Jumat, 23 Oktober 2015

I'm Sorry

Diposting oleh Rumah Kopi di 09.08 0 komentar

   Foto: by IG (unknown)

Sisa hujan serta dinginnya angin pagi, berhasil mengalahkan kekebalan tubuhkuku. Tetapi, keduanya tidak mampu menghapus rindu yang menggerus hatiku. :(
(sekadar informasi, aku sedang flu *falling in love with you* bukan itu, ini flu yang sebenar-benarnya tauk!)

Selamat pagi, Sayang. Maaf atas pertengkaran semalam. Aku tahu, tidak seharusnya kekanak-kanakan seperti itu. Aku paham, kamu tersiksa atas kelakuanku yang membiarkan emosi menguasai hati dan pikiran. Namun sefrontal apapun tindakanku itu, tak lain adalah caraku supaya tidak seorang pun bisa memperlakukanku sembarangan. Dan dengan begitu, kamu tidak perlu khawatir ketika berjauhan denganku, tentu saja aku bisa menjaga diri.

Aku bukan wanita lemah yang menangis meratap-ratap atas kejamnya kehidupan. Mungkin saja dulu aku pernah begitu bodoh, namun aku belajar banyak dari masa silam. Barangkali kamu perlu tahu, sebenarnya, aku tidak ingin mengungkit hal-hal yang telah berlalu. Seperti dirimu, yang benar-benar pawai membungkus masa lalu serta rahasia-rahasiaku. Ah, kamu memang selalu berhasil membuatku jatuh cinta dengan cara-caramu sendiri. Aku tidak sedang menggombal supaya kamu tidak lagi marah denganku. Aku bicara tentang sesuatu yang benar-benar ada.

Kembali soal pertengkaran semalam, penyebabnya bukan karena aku mencari-cari kesalahan. Lebih dari itu, aku berharap suatu saat kamu lebih bijak dalam bertindak. Tentu saja aku bangga jika mempunyai pasangan yang rela mengorbankan dirinya demi orangtua, namun ada mekanismenya, kan? 

Kamu harus realistis bahwa pengorbanan itu seharusnya jangan sampai merugikan diri sendiri semisal, tidak bisa makan. Bukankah tubuhmu itu, satu-satunya aset yang kamu miliki saat ini. Kalau kamu sakit, tentu saja merugikan diri sendiri dan juga membuat khawatir orang-orang yang menyayangimu. Bukan hanya itu, bagi kami yang menaruh harapan besar padamu, apa jadinya jika harapan itu rubuh. 

Sesuatu yang sudah terjadi, memang tidak patut diungkit lagi. Aku berharap, kedepannya kamu tidak mengulanginya. Saat ini, kebahgiaanku bukan sekadar mendapat hadiah atau semacamnya, Sayang. Tetapi, kabar-kabar baik darimu sudah berhasil membuatku berbunga-bunga, tentu saja. Ya Allah semoga kamu tidak salah memahami arti kemarahanku padamu. Aku hanya ingin yang terbaik. Kalau aku tidak memegang uang, aku masih bisa makan kenyang. Tapi lihat bagaimana denganmu? Ayolah ... Dewasalah bersamaku. 

Aku ingin kamu kuat dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Karakter manusia terbentuk dari berbagai macam kesulitan yang berhasil ditaklukkan. Aku tahu, betapa sulitnya menyesuaikan diri dengan hal-hal baru. Tapi siapa, siapa yang tidak mengalami masa seperti ini. Namun mesti diingat, semua hanya akan menjadi masa lalu dan kenangan karena waktu terus bergerak membawamu selangkah lebih dekat dengan impian. 

Aku minta maaf. Aku tidak ingin kamu memaksa untuk mengorbankan sesuatu yang akhirnya memberatkan langkahmu. 

I love you more and more ....

Minggu, 18 Oktober 2015

AKU SEMPAT PUPUS

Diposting oleh Rumah Kopi di 19.11 0 komentar

   Foto: by me


Aku pikir, definisi sayang itu sama halnya merelakan diri dengan menjadi orang bodoh. Menunggu-nunggu saat di mana kamu pulang kerja, misalnya. Atau menghitung detik ketika kamu bangun tidur. Saat itu, aku sudah mempunyai segudang cerita yang hendak kusampaikan padamu. Hanya padamu. Tetapi ternyata, itu adalah pekerjaan paling menjijikkan, katamu begitu. Tapi aku tidak merasa begitu. Apa kamu tahu, karena begitu berharganya waktu yang aku lalui bersamamu, sehingga apa pun itu, sekecil apa pun itu, terasa istimewa. Tidak denganmu. 

Kamu lain denganku. Kamu memilih memanjakan dirimu tenggelam dengan dunia maya, sesat setelah membuka mata, melihat-lihat entah apa? Barangkali itu lebih penting dari pada seseorang yang katamu adalah 'istri' yang sedari tadi menahan diri membiarkanmu tidur dengan damai, yang baru akan kamu sapa setelah beberapa saat kamu bangun tidur. Dan kamu akan bilang "Mase eek!" Menyebalkan.

Barangkali itu bedebah bagimu, harus melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan inginmu. Mengabari setiap saat, mendengar suaraku di ujung telpon, berisik. Aku bahkan tidak sadar jika kamu keberatan atas permintaan-permintaanku. 

Hatiku kering. Aku tidak lagi menjadi bodoh karena mencintai. Aku pikir, seiring berjalannya waktu, kamu akan berubah. Menjadi pohon beringin. Akarmu kuat. Daunmu lebat. Dan aku seperti kepompong kecil menggelantung di ranting. Senang sekali. Kamu membuatku teduh. Tapi itu semua hanya khayalan. Aku sadar, ini bukan negeri dongeng. Di mana, daun-daun tidak selamanya gugur ketika sudah kering. Ternyata, daun yang masih hijau pun bisa gugur tertiup angin. Begitu pula komitmen, tidak selamanya berakhir pada jenjang pernikahan. 

Aku menaruhmu di atas sederet kepentinganku. Kamu meletakkanku berada pada tumpukan barang-barang yang tidak penting-penting amat. Bahkan, aku kalah dengan klub bola kesukaanmu itu di mana, kamu akan marah-marah saat aku mengacaukan acara nonton bola spurs. Sepur apaan? Sepur tumbuk? :(

Cinta membuat orang menjadi bodoh. Tidak selamanya. Tapi kenyataan seperti itu memang ada. Hei, aku bukan boneka yang ketika diputar bagian belakangnya, saat batrey penuh, aku berputar-putar, lucu menggemaskan. Aku manusia  yang jika kamu perlakukan sembarangan sesuai dengan keinginanmu, bisa berontak tak terima.

Tapi siapa bilang aku tidak terima? Bahkan, aku yang sebenarnya benci laki-laki kasar, laki-laki impulsif, laki-laki yang ingin dimanjakan, entah kenapa aku mendadak dungu karena mencintamu, aku masih berpihak padamu. Terus saja begitu. Sekali lagi, entah bagaimana aku bisa mencintai seseorang sepertimu? 

Aku memupuk harapan itu seorang diri. Berharap suatu hari hatimu luluh pada keuletanku yang terus ada setiap waktu. Aku yakin, waktu akab berpihak padaku. Kamu mungkin mencintaku penuh. Cintamu banyak padaku, sayangnya kamu menunjukkannya dengan sedikit. Dasar pelit. Hei! Aku bukan dukun yang bisa menebak-nebak isi hatimu. 

Rabu, 14 Oktober 2015

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Diposting oleh Rumah Kopi di 01.56 0 komentar
Foto: By Me




1. Perbedaan manajemen SDM berbasis kompetisi dan SDM berbasis talenta;

* Manajemen SDM Berbasis Kompetisi-> diartikan sebagai suatu proses perancanaan, pengirganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian seluruh aktivitas SDM dalam organisasi. Proses pengambilan keputusan, diambil berdasarkan kebutuhan kompetensi yang  telah ditetapkan. Dalam sistem ini manajamen SDM berbasis kompetisi, maka dijadikan fondasi yang memadukan  fungsi-fungsi manajamen SDM yang meliputi perencanaan, rekrutmen dan seleksi, pelatihan dan pengembangan, penilaian kinerja, budaya kerja, kompensasi dN penghargaan sampai pada pengembangan karier dan pensiun. 

* Manajemen SDM Berbasis Talenta -> merupakan pengembangan dari manajemen SDM berbasis komepetensi. Manajemen Berbasis Talenta, ditunjukkan untuk mengoptimalkan sitem pengembangan SDM melalui program penyiapan SDM berbakat yang memiliki kompetensi dan kompeten dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara peofesional. Dalam hal ini, setiap orang yang memiliki bakat tertentu akan dieksplorasikan untuk mengisisi suatu posisi tertentu yang sesuai dengan bakat yang dimiliki sehingga orang-orang tersebut mampu menghasilkan kinerja yang optimal dan mampu menciptakan keunggulan kompetitif organisasi. 

2. Mengapa dalam pengembangan organisasi diperlukan organisasi belajar? 

Organisasi belajar berperan membekali organisasi dengan basis pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan. Organisasi belajar sangat diperlukan organisasi terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Bagi para eksekutif dan manajer yang menyadari pentingnya organisasi belajar, pasti membutuhkan pedoman yang jelas dan langkah-langkah praktis untuk merealisasikan organisasi belajar dalam proses manajamen. 

Dalan kegiatan dengan pengembanagan organisasi dan peningkatan lingkungan kinerja, Miarso (2002) mengemukakan beberapa alasan mengapa saat ini diperlukan organisasi belajar? 
1.) dalam rangka pembangunan ekonomi  yang berkelanjutan, kita tidak lagi dapat mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, melainkan tenaga kerja yang terdidik dengan baik. Terlatih dengan baik dan menguasai informasi informasi dengan baik. 
2.) pengembangan organisasi lebih berorentasi pada lingkungan internal dianggap tidak tepat lagi. Sejalan dengan gerakan masyarakat informasi maka organisasi perlu menguasai informasi mengenai lingkungan secara komprehensif. Organisasi memerlukan, lebih banyak tenaga kerja berpengalaman (knowledge worker). 

3. Bagaimana organisasi belajar diimplementasikan dalam suatu organisasi? 

Dalam rangka mengimplementasikan organisasi belajar dan pengembangan dalam organisasi dan manajemen secara terintegrasi diperlukan analisis kebutuhan pembelajaran dan kompetensi. Antara lain; apa pelajaran yang dibutuhkan, siapa yang mebutuhkan, kompetensi apa yang ingin dicapai, serta bagaiamana mengukur keberhasilan pembelajaran. Hasil analsis kebutuhan pembelajaran dapat dimanfaatkan untuk menyusun program-program pembelajaran dan implementasinya, kemudia mengukur tingkat keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja perusahaan. 

Peran dan tanggung jawab pimpinan menjadi kunci keberhasilan bagi implementasi organisasi belajar dalam manajemen perusahaan. Pasa dasadnya, belajar merupakan tanggung jawab semua pihak. Tetapi pemimpin dapat memberikan bantuan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong pembelajaran bagi seluruh kawan. 

Rabu, 07 Oktober 2015

APA YANG KAMU BANGGAKAN?

Diposting oleh Rumah Kopi di 12.48 2 komentar
Foto by: waralaba.com


Lalu bagaimana dengan kamu, yang hidupnya hanya dimulai dari turun ke ranjang sampai kembali ke ranjang tanpa tujuan yang jelas! Apa yang dibanggakan menjadi seorang kamu?


Dulu aku berpikir, bahwa aku tidak perlu menjadi yang terhebat dalam satu bidang tertentu. Pokoknya, aku mesti bisa segalanya. Apa pun itu. Aku ingin belajar banyak hal. Tentu bukan tanpa alasan. 

Jadi begini, dalam benakku, jika bisa belajar banyak hal dan ya paling tidak, aku bisa menguasai separo dari apa yang kupelajari tersebut, itu sudah menjadi titik aman. Misalnya, jika aku gagal dengan satu bidang ini, tidak perlu sedih-sedih amat sebab masih ada bidang lain yang bisa membuatku tetap semangat.

Namun seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa hidup adalah perkara serentetan prioritas.

                 "Aku tidak bisa
                mengunyah makanan 
                sekaligus menyeruput
                kopi."

Ya kali, aku bukan robot yang otaknya terprogram untuk melakukan hal-hal sesuai aturan. Aku juga mesti mengingat, bahwa aku terbatas. Saat mengunyah makanan, tentu mulutku serta seluruh bagiannya, konsentrasi mengerjakan hal tersebut. Sementara, menyeruput kopi adalah pekerjaan yang sama-sama dilakukan oleh mulut tetapi dengan gerakan yang berbeda. Nah, tentu aku harus mendahulukan salah satunya. Mengunyah dulu, mungkin. Kemudian setelah menelan makanan itu, barulah aku bisa menyeruput kopi. 

Boleh jadi wacana dalam benakku banyak sekali. Namun, harus ada yang diprioritaskan, karena jika tidak, justru aku akan kehilangan segalanya. Kehilangan di sini bukan melulu soal kegagalan. Tetapi jika aku mempelajari sesuatu dengan setengah-setengah, maka hasilnya tidak akan memuaskan. Keberhasilan adalah persamaan matematik dari kerja keras ditambah dengan rajin. Kerja keras tidak hanya dilakukan dalam jangka waktu yang bisa dihitung menggunakan jumlah jari tangan maupun kaki. Kerja keras saja tidak cukup. Paling penting adalah kesinambungan atas apa yang sedang dilakukan. Bahasa gampangnya, rajin dan telaten. 

Mana mungkin, sesuatu yang kita kerjakan memberikan hasil secepat sulap. Memasak saja, ada banyak proses  yang mesti dilakukan. Jadi, jelas kan bahwa segala hal butuh waktu. Dan tak terkecuali untuk mencintai apa yang sedang digeluti hari ini. 

                   "Serakah hanya 
                        akan mencalakakan
                    diri sendiri."  

Sebagai wanita muda, tentu saja aku juga ingin seperti yang lain. Bisa bekerja, nyambi kuliah, berkarya. Dengan begitu otak dan jiwaku tidak beku pada satu hal yang menguras seluruh perhatian. Namun, adakalanya tidak selalu, aku harus mengutamakan satu, dua, di antara yang lainnya. Rasa-rasanya, 24 jam yang telah menjadi patokan menengarahi sehari semalam, tidak cukup buatku. Tetapi, ragaku tidak sehebat gejolak yang selalu ingin belajar dan melakukan banyak hal. Kalau aku tetap memaksa, bekerja dan lain-lain sampai-sampai aku hanya tidur 3-4 jam semalam, yang ada kondisiku malah menurun. Keesokan harinya, aku tidak dapat mengemban kewajibanku dengan baik. Alhasil malah dimarahi atasan. Runyam! Sial! Benar sekali kan, serakah hanya akan mencelakakan diri sendiri. 


".                  "Sawang sinawang"           
P
PPernah sih, satu, dua kali, terbersit kegundahan manakala melihat orang lain mencapai suksesnya. Wah, enak temen yo dadi si Anu kae, ngopo-ngopo iso. Tapi, belum tentu dia yang aku anggap hidupnya enak tersebut, benar-benar menjalani tanpa kesulitan. Orang hanya bisa melihat dari apa yang tampak oleh mata, selebihnya itu banyak sekali gumpalan-gumpalan rahasia dibalik semuanya.

Paling penting dari hidup adalah memiliki suatu tujuan. Dengan begitu, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk mencapai tujuanku tersebut. Prioritasnya adalah bekerja, selebihnya adalah hal yang mesti dilakukan setelah merampungkan pekerjaan. 

Kembali berbicara soal tujuan hidup. Ya, manusia bahagia adalah mereka yang tahu apa tujuan hidupnya, 'kan? Hidup adalah perkara yang kita lakukan hari ini, serta PR mengenai apa yang mesti kita perbuat nanti. Menikah dengan laki-laki yang tepat, merampungkan pendidikan, menyelesaikan tanggungan-tanggungan. 

Barangkali, saat ini banyak sekali kesulitan untuk mencapai tujuan, namun di sinilah keyakinan itu diuji. Keyakinan bahwa hal sulit akan berlalu, kemudian sampai saatnya hari itu tiba di mana yang dianggap mustahil menjadi mungkin, kepuasan itu tercermin dari bibir yang tersungging. 

Jaku tidak boleh berkecil hati, apa yang kulakukan mungkin belum bisa disebut 'hebat' tetapi aku juga tidak lupa bersyukur bahwa setidaknya aku bisa bertahan dan mampu menjalani hidup dengan baik.

Lalu bagaimana dengan kamu, yang hidupnya hanya dimulai dari turun ke ranjang sampai kembali ke ranjang tanpa tujuan yang jelas? 

Demikian acara nyinyir hari ini, sampai jumpa  pada kesempatan berikutnya. 😇

B


Selasa, 22 September 2015

SOUFFLE

Diposting oleh Rumah Kopi di 10.36 0 komentar
Dalam Novel Wallking After You diceritakan, bahwa ketika perasaan lagi badmood sesendok souffle cokelat mampu mengubah hari menjadi lebih baik. Aku pernah mencobanya. Kapan hari itu. Bukan hanya sesendok, bahkan satu bagian utuh, potongan souffle cokelat ditambah dua cup muffin kacang merah. Suapan demi suapan itu, kunikmati sembari duduk di tengah pasar malam. Dari pendar cahaya lampu, aku memperhatikan wajah-wajah yang berlalu lalang di depanku. Ada yang berjalan tergesa-gesa, ada wajah yang nampak lelah, wajah datar, ada yang tertawa-tawa dengan HP yang menempel di bagian kanan telinganya. Banyak ekspresi. Banyak sekali. Dan sialnya, perasaanku tidak kunjung membaik setelah makanan manis tersebut masuk dalam perutku. 

Dari situ aku menyadari, setiap orang memiliki cara berbeda untuk meng-handle perasaan sendiri. Mengambalikan mood yang buruk tadi. Iya. Seperti itu. Kemudian, aku beranjak pulang. Meninggalkan pasar malam di sebelah kanan, Rumah Sakit Mackay. 

Oh iya, aku punya kebiasaan ini saat sedang badmood. Mandi dengan air panas sambil merendam kaki, perlahan suhu panas menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Sesaat kemudian, ada perasaan membuncah. Hangatnya air, menyelamatkan hariku yang buruk. 

Tetapi, ada kalanya ketika badmood melanda, apa pun tidak mampu mengembalikan keadaan perasaanku kecuali uang. Aku butuh uang dalam jumlah banyak. Kurasa semua juga begitu. Hidup tidak selalu berjalan linier. Apa yang kurencankan, hanya sebatas ilusi. Kenyataannya, banyak hambatan untuk meraih semua cita-cita. Salah satunya, ketika ingat bahwa bulan depan tanggal 4 harus membayar uang kuliah, padahal seluruh gajiku sudah terperinci untuk kebutuhan ini itu. 

Semoga ada jalan. Pasti ada jalan.

Kamis, 03 September 2015

Tuhan, Maaf Aku Mengeluh Lagi

Diposting oleh Rumah Kopi di 16.14 2 komentar
Baru kali ini, aku benar-benar berada di jalan buntu. Ingin rasanya melemparinya dengan benda apa saja yang ada di dekatku. Tetapi untuk apa? Menumpahkan kekesalan, meskipun hal itu kamu yang menyebabkan semua, kurasa itu bukan sikap orang dewasa. Mau melempar apa tadi?

Sebenarnya aku paham ini. Tentang keinginanmu mencari kehidupan lebih baik. Tetapi sayangnya, kamu mempertaruhkan segalanya pada hal yang masih belum tahu latar belakang baik buruknya. Iming-iming kilauan keindahan itu begitu dahsyatnya memelintir otak, sehingga kamu kalis bersama mimpi-mimpi. Barangkali kamu lupa atau tidak sempat memperhitungkan atau tidak mau tahu, seberapa curam jurang-jurang di bawah sana.

Ah! Aku pikir bukan waktu yang tepat meratapi keterpurukan ini. Namun apa, apa yang bisa diupayakan untuk keluar dari lumpur hidup ini. Kukatakan pada kalian, ini adalah lumpur hidup. Jika banyak bergerak, aku bisa mati tenggelam. Akan tetapi jika diam saja, juga mati pelan-pelan. 

Tuhan, maaf aku mengeluh lagi. Aku benar-benar tidak tahu mesti melakukan apa? 

Kadang-kadang aku berpikir, haruskah aku berbuat sejauh ini? Bukankah aku belum mempunyai kewajiban untuk melakukan hal ini. Tetapi hati kecilku tidak bisa tinggal diam jika mengetahui, orang terdekatku menderita seperti itu. Aku tidak keberatan menjadi tumpuhan terakhirmu setiap kali masalah besar jatuh membebani. Tapi aku hanya tulang rusuk, yang kekuatannya tidak seperti tulang pada punggung. Aku terbatas. 

Barangkali kamu lupa, kita adalah entitas organik yang berperan sebagai roda penggerak, penopang kehidupan. Atas nama kebahagiaan dan rasa tanggung jawab terhadap keluarga, kita berdua larut sebagi tumbal. Dan segala yang kita lakukan mesti diperhitungkan dengan sebaiknya-baiknya. Merumuskan, tentang langkah apa yang harus ditempuh jika kenyataan kita kalah dalam perjudian. Tetapi kamu lupa akan hal itu. Aku pun tidak sanggup mematahkan keinginanmu.

Semua hal datang begitu cepat. Berbondong-bondong seperti pawai kemerdekaan. Aku sampai kepayahan dan tidak sempat menyeka keringat yang bukan lagi menetes, namun mengucur layaknya curah hujan bulan desember. Lagi pula, kedatangan berbagai hal itu, tidak sesederhana peristiwa lakon biasa. Semua butuh ditebus dengan nominal yang entah berapa besar jumlahnya. 

Tuhan, maaf aku mengeluh lagi. Meskipun ini tidak pantas. Engkau di sana, pasti sedang tersenyum kan, Tuhan? Karena Engkau tahu sejak awal akan adanya hal ini. Kuharap, Engkau tidak muak oleh doaku yang hanya itu-itu saja. Tuhan yang baik, ini hanya lakon sementara, bukan? Aku tahu di atas kuasa-Mu, aku akan baik-baik saja.

Selasa, 01 September 2015

Parade Luka

Diposting oleh Rumah Kopi di 09.50 0 komentar
"Aku kecewa sama kamu!" gertakku mengawali keributan.

"Ah, kamu selalu saja seperti itu. Kecewa padaku."

Setelah itu, perang mulut tidak lagi dapat dihindari. Ucapan yang menyakitkan, terlontar begitu saja seperti peluru yang berdesing-desing lepas dari sarangnya. Menghujam tepat pada bagian yang paling mematikan. 

Aku tidak menginginkan pertengkaran ini.  Aku tidak sedang mencari masalah, karena tanpa kucari pun berbagai masalah muncul satu persatu bagai cendawan. Menyebalkan.

Barangkali, aku lupa bagaimana caranya bertutur yang halus. Tetapi siapa, siapa yang bisa mengingat tatakrama ketika terbakar emosi. Mungkin ini karena aku terlalu membiarkan hati mengendalikan  segalanya. Sehingga aku hilang akal. 

Dari pertengkaran itu, aku menyesali atas ucapan kasar yang satu dua kali, lepas begitu saja. Aku menyakitimu. Kita berdua terluka. 

Aku benci pertengkaran. Menangis membuatku sesak napas. Menangis membuatku lemas dan juga sakit kepala yang tak kunjung hilang. 

Sisa pertengkaran semalam, jelas sekali nampak pada kedua kelopak mataku yang bengkak. Mungkin hal ini biasa. Iya, wanita dan airmatanya memang hal yang biasa. Tapi apakah kamu tahu, ketika jatuh air mataku, saat itu pula hatiku sedang tidak dalam keadaan baik.

"Kamu selalu saja berlebihan!" bentakmu tak terima.

Mungkin aku berlebihan. Tetapi wanita mana yang rela pasangannya, berakrab-akraban dengan 'teman' yang notabene lawan jenis. Barangkali di dunia ini terlalu banyak peraturan sehingga mudah sekali dilupakan. Tentang bagaimana menjaga silaturahmi antar sesama, bukankah itu ada etikanya?

Ketika berkomitmen, pelan-pelan hilangkan kebiasaan kontak fisik dengan lawan jenis. Aku tidak membatasi, tetapi batasilah dirimu sendiri sehingga masing dari kita tidak ada yang kecewa atas sikap dan perilaku beramah tamah itu. 

Hubungan ini, adalah satu-satunya tempat paling aman. Ketika berbagai macam persoalan hidup menghampiri seperti tukang penagih hutang yang berlagak galak dan mengerikan, hubungan ini yang di dalamnya ada kamunya, kujadikan tempat bersembunyi dari kelelahanku menghadapi kerasnya dunia. Hubungan ini segalanya. Aku tidak mau dan tidak mengizinkan siapa saja mengotori rumahku. Tidak juga kamu dan aku. 

Luka-luka yang menganak pinak, seperti parade pawai Agustusan itu, biarkan saja terjadi. Aku butuh waktu untuk menyembuhkannya. Biarkan aku menggigil di sudut ruangan. Sampai menyadari bahwa bodohnya aku menangisi hal yang tak pantas mengusik ketenangan.



 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting