Senin, 24 Februari 2014

Lose Something

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.44 0 komentar

Ada yang hilang. Jiwaku tak tenang. Huhuuu kek lirik lagu. Ehm ... Bukan menjiplak tapi emang pas untuk mewakili keadaanku saat ini.
Aku bingung! Serius nih. Kenapa tiba-tiba ada yang bikin perasaanku nggak enak kek gini, sih? Bukan. Bukan, lah ... Nggak ada seorang pun yang menyalahi hatiku. Aku aja yang nggak tau kemana arah jalanku saat ini. Gimana bisa jadi manusia yang berprestsi? Kalau segalaa hal dilakukan dengan setengah-setengah.

Hei! Apa maumu, Nak ... Siapa dirimu yang bisa dengan mudah memperoleh segala sesuatu yang kamu mau?
Kemana semangatmu yang selalu menggebu dulu. Haruskah kamu ditendang! Haruskah dengan kekerasan untuk membuatmu sadar bahwa segala hal butuh perjuangan?
Alih-alih konsiten sama komitmen, eh, malah main-main dengan masa depan sendiri!

Hei! Hei! Kamu udah dewasa! Harusnya udah berkeluarga, malah. Kok bisa-bisanya masih bermain dengan sesuatu yang serius.
Jika kamu nggak pernah memulai? Bagaimana bisa kamu tau hasilnya?

Kalau tau akhirnya seperti ini, kenapa juga kamu melakukannya? Duh, banyak orang yang hancur lantas kenapa kamu malah terjun dan membaur ke dalamnya!

Keluaaaaaaarrr! Angkat kaki dari hal yang bikin kamu nggak semangat! Ingat, key ... Nggak ada seorang pun yang mampu menolongmu kecuali dirimu sendiri!

Ayolahh! Jaga yang sudah kamu miliki. Dan berjuanglah untuk mendapatkan yang memang pantas kamu raih. Lawan rasa malas, resah, minder dan ketakutanmu. Semua orang punya rasa itu, tapi hanya orang yang bodoh yang nggak bisa mengalahkan hal buruk itu.

Bangkit! Bangunnn! Jangan tidur! Dasar pemalasss!

Kau tau mana yang patut dipertaghankan dan mana yang harus ditinggalkan, bukan?

Jalan hidup kamu sendiri yang menentukan. Bahagia, kamu sendiri yang menciptakan. Ayoo ... Kejar mereka. Setidaknya kamu harus berusaha, key.

Senin, 10 Februari 2014

I’m Not Perfect Person (catatanku hari ini)

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.05 0 komentar
Huaaaa pagi-pagi udah ada insiden berdarah untung lukanya kecil nggak bakal mati deh kalau cuma kek gini. Eh :v
Harus fokus dengan apa yang sedang dijalani. Pikiran nggak boleh melayang kesana kemari. Bukankah nggak ada persoalan yang tak terseleseikan?
Masalahnya hanya akan terpecahkan dengan hati yang lapang.

Hei, kemana perginya orang-orang? Kenapa aku merasa sendirian? Kemana lenyapnya suara yang sibuk mencari-cariku? Apa mereka udah nggak perduli lagi padaku? Eng ... Terima aja deh! 

Sendiri mengajariku untuk berani, mandiri, dan tangguh. Nggak kemenye yang setiap saat selalu membikin orang lain bingung dengan sikap lebayku. Bukankah ini yang aku inginkan? Mandiri! Mandiri! Mandiri! Aku nggak butuh siapa-siapa karena Allah selalu bersama dan menjagaku.

Satu kesalahan yang dilakukan baik disengaja atau tidak, bisa menghapus semua kebaikan yang pernah ada. 
Ayolah! Aku bukan Malaikat yang nggak punya napsu serta keingin. Aku bisa marah, sedih, bahagia. Aku nggak akan memaksa orang lain untuk menyukaiku, perduli pada semua masalahku, selalu berada di sisiku. Ingatkan jika aku keliru. Itu saja sih, yang aku inginkan.

Taukah? Bahwa aku juga ingin fokus pada diriku sendiri. Aku butuh waktu untuk berpikir dan menyendiri. Ketika aku diam, bukan lantaran aku sombong atau nggak mau tau urusan orang, tapi saat itu aku benar-benar letih. 

Apa iya, aku harus sibuk mencari satu persatu. Menyapa, melempar senyum, beramah tamah? Lantas, kapan giliran kalian menyapaku, tersenyum padaku? Diam salah. Banyak aktif dikira nyari sensasi. Oh, Tuhan. -_-

Kemarin, ada seorang teman bertanya padaku, ”Key, apa kamu nggak sedih, saat orang-orang mengataimu sombong, blagu, seperti itu?”

Sempat kaget ketika ada yang menanyakan hal itu. Tapi, aku jawab dengan santai supaya suasana nggak kaku.

Jujur, awalnya aku sedih saat dikatain sombong, blagu, apalagi sok kecakepan?Tapi, yang jelas aku nggak merasa kek gitu. Mereka juga nggak salah kok. Mungkin, aku memang terlihat angkuh. Mereka boleh menganggapku begini begitu. Asal jangan menyimpulkan sesuatu atas dasar argumentasi semata. 
Yah! Santai aja lah! Pokoknya yang terpenting aku tau siapa diriku. Dan selalu belajar untuk menempatkan diri sebagai mana mestinya. Belajar untuk menghormati dan menjaga perasaan orang lain. Sampai-sampai aku terlihat bego dan nggak punya pendirian.

Biarlah!

Aku lebih suka kek gini. Menurutku, selama aku mampu aku akan berusaha membuat orang di sekelilingku nyaman. Dan bahagia karena kehadiranku. Hidupku akan berguna jika banyak mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Tapi, kembali lagi. Aku bukan manusia yang sempurna. Jika suasana hatiku lagi nggak kondusive, bisa saja aku malah menjadikan orang di sekitarku, sasaran emosi dan lelahnya hatiku. Untuk menghindari ini. Mending aku sembunyi. Menutup diri.

Satu hal yang sangat kuhindari, bermsalah dengan orang lain! Berselisih dengan orang lain! Oh, tidak! Jangan sampe kek gitu.
Saat sedih, emosi, dan dapat masalah, aku pilih menyendiri supaya nggak menimbukan masalah baru. Jika aku udah merasa nggak mampu, baru aku minta bantuan pada mereka yang lebih pengalaman dariku.


Minggu, 09 Februari 2014

Relawan Wanita Dari Inggris

Diposting oleh Rumah Kopi di 02.31 0 komentar


Tidak satu malam pun ia lewati dengan perasaan tenang. Hari-harinya disuguhi pemandangan yang telah merampas senyum pada wajahnya yang oval. Gadis berambut ikal berusia 23 tahun itu tak lagi punya waktu untuk mematut dirinya di depan cermin. Namun tidak terlintas dibenaknya untuk meninggalkan tempat yang pantas di sebut neraka tersebut.  Tumpukan potongan anggota tubuh teronggok begitu saja pada sudut di salah satu bangunan rumah sakit. Bau busuk, anyir darah, sudah menjadi bagian dari hidupnya setelah ia memutuskan menjadi suka relawan. Bahkan, beberapa teman yang datang bersama dengannya beberapa minggu lalu, tewas akibat peluru nyasar yang mendarat di tubuh mereka.

“Mungkin, aku tak akan pernah kembali ketengah kalian. Tapi, jangan pernah bersedih dan menangis untukku. Anggap saja aku sedang liburan. Melakukan  perjalanan yang menyanangkan. Bertemu dengan banyak teman di tempat yang menakjubkan.” Pesan terakhir yang dikirim Ella Tucker  melalui surat. Ia berada di Jerman Belgia kini. Minimnya fasilitas komunikasi, membuat sebagian besar keluarga yang ditinggal sanak saudara pergi kemedan perang tidak mengetahui keberadaan pasti, anggota keluarganya yang tak pernah pulang.

***
 
Ujung-ujung air  menghujam  kepala yang dilindungi mantel berwarna abu-abu. Pagi itu ketika penunjuk waktu belum bergesar dari angka tujuh, Ella bergegas ke luar dari rumah sakit.  
Akhirnya, pemilik sepasang kaki jenjang itu memelankan langkahnya menyusuri tempat di mana baku tembak antara tentara Jerman melawan tentara Inggris berlangsung tadi malam, dengan kekalahan berada dipihak Inggris. Mayat-mayat berserakan dengan berbagai luka yang tak akan pernah dapat ia lupakan seumur hidup. Genangan air hujan menjelma menjadi anak sungai dengan aliran yang berwarna merah. Bak radar, sepasang retinanya mengamati satu persatu tubuh yang tidak lagi bernyawa. Tucker kembali melangkah hati-hati. Ia berhenti sejenak mengamati salah satu korban yang tewas. Tersemat lambang bendera kebangsaannya pada seragam salah satu mayat yang keningnya berlubang akibat muntahan timah panas itu. Ia menelan ludah. Menghela napas dan kembali mencari tentara perang yang masih bernyawa. Hening dan mencekam. Seolah tak ada tanda kehidupan. Belgia bagaikan kota mati saat itu.
 
Bangunan di sekitar ia berdiri, banyak yang rata dengan tanah akibat ledakan boom. Jikalau pun ada yang masih terlihat kokoh, bentuknya tidak lagi sempurna. Ella Tucker  bersama dengan Edith Cavell dan beberapa perempuan lainnya bertugas mengurus tentara yang terluka akibat perang. Baik pasukan dari Jerman, maupun tentara sekutu yang kebetulan bersal dari Inggris, di mana Tucker lahir dan dibesarkan.

***

Malam itu seperti yang sudah-sudah, Tucker membantu tentara Inggris yang menjadi tahanan perang Jerman, untuk kabur dan kembali ke negaranya. Perempuan itu mengerti bahwa hal ini bahaya. Nyawa adalah taruhannya. Tapi, kembali lagi atas dasar kemanusian, pemilik mata biru muda itu masih nekat melakukan aksinya.

"Kamu sudah siap?" tanya Ella pada lelaki berambut cepak yang berdiri di sampingnya. Lelaki yang masih mengenakan seragam sama ketika ia melawan sekutu tersebut, mengangguk yakin.

Keduanya mengendap-endap berjalan meninggalkan rumah sakit. Sesekali tiarap menghindar dari sorotan lampu mercusuar. Derap langkah beberapa tentara yang sedang patroli, tak ayal membuat adrenalin keduanya terpacu. Keringat pun terus bercucuran. Akhirnya perjalanan berbahaya itu berhenti di depan parit yang tertutup oleh lempengan besi. "Buka penutup parit ini dan ikuti aku menuruni anak tangga yang ada di dalamnya." Ella memerintahkan hal itu pada Zean lelaki sebangsanya tersebut. Ia kembali mengangguk. Kedua tangannya yang kekar menggeser lempengan besi itu, pelan.

Ella terlebih dulu masuk, diikuti Zean yang tak lupa kembali menggeser penutup parit tersebut. "Kamu selamat kini. Di bawah sana, lewat saluran air bawah tanah aku akan mengantarmu meuju pintu yang meiliki akses dengan dunia luar, yang jauh dari wilayah pertempuran," ujarnyapenuh opstimis.

Ella Tucker menghentikan langkahnya mendadak padahal ia belum menyelesaikan menuruni anak tangga itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Darah yang mengalir di seluruh tubuh lansingmya, berdesir panas. Kedua biji matanya nyaris lompat dari tengkorak yang membingkai. Zean tak kalah terkejutnya dengan perawat berparas lembut tersebut. Mulutnya terbuka lebar ketika menyadari beberapa tentara Jerman berdiri tegap di depan mereka lengkap denga revoler Ak-47 yang disilangkan di dada keenam tentara itu.  Rupanya gerak-gerik Ella Tucker telah tercium oleh serddu Jerman.

***
Pada kamar yang gelap Ella disekap. Luka lebam menghiasi tubuhnya. Penyiksaan demi penyiksaan telah ia terima selama beberapa minggu setelah kejadian malam itu. Zean ditembak di tempat.


Jumat, 07 Februari 2014

Sakura Drop

Diposting oleh Rumah Kopi di 17.25 0 komentar

Apa yang menarik dari sini?

Sakura mendadak jadi primadona. Bagaimana tidak? Keberadaannya yang sangat terbatas tentu dielu-elukan berbagai pihak. Sekonyong-konyong banyak potografer yang ingin mengabadikannya.

Apa hubungannya dengan tema tulisan yang akan aku usung kali ini?

Hemm. Sebenarnya nggak ada, sih, hanya saja aku ingin menjadi sakura. Ekseklusiv dan disukai banyak orang. Tanpa cacat. Sakura tumbuh begitu sempurna. Sayangnya semua hanya sementara. Keindahan sakura tak bisa bertahan lama. Ketika hujan mengguyur kelopaknya yang indah, sakura pun tak lagi merekah. Tak jarang banyak yang berguguran di tanah. Persis dengan apa yang terjadi dalam hidup ini. Hal baik atau buruk, semua hanya sementara terjadinya. Maka harus dinikmati dan dijalani sebaik-baikknya.

Sayang sekali, itu hanya ucapan. Kenyataannya, menjalani tak semudah itu. Hati adalah bagian paling sensitif dari manusia. Mobilitas penggerak. Jika hati sedang tidak merasa nyaman, kegiatan yang dilakukan pun juga berantakan.

Hati.

Oh, ada apa dengan hatiku? Ingin rasanya aku menangis. Tapi, air mata tak dapat keluar. Gelisah. Jika sakura riskan terhadap guyuran air hujan, maka hati, rentan dengan keadaan yang tak nyaman. Nggak betah. Ingin pergi. Namun, semua juga harus dipertimbangkan lagi. Tak boleh gegabah. Ikuti saja aturan mainnya. Toh, semua hanya sementara.

Kamu, key, tidak akan tau bagaimana menjaga dan berhati-hati, sebelum terbentur dengan masalah yang seperti ini. Aku bingung. Sungguh. Ya ampun, padahal baru beberapa hari menikmati kehidupan baruku. Semua sudah berlalu. Cepat sekali.

Kali ini aku tak ingin berbagi. Kusimpan semuanya sendiri. Di sini. Barangkali meskipun hatiku penuh sesak dan tak kuat menampung sekali pun, aku tak ingin bercerita dan membaginya.

Aku benci aturanmu. Aku tak tahan. Tapi, Semua sudah terlanjur. Sialnya aku tak punya pilihan. Yah! Mau nggak mau, harus maju. Semoga kamu berubah.

Kau munafik. Baik jika dikasih sesuatu. Padahal aku sudah mati-matian, profesional kerja. Namun, di depanmu aku selalu saja keliru.

Biarin deh! Jalani saja. Jika hidup itu asem manis. Pasti ngga selamanya kan, kamu membuatku tertekan.

Pasrah pada-Mu Tuhan. Lindungi aku.

Rabu, 22 Januari 2014

Tugu Rantai

Diposting oleh Rumah Kopi di 20.39 0 komentar
Sepintas bangunan itu terlihat biasa saja. Monumen peletakan batu pertama yang berbentuk tugu itu disebut ’Tugu Rantai’. Di samping tugu yang memiliki tinggi 10 meter itu, terdapat sebuh rantai yang melingkar -- ditopang oleh ke5 besi cor setinggi 50 senti. Warga di sekitar Desa Bendogerit, Kabupaten Blitar meyakini mitos turun temurun dari pendahulunya. Konon jika rantai itu putus, dapat ditebak beberapa hari kemudian akan terjadi malapetaka di sekitar jalan yang menuju simpang tiga1 tersebut. Di mana tugu itu berdiri kokoh.


Jam 02.00 dini hari saat semua orang terlelap, seperti biasa Mang Ncus mengayuh sepeda tuanya membawa sekarung nanas dagangannya menuju lapak buah di Pasar Legi. Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan leleki berbadan kurus itu. Ketika berada tak jauh dari tugu yang memiliki kekuatan magis tersebut, tiba-tiba ban sepedanya bocor. Terpaksa dia menuntunnya. Suara hewan malam yang bersahutan menambah suasana  malam itu kian mencekam. Sesekali terdengar suara lolongan anjing hutan yang membuat bulu kuduk berdiri.


PYAAAKK! Tepat ketika Mang Ncus melintas di sebelah tugu tersebut. Rantai yang melingkari tugu itu jatuh. Duh, Gusti. Alamat akan terjadi hal buruk di kampung ini. Jerit hatinya. Mang Ncus tak kuasa lari lantaran bawaannya yang berat.

***


”Key, ikut aku kerumah teman yuk!” ajak Mbak Zahra sepupuku.
”Nggak mau ah, takut. Udah jam 21.00 tuh! Lagian di luar sedang gerimis, juga!” ucapku menolak. Mataku tak beranjak dari TV yang sedari tadi aku pelototi.
Mbak Zahra tampak gelisah. Dia mondar-mandir di samping tempat dudukku. Sesekali digaruknya kepala yang berjilbab coklat muda itu. Menggigit bibirnya. Kadang memonyongkannya.


”Ayo lah, Key, ini penting banget. Modemku ketinggalan di rumah Vita, tadi.” Air muka sepupuku terlihat memelas. Sebenarnya aku tak tega melihatnya. Tapi, aku tak mau mengambil resiko keluar malam-malam begini. Apa lagi kabarnya, seseorang mendapati rantai yang mengelilingi tugu angker itu putus beberapa hari yang lalu. Ya. Mang Ncus tetanggaku, menyaksikan sendiri kejadian putusnya rantai itu.


Mbak Zahra terus membujukku. Dengan malas, akhirnya aku beranjak pergi ke kamar. Mengambil jaket. Kemudian siap-siap menerobos dinginnya malam itu.
Bukankah ini malam Jumat. Lirihku. Tentu saja kampung sepi. Biasanya Kamis malam, bapak-bapak mengikuti rutinan tahlilan.


Di bawah rintik hujan, Mbak Zahra membawa motor mio kesayangannya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba terlintas dibenakku tentang kecelakaan yang terjadi kemarin lusa. Pandu. Pemuda warga kampung Bendogerit, berusia 19 tahun meninggal karena motor ninja yang dikendarainya bertabrakan dengan truck bermuatan tebu. Pemuda itu meninggal di tempat kejadian yang tak jauh dari tugu rantai.


”Mbak, biasanya orang yang meninggal dengan cara mengenaskan, arwahnya masih penasaran dan gentayangan di sekitar kejadian,” ucapku.
”Ngomong apaan sih!” sergah Mbak Zahra tak suka.
”Beneran deh, semalam ada yang ngomong, melihat seorang berpakain putih mondar-mandir. Gelisah. Tepat di tempat kejadian.” Aku terus membicarakan hal yang aku sendiri tak mau mendengarnya.


”Kamu bisa diam nggak, sih, Key? Atau, aku turunin di sini.” Suara Mbak Zahra mulai meninggi. Marah. Mungkin.



Brrttt ... Brrtt ... Brrttt! Tiba-tiba motor yang kami tumpangi melambat. Dari suaranya, motor ini kehabisan bahan bakar. Tapi bukan itu penyebabnya. Seingatku sore tadi Mbak Zahra ke SPBU memenuhi tengki bensin motornya. Kalau begitu ... Ah! Sial! Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan arwah penasaran itu. Batinku.


Gadis berlesung pipit itu meminggirkan motornya. Aku pun turun tanpa diminta. Bak radar, mataku mengawasi sekeliling tempat kami berdiri. Sepi. Tak terlihat rumah penduduk satu pun. Tak jauh dari kami berada, nampak tugu yang menjulang tinggi. Tepat sekali. Itu adalah tugu rantai.


Di bawah sinar rembulan yang temaram, kami mendorong motor itu dan berharap seseorang melintas dan memberi pertolongan. Sayup-sayup terdengar deru mesin motor. Senyumku mengembang. Sebentar lagi bisa melanjutkan perjalanan jika orang yang melintas ini, mau memberi bantuan. Batinku.


”Mbak, tuh ada orang lewat. Minta bantuan sama dia, ya?”
”Husstt! Jangan sembarangan minta tolong orang di jalan!” tolak Mbak Zahra. ”Kalau dia orang jahat gimana? Bukankah kita bisa apes dua kali?” lanjutnya.
”Usaha apa salahnya sih!” mulutku tampak maju mengakhiri kalimatku.
Suara motor itu semakin dekat. Kulambaikan tanganku agar pengendara motor itu tau maksudku. Persis seperti yang aku harapkan, dia mengurangi kecepatannya dan berhenti di tempat kami berdiri.


Hening. Orang itu mematung di atas motor ninja warna hijau tersebut. Wajahnya tak terlihat karena tertutup helm yang dikenakannya. Aku merapat ke arah Mbak Zahra. Kami saling beradu pandang. Kuraih tangan saudara sepupuki itu. Embusan angin yang  bertiup, membuat bulu kuduku berdiri. Bersamaan dengan itu, aroma kembang serta bau kemenyan tiba-tiba menyeruak tajam. Orang itu masih tetap geming. Aku kembali melihat ke arah Mbak Zahra. Kugigit bibirku kuat-kuat. Takut.


Sesaat kemudian, pengendara motor itu menggerakan tangannya ke atas. Melepas helm. Detakan jantungku semakin tak beraturan. Napasku kian memburu. Dan ketika helm itu dilepas kami berdua tercengang. Saat itu juga rasanya jantungku berhenti berdetak. Darahku berdesir melihat makluk tanpa kepala sedang bertengger di atas motor ninja.


Tanpa ba bi bu, Mbak Zahra menyeretku lari meninggalkan tempat itu. Baru beberapa meter berlari, aku jatuh tersungkur. Sendal jepit yang aku kenakan putus. Susah payah aku berdiri, ada kekuatan super yang mencengkeram kaki kiriku. Aku kembali terjatuh sebelum berdiri sempurna. Mbak Zahra menarik tanganku. Makluk tanpa kepala itu menarik kakiku. Aku tak kuasa meronta. Kedua tangan makluk itu mencengkeram kakiku dan menyeretku sekuatnya. Jeritanku kian melemah. Sosok Mbak Zahra pun tak terlihat lagi.


***


Key, bangun. Pindah ke kamar sana. Lamat-lamat aku mendengar suara sepupuku membangunkanku. Sekonyong-konyong aku pun bergegas masuk ke kamar dengan menyeret selimut bermotif winie the pooh.

Aku Memang Manusia Biasa

Diposting oleh Rumah Kopi di 16.52 0 komentar


Dear My Lalaland ... Apa kabar? Udah beberapa hari ini aku melupakanmu. Maafkan ya! Kesibukanku di dunia nyata menyita waktu sehingga aku lupa mengukir cerita di tubuhmu. Oh, iya, bulan ini banyak event, lo ... Tapi sayangnya aku tak kunjung sembuh dari sakit. Meskipun ringan tetapi flu ini menggangguku. Eng ... Kebanyakan minum obat sampe nge-blank. Otakku terasa ringan sehingga nggak bisa mikir apapun.

Emmm! Kau mau tau cerita hatiku juga ’kan, Lalaland? Mari duduklah mendekat, akan aku ceritakan semuanya. Kau tak perlu berkomentar. Cukup dengarkan dengan baik. Semua cerita ini.



Baiklah, aku akan memulai dari cerita sahabat.


Aku ... Emmmm! Jujur aku bingung. Sebagai sahabat yang notabene seorang manusia biasa, tentu saja aku jauh dari sempurna. Tetapi aku berusaha menutup kekuranganku kemudian menempatkan diri sebagai mana mestinya. Aku siap menjadi tisue untuk menghapus air matamu. Aku juga menjadi tong sampah yang menampung keluh kesah. Dan terkadang aku menjadi mentor bergaya seperti intelek yang tak lelah memberi motivasi agar dirinya sadar dan mampu menghargai diri sendiri.
Sejenak dia tampak terharu dengan ketulusanku. Dan berterima kasih padaku meskipun aku tak mengharapkannya. Tetapi, aneh! Tiba-tiba dia berubah. Sikapnya dingin. Aku jadi serba salah. Ya, tentu saja aku bingung. Kehangatan dan keceriaan itu hilang. Aku mencoba mengklarifikasi agar aku tidak salah paham. Dia hanya membalas seperlunya.
Awalnya aku ngerasa nggak enak. Tapi, ngapain juga aku berpikir seperti itu? Toh! Aku nggak ngerasa menjahati dia. Menyebarkan masalahnya, atau menjadikan masalahnya sebagai bahan ejekanku. Tidak! Sama sekali tak pernh aku lakukan. Maka aku tak ingin membebani pikiranku dengan masalah yang nggak penting.


Kali ini cerita tentang bersosalisasi di dunia maya.


Harus hati-hati. Memilah dan memilih teman. Bagaimanapun kita tak pernah tau latar belakang hidupnya. Sebenarnya sih, nggak penting ya! Tapi, jika sudah menyangkut teman dekat, mau tidak mau kau harus belajar berpikir kritis dan sedikit berburuk sangka untuk berjaga-jaga. Intinya jangan terlalu percaya dan mudah terpedaya.

Oh, iya. Ada yang menggelitik pikiranku. Sesorang berupaya menjadikan dirinya intelek dan berwawasan luas dengan melahap banyak buku. Ternyata kecerdasannya dijadikan modus mengelabuhi cewek. Yang lebih menjijikkan, sampai menciptkan cerita palsu demi menarik simpatik. Jika kau benar-benar memiliki jiwa besar. Penolong, bisa jadi kau mudah masuk dan terjebak dalam permainannya.
Ayolah, teman ... Apa kau lupa akan adanya Tuhan? Jangan terlalu sering mengadukan kepenatan hati dan kegelisahanmu pada orang lain. Mending menghadap dan minta tolong saja pada-Nya.


Aku sempat nggak enak hati kemarin. Tentang isi chatt itu. Seolah aku lebay terlalu lunak dan seperti memberi harapan. Huaaaaaaaaa apa kau tau, saat aku menulis kata demi kata itu, sejujurnya aku muak. Mengerikan sekali jika itu terjadi. Apa iya aku jatuh cinta sama penerjemah satwa itu. Oh, tidak! Tidak! Meskipun aku juga bukan manusia sempurna tetpi orang itu jauh dari apa yang aku harapkan. Moralnya hancur! Lantas, apa lagi yang dibanggakan? Dari awal aku tau siapa dia? Jika aku masih berteman, bukan berarti aku tak menjaga jarak dan bersikap sewajarnya sahabat.
Aku tidak membedakan teman, siapapun dia, tetap berhak menjadi temanku. Manusia samanderajatnya dihadapan Tuhan. Meskipun dia gigolo, aku tidak menjauhinya. Itu ’kan urusan mereka? Yang penting tidak merugikanku, bagiku semua sudah tepat. Tetapi, ketika aku sudah berada pada posisi yang bahaya, maka aku harus bertindak. Menjauh dan jaga jarak.
Chatting itu! Hhmm! Aku hanya ingin memancing keluar apa yang terselinap di hati dan pikirannya? Sesaat aku tau dia ingin memanfaatkanku. Ya, sudah! Aku harus menutup buku tentang dirinya. Aku nggak sebodoh itu mengeluarkan biaya operasi puluhan juta demi pembohong sepertimu. Enyahlah kau ke neraka bersama para hewan itu.

Jangankan cemburu, naksir aja kagak! Ayolah ... Bodoh sekali dirimu? Bahkan aku tak pernah menggubrismu! Kenapa bisa kau berpikiran kayak gitu?

Tutup buku bergambar pandora.



Cerita terakhir tentang diriku.

Aku seorang yang idealis dan perfecsionis. Bukan tentang fisik. Melainkan totalitas mengekplor hati. Selalu ingin memberikan yang terbaik, sehingga akunsering mengabaikan diriku. Aku, mungkin pantas dijuliki lilin. Mampu menerangi sekitar tapi aku sendiri meleleh.
Kau tau? Aku juga manusia biasa. Aku punya air mata, luka, marah, sam seperti yang lainnya. Tetapi, aku tak ingin menunjukkan penderitaanku pada orang lain. Tidak! Aku tak ingin menebarkan aura hitam pada orang yang kusayang. Maka dari itu, aku selalu ceria!

Taukah kau? Aku meringkuk sakit sendirian. Jika sakit kepala dan mual itu sudah datang, aku tak nyaman lagi untuk beraktivitas. Namun begitu, aku masih memaksa diriku menyelesaiakan tugasku.

Aku percaya bahwa tak selamanya aku berada di zona nyaman. Pun aku juga tau kesedihan itu pasti berlalu. Oleh karena itu, aku harus tetap optimis menjalani hidup. Aku tau bagaimana membahagiakan hatiku. Memikirkan hal sederhana pun sudah bisa membuatku bahagia. Bukannya tak butuh orang lain, tapi aku tidak ingin menggantungkan semangat dan kebahagiaanku pada siapapun. Jika ada, mereka adalah pelengkap bukan pemberi kebahagiaan.

***

Taipe 22, Januari, 2014

Selasa, 21 Januari 2014

Jodoh Di Tangan Tuhan. Cinta Harus Diperjuangkan

Diposting oleh Rumah Kopi di 21.21 0 komentar


Namanya Dias. Dia anak tunggal dari Haji Sanusi. Dibesarkan di tengah keluarga serba ada, justru membuat mentalnya sedikit lemah. Hei! Jangan mikir yang tidak-tidak ya?
Semua hal begitu mudah didapatkannya, kecuali cinta dari kaum hawa. Bagaimana dia bisa mendapatkan cinta, untuk berkenalan dengan seorang gadis saja, dia tak pernah punya keberanian. Apakah, hai! Hallo? Sedang apa? Atau, bolehkah aku duduk ? Hal sesederhana itu pun tak mampu dia lakukan. Alih-alih menyapa duluan, didekati cewek saja, keringat dingin langsung merembes dari pori-pori kulitnya yang kuning. Di usianya yang sudah hampir berkepala tiga, tentu orangtuanya selalu mendesak Dias untuk segera menikah.


Berkali-kali orangtuanya berusaha menjodohkan, dan sering kali pula cowok berwajah kalem itu menolak. ”Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya, Bu. Tapi, jamannya Siti Nurhaliza.” Katanya, sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. ”Kamu itu, paling bisa membantah.” Ibunya sewot dengan penolakan putranya tersebut.
Perdebatan seperti itu sudah tak asing lagi terjadi di tengah keluarga mereka. ”Bilangnya, punya banyak teman cewek. Mana buktinya? Dari dulu kemana-mana selalu sama Yanu.” Ujar ibunya. ”Jangan-jangan kalian ...” Ibu menghentikan kalimatnya. ”Husst! Sudahlah, Bu. Jangan mikir yang nggak-nggak!” sergah Bapak. Laki-laki paruh baya itu mencoba melerai.

"Teman Dias memang banyak, Bu. Noh, dari yang mukanya mirip Agnes Monica, sampai yang ngenes mau cerai juga ada. Tapi, jodoh itu di tangan Tuhan, bukan di tangan Ibu. Main jodoh-jodohin aja. Kayak anaknya nggak laku ini." Ibunya menghela napas kasar, tak ada senyum yang tersungging di wajah yang terbingkai jilbab itu. Ekspresinya nampak datar.


****


Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, minggu pagi pukul 08.00 WIB, Yanu dan Dias berangkat dari kota Blitar, menuju Bendungan Wonorejo. Karena tempat tersebut berada di pesisir barat kota Tulungagung, butuh waktu satu setengah jam untuk sampai di sana. Joran, benang, mata kail, umpan, sudah dipersiapkan sebelumnya. Dengan mengendarai motor honda vario, mereka menyusuri jalan propinsi yang menghubungkan kota Blitar—Tulungagung. Jalan raya nampak lengang pagi itu.


Setelah melewati perkebunan teh, dan hutan pinus, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Empat pasang mata pemuda itu, disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan ketika sampa di sana. Hamparan air bendungan yang berwarna biru tenang, adalah hal yang paling mencolok. Seperti manusia primitif yang baru datang ke kota, Yanu tak henti-hentinya mengucap decak kagum atas apa yang dilihatnya. ”Bro, keren banget. Sumpah! Aku baru pertama kali datang ke sini.” Mata sipit Yanu masih sibuk menelanjangi Waduk yang terbesar di kawasan Asia Tenggara itu. ”Kamu sih, mentang-mentang tinggal di kota, mainnya ke tempat-tempat dugem. Apa asyiknya coba?” tanya Dias sembarangan.


”Sesekali nggak apa-apa kali, Bro! Refreshing, anak muda gitu loh! Ntar nih, kalau anak-cucuku tanya, tentang diskotik dan segala hal di dalamnya, aku bisa menjawab.” Balas Yanu tak mau kalah. Seketika itu juga Dias memukul pelan kepala sahabtanya itu.

”Gila, coba lihat! Ada speed boat-nya juga di sana.” Telunjuk Yanu menunjuk ke arah speet boat itu. ”Wooee! Kampungan banget sih, namanya juga tempat wisata. Ya, tentu saja prasarananya lengkap.” Ucap cowok berambut lurus yang selalu disisir ke kanan itu, tegas." Kamu pikir cuma Bali saja yang keren! Tuh, lihat di sebelah sana, ada tempat penginapan. Di sebelah sana itu, ada taman bermain.” Lanjut Dias menjelaskan.


Beberapa saat kemudian, keduanya berjalan beriringan sambil menikmati udara sejuk khas pegunungan yang bebas dari polusi udara. Dari jauh, pohon-pohon terlihat seperti miniatur yang tertata rapi.


”Bro, aku letakkan di sini!” Kata pemuda keturunan tiong hoa itu sambil menaruh kotak berisi peralatan pancing tersebut. ”Wooee! Agak ke samping kanan dikit,” teriak Dias dari kejauhan. ”Lihat, ada genangan air. Nampaknya sisa hujan semalam,” lanjutnya. Sambil memelototi hp-nya, Yanu menuruti ucapan sahabatnya yang berusia tiga tahun di atasnya tersebut.


”Nih, punyamu!” ucap Dias sambil menyodorkan joran lipat dari dalam kotak warna biru. Sejenak keduanya tengah sibuk mempersiapkan peralatan pancingnya. Bebarapa saat kemudian setelah siap, kedua sahabat itu berjalan mendekat ke danau yang permukaannya selalu nampak tenang itu.

“Hati-hati, rumputnya licin.” ujar Dias mengingatkan, sambil melempar mata kailnya ke air. Kemudian di atas rermputan yang basah itu, Dias duduk santai-- diikuti Yanu, sahabatnya.


”Ternyata, yang paling sulit bagi lelaki dewasa yang masih lajang adalah memutuskan tepat tidaknya seseorang yang hadir memberi cinta yang hadir untuk pendamping hidupnya.” ucap Dias memulai percakapan, sambil meloloskan satu batang rokok kemudian menyulut api ke ujungnya.



”Itu artinya kamu menginginkan pendamping yang sempurna. Bukankah tak ada manusia yang sempurna? Kalau kamu terus-terusan ragu, aku yakin, kamu akan menjadi lelaki lajang selamanya.” jawab Yanu dengan tenang. ”Kalau kamu menyia-nyiakan kesempatan kecil, bisa jadi, kamu juga bisa kehilangan kesempatan besar.” Lanjutnya.



”Tapi, bukankah cinta boleh memilih?” tanya Dias akhirnya.




”Iya sih, tapi bukan berarti kamu harus menyia-nyiakan seseorang yang dengan tulus mencintaimu.”


”Tapi ...” Dias menghentikan kalimatnya. Pikirannya melesat pada sesosok cewek yang akhir-akhir ini rajin mendekatinya. ”Ah, aku tak pernah cocok dengannya, bagai barat dan timur.” Cowok yang memiliki lesung pipit itu tersenyum kecut. Dia tak ubahnya seperti prajurit yang menyerah sebelum perang.

”Terus, maunya bagaimana? Mengabaikan? Ingat, yang kamu singgahi itu hati bukan rumah yang seenaknya saja datang dan pergi sesuka hati. ”Ketidak cocokan itu berasal dari mana? Latar belakang, cara pandang tentang kehidupan? Atau gaya hidupnya sehari-hari?” Bagaikan Polisi yang mengintrogasi terdakwa, pertanyaan demi pertanyaan Yanu membombardir sahabatnya yang tengah galau itu.

”Salah satunya itu?” jawab Dias ragu.


”Manusia itu diciptakan dengan segala macam perbedaan, kawan. Dan kecocokan itu akan hadir seiring berjalannya waktu. Pelan-pelan jika kalian mencoba menyesuaikan diri, aku rasa tidak ada lagi kata ketidak cocokan.”

”Hah, entahlah. Aku masih bingung.” Pandangannya tidak beranjak dari arah semula. Sesekali embusan angin menyibakkan rambutnya yang lurus. Tersirat beban di wajahnya. Namun, sebenanrnya masalah itu berasal dari keraguannya sendiri yang selalu bingung menentukan pilihannya.

”Dan yang harus diingat lagi, menikah adalah ladang berkah bagi suami yang dengan sabar memberi pengarahan pada istrinya. Mendampingi wanitanya menjadi istri solehah.” Ekspresi Yanu nampak serius kala itu. Mendengar ucapan sahabatnya, Dias mengerlingkan matanya, dengan mimik muka Nampak sinis. Dia seolah tidak percaya apa yang baru disampaikan sahabtnya tersebut.

”Gayamu, sok gurui! Kerjaannya keluar masuk diskotik juga.” ujar Dias datar.


”Eits! Jangan salah. Ke diskotik, belum tentu aku menyentuh minuman beralkohol, atau menggoda wanita di sana.”

”Lalu?”

”Udah deh, nggak usah bahas diskotik. Yang jelas, kediskotik itu nggak selalu berbuat maksiat. Catet!” tandasnya. ”Ada yang salah dengan persepsi kamu.” Yanu menghentikan kalimatnya, menghela napas untuk mengatur perasaannya saat itu. ”Mungkin kamu berpikir, bahwa gadis yang baik itu, pasti berjilbab.”

”Tentu saja! Tuhan menganjurkan demikian.” Dias memotong ucapan cowok beralis tebal itu.

Yanu geming. Tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tahu watak sahabatnya itu. Percumah berdebat soal ini dengannya. Toh, Dias bakalan ngotot mempertahankan pendapatnya.

”Menikah itu untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Coba deh, kamu tanya sama hati kecilmu? Kira-kira ada perasaan nyaman tidak saat kalian ngobrol misalnya?” Belum sempat Dias menjawab pertanyaan, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik umpannya. Bersamaan dengan itu, ada panggilan masuk ke hp-nya. Tertulis nama ibunya di layarnya. Konsentrasi Dias terpecah. Dia gugup, akhirnya tangkapannya lepas.

”Assalamualaikum. Iya, Bu. Ada apa?”

”Kamu harus pulang sekarang juga!” perintah ibunya.

”Iya, tapi Ibu bilang dulu. Ada apa? Jangan bikin Dias bingung dong, Bu ...” dia memelankan suaranya. Ibunya tidak lekas menyampaikan sesuatu yang dimaksud. Wanita paruh baya itu mewanti-wanti supaya anak lelakinya segera pulang.

Disampaikannya hal itu pada Yanu sahabtanya. Meskipun belum mendapatkan hasil, terpaksa keduanya pulang. Sepanjang perjalanan  pikiran Dias gelisah tak karuan.

***
Sebuah mobil terparkir di pekarangan rumahnya. Dias bergegas menyelinap masuk dari pintu samping. Ibunya sudah berdiri di depan pintu. Dias segera mencari tahu apa sekiranya yang terjadi. ”Buruan mandi, dan berpakaianlah yang rapi!” ujar ibunya.

”Lagi dan lagi.” Dias seakan mampu membaca pikiran ibunya, kalau perintahnya itu terkait dengan para tamu yang datang. Ya, tentu saja acara perjodohan.

Dias melenggang meninggalkan ibunya. Diambilnya handuk dari kamar, kemudian pergi mandi. Setelah mematut dirinya di depan cermin, cowok berpostur tinggi tersebut terduduk di tepi ranjang. Beberapa detik kemudian dia keluar rumah dari pintu dapur. Kabur. Ya, itulah yang ada di benaknya saat itu. Tetapi, tiba-tiba ucapan Yanu siang tadi, kembali terngiang di telinganya. Jangan kecewakan orangtuamu, jika tidak ingin sial seumur hidup. Oleh karenna itu, Dias mengurungkan niatnya. Langkahnya terhenti. Dilema sedang berkecamuk di benaknya. Tentang janjinya pada seseorang, serta rasa bersalah karena mengecawakan orangtuanya.

Sementara itu, di ruang tamu seorang gadis berparas rupawan duduk di antara dua keluarga besar tersebut. Hijab berwarna biru muda dengan busana warna senada, semakin menambah sempurna penampilannya. Haira namanya. Dia putri Haji Ahsan, sahabat lama Haji Sanusi.


***

Siang itu, kota Blitar diguyur hujan yang turun tanpa jeda sejak pagi. Nampak seorang laki-laki dan perempuan berjalan beriringan di bawah payung menuju rumah keluarga Haji Sanusi. Mereka tak lain adalah Dias dan Mutia. Ibu dan bapaknya terduduk di kursi ruang tamu menunggu keduanya. Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan kedua orangtuanya, Dias sesuai janjinya memperkenalkan gadis pilihannya. Ekspresi Ibu nampak aneh. Dia kecewa. Sungguh. Bagaimana tidak? Perjodohan tempo hari kembali gagal. Kali ini putra semata wayangnya membawa gadis cacat--diperkenalkan sebagai calon istrinya.

" Kamu ini sudah gila, apa?" ucap ibunya gusar. Ditariknya tangan Dias ke ruang tengah, di mana percakapan mereka tidak sampai terdengar sampai di ruang tamu." Ada apa, Bu?"

" Kenapa kamu memilih gadis pincang itu sebagai istrimu, Dias?" sambil bersungut-sungut, ibunya beringsut--bersandar di dinding ber-cat pitih itu."Bu, maaf." Dias terdiam dan menunduk. Air matanya menetes, dan setelah berlutut dihadapan ibunya, kemudia dipeluknya erat kedua kaki wanita paruh baya tersebut.

"Dengarkan penjalasanku dulu, Bu. Dias sudah lama mengenalnya tanpa menjalin hubungan apa-apa. Hanya saja setelah kejadian itu, Dias berjanji suatu hari jika memang Tuhan memperkenannkan, aku akan meminangnya tentu dengan restu Bapak serta Ibu." Katanya, sambil sesenggukan.

"Kajadian apa, Nak?"

"Bu, lima tahun yang lalu, di bawah derasnya hujan, aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Pandanganku kabur waktu itu. Dan ..." Dias menghentikan kalimatnya.

"Lanjutkan." Perintah Ibu.

"Dias menabrak seorang kemudian kabur begitu saja." Tubuh Dias gemetaran dan masih dalam posisi memeluk sepasang kaki ibunya, tangisnya pecah tak terbendung menyesali kasalahannya. Wanita berhijab itu geming.
“Kemudian dari tetangganya, aku  mendapat informasi bahwa gadis yang aku tabrak mengalami patah kaki, Bu. Dia itu Mutia, yang sekarang ada di ruang tamu." lanjut Dias.

"Bangkaitlah, Nak." Ibunya menyerukan ucapan itu dengan suara parau. "Apa kamu sudah berterus terang dan minta maaf pada kelurga gadis itu?" tanya ibunya akhirnya, kedua tangannya mencengkeram lengan putranya tersebut. Dias yang masih tertunduk, hanya mengangguk. Kemudian berkata, "Mereka memaafkan Dias dan tidak menuntut apa pun, Bu? Sungguh, mereka keluarga yang sangat baik dan berjiwa besar. Semua ujian berasal dari Tuhan. Itulah yang diucapkan bapaknya Mutia tempo hari."

“Meskipun cacat, Mutia tak berkecil hati untuk melanjutkan hidupnya, Bu. Dia lulus sarjana dengan nilai terbaik. Dan … Mutia gadis yang soleha, maka Ijinkan Dias menikahinya ya.”
“ Menikahlah dengan gadis pilihanmu, Nak. Ibu merestui kalian. Iya kan, Pak?” ujar Ibu ketika mereka berada dalam satu ruangan yang sama.


Selesai.

Top of Form
Bottom of Form

 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting