh. Bukan orang yang diremehkan. Caranya, menghilanglah dulu supaya kembali dirindukan. Semangat, Key. Jangan menyerah, ya!

Taipe, 21 Maret 2014

Minggu, 07 September 2014

KENAPA HARUS ANDAI

Diposting oleh Rumah Kopi di 22.04 0 komentar

Hidup ini keras! Nggak ada yang gratis di dunia ini. Segala hal harus diupayakan secara maksimal. Tanpa harus membabani orang lain. Setidaknya itu lah salah satu bentuk kedewasaan. Dewasa berarti bertanggung jawab atas kelangsungan hidup. Mengupayakan sampai maksimal supaya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk itu, perlu kerja keras. Ketekunan. Dan nggak boleh ketinggalan adalah pantang menyerah. Mengeluh sih, boleh saja! Secara sebagai manusia, aku juga pasti memiliki keterbatasan. Nggak terkecuali semangat. Tapi juga harus diingat. Nggak semua orang memiliki kesempatan untuk mengejar mimpi-mimpinya.

Bahagia. Kebahagiaan itu bukan yang selalu dalam bentuk mewah. Indah. Tetapi, bahagia bisa tercipta dari hal kecil di sekeliling. Hanya dengan bersyukur atas segala yang dimiliki, aku bahagia. Terkadang lupa bagaimana berterima kasih pada Robb-ku sehingga selalu merasa kurang dan kurang.

Kebahagiaan itu letaknya di hati. Dia muncul atau tenggelam lantaran diri sendiri yang mengupayakan. Apa sih, yang telah diperbuat orang lain untukku sehingga bunga-bunga terus bermekaran di taman jiwa? Nggak ada yang istimewa. Mereka berbicara seperti bapak-ibu berbicara padaku. Orang-orang itu memberikan perhatian, layaknya perhatian yang bapak-ibu berikan padaku. Kurang lebih begitu. Bedanya intensitasnya lebih banyak. Dan aku menerimanya dengan hati senang. Memandangnya istimewa. Sehingga akhirnya membuatku melayang di udara. Seperti orang kecanduan ganja. :)

Lalaland ... andai saja sore itu nggak ketemu sama tukang pijet. Jika nenek nggak mudah terpedaya oleh omongan manis paman itu. Andai nenek akur sama menantu. Jika menantu nggak seenak udelnya gitu? Aku pasti masih bisa bekerja di tempatnya Pak Dokter. Kenapa selalu aku yang menjadi korban?

Dari kejadian ini, akhirnya rezekiku benar-benar hilang. Sedikit memang. Tapi, bagiku itu lebih dari sekadar tempat kerja. Dari sana banyak hal yang aku dapatkan. Sedikit memperoleh udara segar saat melakukan perjalanan ke sana, dan sebaliknya. Yang jelas kekecewaanku bukan hanya karena kehilangan sebagian penghasilan. Tapi, kebebasan jalan-jalan di luar jadwal liburan. Jadi rasanya menyebalkan terkungkung dalam rumah setiap hari.

Mudah sekali menyalahkan orang lain, ya! Ini karena aku mencari-cari pelampiasan atas kekecewaan. Aku lupa kalau rentetan kejadian tersebut sudah ada yang mengatur. Allah penentu segalanya. Terlepas aku sendiri sudah mengupayakan kebaikan. Melakukan apa yang menjadi tugasku sepenuh hati, jika akhirnya seperti ini pasti Allah memiliki rencana lain. Yang terbaik. Harus berpikir positip lah, Key!

Aku harus tetap bersyukur karena gajiku masih lebih dari cukup. 7,5 itu bukan jumlah kecil. Yang hilang hanya sedikit, bukan? Jika iklas Allah akan menggatinya dengan hal yang jauh lebih berharga.

Oh, iya. Lagipula jika pekerjaanku berkurang, setidaknya ada banyak waktu untuk belajar. Kuliahku harus selesai. Ini bukan untuk orang lain. Melainkan demi kepuasaanku sendiri. Bertambahnya ilmu harusnya kelak aku lebih pandai membawa diri.

Lalaland .... Kembali bicara soal perasaan.

Nggak ada cinta tanpa air mata. Bukankah kautahu hal itu? Cinta itu pengorbanan. Pengabdian. Kesabaran. Tindakan. Pokoknya begitulah. Aku nggak ingin kehidupan percintaanku mengacaukan semua-muanya. Tujuanku bukan itu saja. Harusnya lebih menyadari hal ini: karena aku sudah mendapatkan cinta yang benar-benar kuinginkan, cinta itu seharusnya mampu mengantarkanku pada tujuan memperbaiki keadaan--mempersiapkan masa depan. Ya, harusnya begitu.

Lalaland ...

Jika aku bisa membuang jauh segala resah yang menjadikanku seorang wanita muda rese‘, akan kulakukan dari dulu. Apa? Kaupikir aku nyaman dengan hal ini? Pribadi sensi itu nggak selamanya buruk, sih. Tetapi masalahnya segala hal yang berlebihan itu memuakkan. Aku tersiksa oleh perasaanku sendiri. Aku menderita oleh hal-hal negatip yang rajin bertandang ke alam bawah sadarku. Aku bertindak menggunakan emosi, Lalaland ....

Jika ada kalimat seperti ini: TAK TERASA, LUKA ITU HILANG DENGAN SENDIRINYA. Aku kurang setuju dengan hal itu. Bagaimana mungkin luka bisa hilang dengan sendirinya? Pasti ada upaya dari si empunya raga yang berusaha memahami bahwa duka lara memang bagian dari kehidupan. Atas dasar pemahaman itu, lalu mengolahnya sedemikian agar duka nggak menjadi penghalang untuk terus bertindak demi terciptanya impian. Jangan sampai luka-luka itu menganak pinak menjadi titik di mana keinginan menyerah akhirnya muncul. Waktu yang membantuku memulihkan goresan-goresan tersebut. Sayatan yang nggak terlihat namun sakitnya membuatku sekarat. Kenapa? Karena aku memang berlebihan. Maksudku, rajin membesar-besarkan masalah yang sebenarnya biasa saja.

Menurutku, waktu memang obat mujarab penyembuh segala luka. Semangat merupakan infus yang menggelontor kekuatan--bagaimana pun keadaannya aku bisa bertahan. Impian-impian yang menumpuk itu tak lain memiliki peran sebagi motorik yang menuntun langkah membelah jalan masa depan.

Nggak bisa dihindari, memang. Jatuh-bangun itu bagian dari hidup. Masalahnya ketika terjatuh sudahkah Anda [aku] berhenti sejenak untuk berpikir, bagaimaa aku bisa jatuh, tadi? Apa yang membuatku terjatuh? Hal apa yang harus aku lakukan supaya nggak kembali jatuh? Selama ini seringnya aku menyalahkan orang lain atas kesialan yang kuterima. Benar-benar lupa bahwa apa yang aku dapati hari ini, adalah investasi dari tempo hari. Bahwa cerita yang terjadi dalam hidupku terus berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya.

Berpikir tentang hal sederhana yang bisa membuat hidupku jadi bermakna. Aku bahagia pagi ini. Terima kasih ya, Allah. Tidak akan kunistakan nikmat yang telah Kauberikan. Aamiin.

Taipe, 9 september 2014

Kamis, 14 Agustus 2014

Motivasi Hari Ini

Diposting oleh Rumah Kopi di 10.53 0 komentar

Aku malas menulis. Malas. Malas. Kehilangan gairah yang melecutku untuk berkarya sehingga membuatku beda dari yang lainnya. Aku sudah memulai tetapi tidak pernah menekuni dunia literasi ini. Aku menyukai namun rasa suka itu timbul tenggelam seiring keadaanku hatiku.

Aku malas. Malas. Malas. Malas. Dulu, ya tanganku gatal jika tidak bermain dengan huruf serta frasa. Dulu, hatiku merasa bersalah kalau sehari saja tidak bersentuhan dengan dunia kata-kata. Tapi semuanya hilang begitu saja. Aku mengabaikannya. Meninggalaknnya. Aku yang salah.

Menulis itu menyenangkan. Tentu saja prosesnya lama. Butuh perjuangan yang tidak boleh dengan setengah hati. Seperti menanam bunga. Aku harus menyiramnya, memberi pupuk, menaruhnya di tempat yang intens dengan cahaya matahari supaya tanamanku tumbuh subur. Tak ayal bunga-bunga nan mempesona akan kudapati kelak. Hei, Key! Perlu diingat! Kauharus bersiap menghadapi resiko bahwa bibit bunga itu pun bisa saja mati sebelum tumbuh subur meskipun kaumerawatnya dengan baik. Itu kehendak alam. Mencoba menguji seberapa gigih niatmu untuk melihat hasil jerih payahmu? Seberapa kuat usahamu untuk mencoba kembali menanam bibit bunga baru, merawatnya sampai apa yang kauinginkan itu terwujud. Menulis pun juga demikian. Pasti ada proses dan tahapan. Bukan sekali mencoba lalu berhasil dengan hasil yang menggembirakan.

Ayolah, Key! Paksa dirimu untuk disiplin. Kembali mencari sesuatu yang bisa menjadikan hidupmu lebih berwarna dan bermakna. Bukan sekadar bernapas kemudian menjalani aktivitas seperti jarum jam.

Yang membuatmu beda bukan hanya perilaku serta tutur sapa. Namun lebih dari itu, Key. Pemahaman yang baik dalam menjalani hidup. Apa yang sudah kamu peroleh selama ini, jangan disia-siakan. Prestasi bukan satu-satunya tujuan hidup, tapi dengan berprestasi hidupmu lebih berguna. 

Jika kamu tenggelam dalam dunia yang itu-itu melulu, sudah pasti kamu akan cepat bosan. Jenuh. Ada yang kurang walaupun segalanya telah kaumiliki. Maka lakukanlah sesuatu yang membuat semangatmu senantiasa membara. Tidak ada kata terlambat asal kamu segera memulainya. Tidak perlu bermimipi menjadi penulis besar. Cukuplah bercita-cita tulisanmu itu bermanfaat bagi yang mebaca. Setidaknya bisa menghibur orang lain. Bukankah itu menyenangkan, Key?

Ayolah! Tunggu apa lagi? Banyak hal yang bisa kaurangkai supaya menjadi cerita yang menarik. Jika tulisanmu masih kurang ok, setidaknya itu lebih baik dari pada tidak menulis sama sekali. Memelototi gajdet dari bangun tidur sampai kembali terbuai mimpi.

Lakukan! Lakukan! Mulai! Mulai! Mulai! Semangat!

Taipe, 14 Agustus 2014

Rabu, 06 Agustus 2014

Ceritaku Pagi Ini

Diposting oleh Rumah Kopi di 10.27 0 komentar

Selamat pagi, Dunia. Eh, udah jam 11 ding, mana bisa disebut pagi! What ever lah. Selamat menjalankan aktivitas, deh ... Semoga hari ini membawa berkah untuk kita semua. Aamiin.

Hei, Lalaland. Bagaimana kabarmu? Sudah berapa lama ya, aku tidak pernah menyapamu, mengukir cerita di sini. Sibuk dengan urusan yang sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan. Lalaland, aku ingin mengungkap suatu kejujuran padamu. Hanya kamu yang bisa kujadikan tumpahan segala penat di hati.

Lalaland, aku jenuh. Sebenarnya hatiku nyeri. Aku sungguh ingin menghapus hal bodoh yang masih saja mengganggu pikiranku. Tentang Dia! Dia! Dia!
Aku masih menyimpan sebuah pertanyaan. Sejujurnya hatiku tidak bisa semudah itu melupakan. Hanya berusaha membuat keadaan jauh lebih aman. Maka aku memilih diam.

Hati tidak bisa dibohongi. Ucapan yang lembut mendayu sekalipun tidak mampu membuatku tenang. Aku butuh waktu. Ingin mencari kedamaian sendiri. Biar detik yang terus berlalu menguraikan semua rasa. Mempersatukan kembali hati yang memang saling menyayangi. Aku tidak boleh egois karena masalaluku juga tidak lebih baik darinya. Hanya saja, aku belum bisa menerima semuanya. Ini menyedihkan.

Ah, aku memang egois. Tidak bercermin betapa diriku ini penuh bercak dosa. Betapa pun dia salah, tetapi kesalahan itu tidak terlepas dariku yang menyebakannya seperti itu. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku tidak bisa membuatnya nyaman, barangkali.

Tetapi dari sini aku bisa belajar untuk lebih berhati-hati. Selama ini aku lengah. Gampang sekali tenggelam dalam dunia yang membuatku tersenyum merona sepanjang hari. Hanyut dalam kasih sayang yang menurutku begitu sempurna. Aku benar-benar mempercayainya waktu itu. Aku begitu sempurna. Itulah pemikiranku tempo hari. Dia membuatku begitu. Tak pernah terpikir bahwa sebenarnya ada hitam di antara warna putih dalam hubungan ini.

Yang patut disalahkan adalah aku. Aku memang pembuat onar. Siapa yang tidak bosan jika setiap hari selalu bertengkar. Aku wanita yang menyebalkan. Ya, barangkali memang benar adanya. Seharusnya dia mengingatkanku. Bukan membiarkan diri ini larut sendiri tanpa merasa bersalah telah membuat dia tidak bahagia.

Maafkan aku, ya!

Oh, iya! Untuk kamu ’wanita masa lalu’ jika kamu masih berminat dengan kekasihku, cobalah kembali masuk dari celah mana pun. Pakailah jubah Malaikat itu. Tawar, rayu, curilah hati kekasihku itu dengan kebaikanmu, perhatianmu, kedewasaanmu, tutur sapamu yang halus. Jika dia tergoda dan berpaling dariku, aku akan berterima kasih karena kautelah menunjukkan pdaku sebuah kenyataan bahwa lelaki itu tidak bisa dijadikan sandaran hidup.

Tetapi sebaliknya, jika kautelah mempertaruhkan segalanya untuk memasuki kehidupan kami namun jika kekasihku tetap berdiri tegak di sampingku aku juga harus berterima kasih padamu karenamu aku semakin yakin bahwa dialah tempatku menggantungkan seluruh duniaku. Kekasihku sudah menyerahkan seluruh hatinya padaku. Dan tugasku menjaganya dengan mempertaruhkan seluruh hidupku.

Akhirnya happy ending.

Taipe 6 Agustus 2014

 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting