Sabtu, 24 Januari 2015
Selasa, 09 Desember 2014
Winter In Taipe
Hai, Lalaland. Selamat pagi. Sudah sarapan? Emmm ...! Apa rencanamu pagi ini sampai sore nanti.
Aku kasitahukan padamu, ya. Jadwalku cukup padat hari ini. Bisa jadi, aku tidak memiliki waktu istirahat. Apalagi telponan santai. Tetapi, bagiku tidak masalah. Sebab kautahu, dalam tujuh hari yang kaulalui akan ada satu atau dua di antaranya, hari itu membuatmu senewen. Aha! Pastikan lima hari lainnya terasa menyenangkan. Semangat!
Lalaland, terkadang manusia sering menyakiti dirinya sendiri. Dengan atau tanpa sadar. Misalkan saja, berpikir yang tidak-tidak terhadap sesuatu. Contohnya nih, kemarin aku pikir ada yang berubah setelah pertemuan hari minggu. Nyatanya aku salah besar. Mase tetap saja seperti yang selama ini aku kenal. Hangat. Pengertian. Perhatian. Walaupun galak sih! Hee ... Kautahu kan, Lalalalnd? Segala hal tidak mungkin berdiri sendiri. Ada hukum sebab akibat. Begitu pula sikap seseorang. Seharian Mase banyak diam. Ternyata dia sedang kurang enak badan. Mungkin darah rendahnya kumat. Atau apalah? Yang jelas bukan karenaku.
Eh, Lalaland! Aku dulu, seharusnya jadi itu apa namanya? Emmm... Detektiv. Ya! Ya! Selain detail menganalisa sesuatu, aku suka mempelajari karakter seseorang lewat caranya berinteraksi. Ih, apakah aku berlebihan? Kurasa wajar ya. Aku ingin mendewasakan diriku. Piawai membawa diri dan bersikap di depan khalayak umum.
Jadi begini, kemarin aku membaca obrolan seseorang. Lelaki dan perempuan. Tentu saja tidak ada yang istimewa. Namun dapat kutarik pemahaman, bahwa bercanda itu juga ada teorinya. Setidaknya, kenali lawan bicaramu. Di mana tempatmu berinteraksi. Lalu guyonan apa yang pantas dilontarkan. Ya, dengan begitu kau tidak akan terlihat tolol karenanya. Karena sikapmu sendiri tadi. Sederhana memang. Bisa jadi tidak banyak orang yang mempermasalahkan hal ini. Tetapi bagiku, dengan menjadikan diri sendiri pribadi yang sopan, maka otomatis orang lain menghargaiku.
Tidak perlu contoh untuk bergerak. Bergeraklah supaya menjadi contoh.
Taipe, 9 Desember 2014
Senin, 08 Desember 2014
Desember Rain
Hai, Lalaland! Ketemu lagi di musim dingin. Oh iya, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Banyak sekali, kautahu! Sebelumnya, aku akan menceritakan suasana kotaku siang ini. Matahari bersembunyi di balik awan. Tentu saja begitu, sebab sedari pagi gerimis tipis mengungkung kota. Musim dingin yang lengkap. Kotaku muram. Semoga hatimu dan hatiku tidak begitu.
Lalaland, di awal bulan november, tepatnya tanggal 7 hubungan yang telah aku jalin setahun ini kandas. Banyak hal yang menjadi pemicu. Kurasa semuanya tidak perlu dibahas. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana bertahan lalu bangkit dari keterpurukan. Luka ini terjadi di hatiku. Sudah jelas, hanya aku yang bisa mengobatinya.
Awalnya aku tidak mampu berpikir jernih. Sejak kejadian itu air mata berderai-derai, kautahu? Dan itu adalah gambaran perasaanku yang tengah terluka. Dalam sekali. Ah, mungkin juga tidak terlalu dalam.
Tuhan telah mengambil seseorang yang datang padaku tanpa kuundang. Lalu, atas kuasaNya seseorang itu pergi. Dia tidak menyakitiku. Kami memang tidak bia menyatu. Dan aku terus merangkak naik kepermukaan setelah air mata yang tertumpah, hampir saja menenggelamkan diriku.
Aku mencari makna atas apa yang sebenarnya terjadi? Hal buruk apa yang akan menimpa ketika memaksa bersama? Kebahagiaan seperti apa yang akan menghampiri ketika aku berani melepas rasa sakit yang membelitku! Ya, tentu saja aku sakit sebab aku terlalu banyak berharap. Mimpiku terlalu jauh. Dan ketika semua musnah, aku hampir saja linglung.
Lalaland, Tuhan selalu baik. Ketika Dia mengambil seseorang itu, segera Dia menggantikannya dengan orang baru. Tentu saja dia tak kalah hebat dengan orang yang telah keluar dari hatiku. Bahkan lebih hebat. Kemarin, tepat pasca satu bulan aku berpisah dengan mantan kekasih itu, kami bertemu. Maksudku aku bertemu dengan Mase. Sebut saja begitu.
Dia bukan sosok sederhana. Dia pribadi yang emm ... Sulit dijelaskan. Aku rasa, dia sangat menikmati hidupnya. Seleranya tinggi. Wawasan dan pengalamannya luas. Usianya terpaut beberapa tahun diatasku. Dia humoris. Kadang bercandanya membuatku kesal. Tetap saja itu menenangkan. Dihadapannya, sungguh aku tidak memiliki kesempatan untuk merajuk. Marah. Lebay. Dia mampu membuatku takluk. Dalam artian, sekali dia berucap aku lekas mematuhinya. Dia seseorang yang sangat perhatian. Pengertian. Tapi, moody. Oh, tidak! Ini PR terberat yang harus aku selesaikan. Aku juga moody. Dan bagaimana jadinya jika kami berdua berada dalam titik itu.
Ayolah! Jalani saja dulu. Kali ini aku tidak berani berharap banyak. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air yang pasti akan bermuara nantinya. Aku tidak mampu membatasi seberapa besarkah aku menaruh hati padanya? Tetapi aku harus bisa mengedalikan sikapku yang tidak perlu selalu tergantung padanya.
Aku harus terus bersemangat! Aku harus bahagia dengan atau tanpa seseorang yang spesial. Jodoh itu sudah diatur. Dan usahaku mendekatkan diri denganNya dengan Mase, bukankah itu suatu bentuk usaha menjemput jodoh?
Laland, perjalananku masih panjang. Menyelesaikan kuliah. Membahagiakan orangtua. Menabung. Sementara tujuan hidupku hanya itu. Tentang pendampingku kelak, aku pasrahkan pada Dzat Yang Maha membolak balikkan hati.
Saat ini sementara seperti ini saja dulu. Aku tidak mau terjatuh terlalu dalam. Saat ini biarkan saja semua seperti ini karena hatiku juga butuh istirahat. Eh, apakah ini perasaanku saja atau memang beginilah yang terjadi? Kurasa setelah pertemuan kemarin, Mase berubah. Ah! Tidak! Aku terlalu sensitif. Sikapnya bukankah sama seperti biasa? Emmm .... Tetapi, biasanya dia hangat memanggilku ‘sayang’! Kenapa hari ini sama sekali tidak kudengar panggilan itu?
Oh, semoga ini hanya perasaanku saja. Semoga dia tidak berubah. Sama seperti yang kukenal dulu. Semoga.
Taipe, 8 Desember 2014
Senin, 24 November 2014
Belajar Menulis Cerpen
Minggu, 23 November 2014
Rabu, 22 Oktober 2014
Great Day
Selamat pagi, Lalaland? Masih semangat ’kan?
Hari ke 22 di bulan oktober. Waktu berjalan begitu cepat, ya? Tak terasa sebentar lagi kita sampai.dipenghujung tahun?
Apa yang sudah kamu peroleh dari perjalanan selama hampir sepuluh bulan terakhir, Lalaland?
Kalau aku, sih! Emm ... Banyak catatan pekerjaan yang belum terselesaikan. Entah kenapa ada saja penyebabnya perihal alasan mengapa aku mengulur hal itu. Terkadang aktuvitas kerja menyita seluruh perhatianku. Tak jarang badan juga drop. Apa itu hanya kamuflase dari rasa malas yang membudaya?
Lalaland, untuk menjalani hidup bahagia itu kuncinya hanya satu. Fleksible. Lentur. Lentur di sini bukan berarti lembek yang mudah terombang-ambing alias tidak memiliki prinsip. Lentur versiku itu adalah bagaimana manusia mengikuti alunan kehidupan itu sendiri. Misal, ketika kita benar-benar mengharapkan sesuatu [A] namun nyatanya yang diperoleh justru [Z] yah, terima saja. Berpikir yang baik. Bahwa itulah yang terbaik.
Bukannya tidak mau berusaha! Bukankah pengharapan itu di dalamnya ada tindakan atas suatu keinginan?! Jadi ’lentur’ tidak boleh dianggap menyerah. Tetapi lebih dari penerimaan atas apa yang.didapat. Ketika bersikeras mempertahankan keinginan yang mungkin saja tidak bisa diperoleh hal itu justru menimbukan penyakit galau. Sedikit berharap, sedikit resiko patah semangat.
Mengenai pandangan orang terhadapmu, janganlah hal itu menjadi beban. Kita tidak perlu berpura-pura bisa kalau sejatinya memang belum mampu. Kita tidak harus sibuk menyapa mereka satu persatu hanya agar diakui bahwa kita ini bukan maklhuk sombong. Biarkan saja oponi terbentuk beraneka ragam. Tetap menjadi diri sendiri saja. Itulah hal terbesar yang harus selalu ada.
Dunia tak perlu tahu saat aku jatuh. Ketika aku sekarat. Atau semacamnya. Dunia hatus tahu bahwa aku begitu bahagia dengan kehidupanku.
Taipe, 22 Oktober 2014
Selasa, 21 Oktober 2014
Cerita Malam
Hai, Lalaland ....
Malam ini seperti biasanya aku mengikuti kelas dengan ngantuk. Pelajarannya nggak masuk ke otak. :D
Yang ini kalau ketahuan dosennya, aku pasti kena gampar. Tapi karena tidak ada rahasia di antara kita, aku kasih tahukan ke padamu, ya! Kalau dosen menjelaskan materi itu rasanya kayak dininabobokkan, deh! Hihi
Oh, iya Lalaland ... Kamu sedang sibuk apa sekarang? Lalu, bagaimana dengan teman-temanmu? Masihkah mereka seakrab dulu?
Kalau aku, ya! Seperti biasa. Sibuk kerja dan belajar. Wah! Hal itu terdengar keren sekali, pasti. Bisa membagi waktu antara kewajiban bekerja dengan tuntutan kuliah. Yang tak kalah kerennya lagi, nih ..., disempatin untuk tetap menulis. Itu sih, hobby yang sudah mendarah daging. Suka.
Yang paling menyedihkan dari itu semua, aku melakukannya dengan setengah hati. Ya, semuanya tak terkecuali. Sehingga kautahu sendirilah! Hasilnya nggak memuaskan. Pelajaran meskipun beberapa kali tugas mendapat nilai yang bagus, tetapi tak satu pun materi yang terserap di otak. Hah! Ya, benar. Aku payah!
Lalaland, dalam hidup itu kita tidak perlu menguasai.satu bidang tertentu. Menjadi ahlinya. Tidak perlu.
Kurasa tidak usah begitu. Mending mencoba mengerjakan atau mempelajari banyak hal supaya jika satu roboh-satunya bisa menopang. Menjadi orang yang serba bisa itu kan keren.
Taipe, 21 Oktober 2014

