Senin, 24 November 2014
Belajar Menulis Cerpen
Minggu, 23 November 2014
Rabu, 22 Oktober 2014
Great Day
Selamat pagi, Lalaland? Masih semangat ’kan?
Hari ke 22 di bulan oktober. Waktu berjalan begitu cepat, ya? Tak terasa sebentar lagi kita sampai.dipenghujung tahun?
Apa yang sudah kamu peroleh dari perjalanan selama hampir sepuluh bulan terakhir, Lalaland?
Kalau aku, sih! Emm ... Banyak catatan pekerjaan yang belum terselesaikan. Entah kenapa ada saja penyebabnya perihal alasan mengapa aku mengulur hal itu. Terkadang aktuvitas kerja menyita seluruh perhatianku. Tak jarang badan juga drop. Apa itu hanya kamuflase dari rasa malas yang membudaya?
Lalaland, untuk menjalani hidup bahagia itu kuncinya hanya satu. Fleksible. Lentur. Lentur di sini bukan berarti lembek yang mudah terombang-ambing alias tidak memiliki prinsip. Lentur versiku itu adalah bagaimana manusia mengikuti alunan kehidupan itu sendiri. Misal, ketika kita benar-benar mengharapkan sesuatu [A] namun nyatanya yang diperoleh justru [Z] yah, terima saja. Berpikir yang baik. Bahwa itulah yang terbaik.
Bukannya tidak mau berusaha! Bukankah pengharapan itu di dalamnya ada tindakan atas suatu keinginan?! Jadi ’lentur’ tidak boleh dianggap menyerah. Tetapi lebih dari penerimaan atas apa yang.didapat. Ketika bersikeras mempertahankan keinginan yang mungkin saja tidak bisa diperoleh hal itu justru menimbukan penyakit galau. Sedikit berharap, sedikit resiko patah semangat.
Mengenai pandangan orang terhadapmu, janganlah hal itu menjadi beban. Kita tidak perlu berpura-pura bisa kalau sejatinya memang belum mampu. Kita tidak harus sibuk menyapa mereka satu persatu hanya agar diakui bahwa kita ini bukan maklhuk sombong. Biarkan saja oponi terbentuk beraneka ragam. Tetap menjadi diri sendiri saja. Itulah hal terbesar yang harus selalu ada.
Dunia tak perlu tahu saat aku jatuh. Ketika aku sekarat. Atau semacamnya. Dunia hatus tahu bahwa aku begitu bahagia dengan kehidupanku.
Taipe, 22 Oktober 2014
Selasa, 21 Oktober 2014
Cerita Malam
Hai, Lalaland ....
Malam ini seperti biasanya aku mengikuti kelas dengan ngantuk. Pelajarannya nggak masuk ke otak. :D
Yang ini kalau ketahuan dosennya, aku pasti kena gampar. Tapi karena tidak ada rahasia di antara kita, aku kasih tahukan ke padamu, ya! Kalau dosen menjelaskan materi itu rasanya kayak dininabobokkan, deh! Hihi
Oh, iya Lalaland ... Kamu sedang sibuk apa sekarang? Lalu, bagaimana dengan teman-temanmu? Masihkah mereka seakrab dulu?
Kalau aku, ya! Seperti biasa. Sibuk kerja dan belajar. Wah! Hal itu terdengar keren sekali, pasti. Bisa membagi waktu antara kewajiban bekerja dengan tuntutan kuliah. Yang tak kalah kerennya lagi, nih ..., disempatin untuk tetap menulis. Itu sih, hobby yang sudah mendarah daging. Suka.
Yang paling menyedihkan dari itu semua, aku melakukannya dengan setengah hati. Ya, semuanya tak terkecuali. Sehingga kautahu sendirilah! Hasilnya nggak memuaskan. Pelajaran meskipun beberapa kali tugas mendapat nilai yang bagus, tetapi tak satu pun materi yang terserap di otak. Hah! Ya, benar. Aku payah!
Lalaland, dalam hidup itu kita tidak perlu menguasai.satu bidang tertentu. Menjadi ahlinya. Tidak perlu.
Kurasa tidak usah begitu. Mending mencoba mengerjakan atau mempelajari banyak hal supaya jika satu roboh-satunya bisa menopang. Menjadi orang yang serba bisa itu kan keren.
Taipe, 21 Oktober 2014
Kamis, 09 Oktober 2014
ARTI SAHABAT
Aku pernah dijukuki bunglon, tapi aku tidak merasa sedih atau semacamnya. Bukannya sok polos! Entahlah, yang jelas aku enjoy saja dengan julukan itu. Mereka pikir itu lelucon yang jika digunjingkan berjamaah, bisa mendatangkan gelak tawa nan meriah. Bagiku julukan tersebut justru mempertegas seberapa besar ketulusan yang aku miliki. Demi menciptakan pelangi di hari-harimu.
Waktu itu, kupecahkan celengan jago yang belum lama aku beli dari pasar loak. Bisa kaubayangkan bahwa berat benda tersebut belum bertambah dengan seberapa? Aku tidak peduli itu. Setelah celengan kubanting, tentu saja pecahannya beserta kepingan uang logam berserakan di lantai. Ibu yang mendengar suara gaduh dari kamarku, lekas menghambur menghampiri.
”Tentu saja Ibu tahu itu. Tetapi, adakah hal luar biasa hendak kaubeli dengan tabungan yang masih sedikit itu? Kenapa kau tak menyampaikan pada ibu, perihal keinginanmu itu!”
Aku berhenti memunguti uang logam tersebut. Setelah menghela napas lemah, kusampaikan niatku pada ibu, “Uang ini bukan untuk membeli sesuatu yang aku inginkan. Lebih dari itu. Aku sangat membutuhkannya. Demi seseorang yang jika tanpa kehadiranku, setiap detik di hidupnya akan terasa hampa.“ Saat aku menatap wajah ayunya, kedua alis ibu saling bertaut. Pastilah ibu menduga, bahwa putrinya sedang jatuh cinta.
“Ibu, tahukah engkau di mana aku bisa membeli sekotak senyum?” Mata ibu membola. Satu detik, dua detik, dan hingga detik kesekian ia terdiam.
”Ayolah, aku sangat membutuhkannya. Sekali lagi, demi seseorang yang sangat penting,” ujarku merajuk. Melihat ekspresi ibu yang datar, segera kukibaskan tangan kananku lalu berkata, ”Aih ... Janganlah Ibu bersedih karena tak ada yang mampu menggeser ke dudukanmu di hatiku. I love you, Ibu.” Aku pun terkekeh di akhir kalimat itu.
Ibu melangkah pelan kemudian duduk di tepi ranjang. Rasa penasaran tersirat di raut wajahnya.
“Kemarilah, Nak,” perintahnya sambil menepuk-nepuk tepi ranjang di sebelahnya.
”Kautidak bisa membeli senyum. Bukan karena jumlah uangmu yang sedikit itu.
”Lantas, di mana aku bisa membelinya, Ibu. Lekas katakan ....”
”Yang harus kautahu, Nak ..., senyum itu tidak bisa dibeli, dimohon, dipinjam, atau dicuri karena dia adalah sesuatu yang tidak berguna sebelum diberikan pada orang lain.”
Mendengar penjelasan itu, aku tertunduk lesu. Bagaimana ini? Semangatku tiba-tiba lenyap. Oh, ibu! Adakah yang bisa kulakukan demi seulas senyum ceria untuknya. Demi yang selalu menyebutku bunglon itu. Bisikku lirih.
Terkadang, di depan sahabat manusia tidak memiliki warna spesifik. Bukan! Bukan karena plin-plan. Bukan pula karena tidak memiliki karakter kuat sehingga tidak mampu mempengaruhi. Aku tidak memiliki satu warna saja. Tetapi lebih dari itu, tentu saja padaku ada sejuta warna.
“Kaujangan murung begitu, Nak. Meskipun tidak bisa dibeli, bukankah senyum itu bisa diciptakan? Kaubisa bercerita tentang suatu hal yang lucu pada seseorang yang kauanggap penting itu. Kau juga bisa mengajaknya untuk refreshing sebentar supaya suasana hatinya jernih kembali. Atau, lakukan apa saja sekiranya bisa menciptakan garis lengkung sempurna demi dia,” ujar ibu mencoba menyemangatiku.
”Oh, Ibu. Aku sayang padamu!” Senyumku mengembang. Mataku berbinar-binar. Semangat yang sempat lenyap bebarapa saat, kini telah hadir kembali.
Minggu, 05 Oktober 2014
ANAK SAPI
Sesampainya di rumah aku melempar sembarang tas sekolah itu, kemudian kubanting pintu keras-keras. Ibu yang sedang sibuk di dapur bergegas mencari tahu apa yang terjadi? Dipungutnya tas sekolah yang berada di lantai, setelah itu ia duduk di tepi ranjang. Mengetahui kedatangan ibu, aku bangun dan duduk di hadapannya. Dengan sorot mata tajam, aku yang berkepang dua—meminta penjelasan pada sesosok berparas lembut tersebut.
”Katakan sejujurnya, sebenarnya Sasi anak siapa?” ucapu sambil terisak-isak.
”Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” ibu kembali bertanya, bingung.
”Katakan saja, siapa ibu kandungku? Kata teman-teman, aku ini anak sapi.” Bibirku semakin maju. Sejurus kemudian aku kembali tengkurap di atas ranjang. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Sambil mengusap kepalaku, pemilik kulit kuning itu berkata, ”Tidak ada tanduk di kepalamu.” Seulas senyum tersungging di bibirnya. ”Berarti Sasi bukan anak sapi. Bukankah sapi itu bertanduk?” tandas Ibu.
Beberapa detik berikutnya aku kembali bangkit. Tak mau kalah dengan ibu, aku pun menjelaskan asal mula munculnya pertanyaan bodoh tersebut. Kusampaikan pada ibu bahwa teman-teman menyebutku ‘anak sapi’ lantaran dari kecil tidak minum asi melainkan susu kaleng. Dan karena setiap hari aku masih disuapi, temanku bilang: Itu memalukan.
”Apanya yang memalukan?” tanya ibu akhirnya.
”Disuapi itu memalukan, apa lagi Sasi sudah SD. Mulai sekarang, Ibu jangan lagi menyuapiku,”
”Ibu akan terus melakukannya.”
”Kenapa?”
”Karena Ibu sayang dengan Sasi.”
”Sampai kapan pun, selagi tangan Ibu masih bisa menyuapimu.”
Senin, 29 September 2014
Referensi Novel
Sewaktu didaulat menjadi first rider salah satu karya besar seorang Hengki Kumayandi, tentu saja saya merasa senang, terharu, sekaligus bangga (lebay dikit hihi). Terlintas di benak saya bakalan mendapat banyak ilmu baru dari penulis hebat, berdarah Sumatera tersebut. Yupp! INSYA ALLAH YOU’LL FIND YOUR AWAY merupakan karya ke tiga menyusul dua saudaranya VAN LOON (tidak dicetak ke dalam hard copy), dan TELL YOUR FATHER I M MOSLEM yang telah beredar di seluruh toko buku, Indonesia. Best Seller pula. Selamat ya, Kak.
Kak Hengki, selain penulis favorit saya ia sekaligus kakak angkat serta guru besar yang karya-karyanya selalu menginpirasi. Menurut saya, kalimat-kalimat yang terangkai dalam setiap pragrapnya sederhana, tetapi tentu saja penuh makna. Berbobot (yang berbobot bukan orangnya lo! Orangnya sih, ‘KURKESING’ alias kurus kecil langsing, hihi) cara bertuturnya lembut mencerminkan kepribadian penulisnya (bocoran bagi yang naksir kakakku).
Novel ini dituliskan berdasarkan kisah nyata seorang guru muda. Tetapi, tentu saja sedikit dibumbui adegan fiktif supaya lebih crispy. Oh, iya! Sebelum memulai membaca, saya sarankan kepada Anda untuk terlebih dahulu menyediakan segelas air putih, serta sekotak tissue. Untuk apa? Yang jelas bersiaplah emosi Anda di permainkan oleh si penulis. Ada adegan konyol yang bikin cengar-cengir. Ada juga adegan menengangkan, bikin senam jantung. Serta beberapa kejadian menyedihkan memaksa Anda menitikkan air mata.
Mengikuti perjalanan hidup BRAM tokoh utama dalam Novel tersebut, saya dipaksa untuk membuka mata lebar-lebar. Setelah itu, saya segera mengucapkan syukur bahwa ternyata hidup saya jauh lebih beruntung dari orang-orang di luar sana. Setiap manusia terlahir dengan persoalan-persoalan, serta beban hidup yang tak kalah berat dari apa yang saya alami. Namun begitu, setiap masalah pasti ada penyelesainnya. Salah satunya ialah, melalui pendekatan. Berbicara dari hati ke hati. Tentu kalian pernah mendengar penggalan kalimat ini? “Yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.” Nah, itulah bagian dari jurus andalan BRAM untuk menghadapi, mendamaikan murid-muridnya yang istimewa, lengkap dengan persoalan pribadi mereka—menyeret BRAM sang guru muda, masuk kemudian berputar-putar pada pusara kehidupan yang sempat membuatnya koma karena luka tusukan oleh salah satu murid dari sekolah lain.
Sekali lagi, BRAM mengajarkan saya bahwa untuk menyikapi persoalan hanya dibutuhkan dua hal. Kejernihan berpikir, dan ketenangan hati. Insya Allah ke duanya mampu memberikan jalan ke luar atas masalah apapun.
Bagi saya, ini bukan sekadar bacaan yang setelah dinikmati isinya lantas menguap begitu saja. Lebih dari itu. Novel ini merupakan obat mujarab untuk orang-orang yang dilanda galau. Percayalah. Dari BRAM saya belajar bagaimana memaknai sebuah kehilangan. Allah tidak menunggu kapan kita siap menerima ujian. Tetapi, kita dituntut senantiasa siap ketika cobaan itu datang. Lelaki muda tersebut, tetap tegar meskipun harus kembli jatuh sebelum ia mampu kembali berdiri tegak. Bagaimana melanjutkan hidup setelah kepergian orang-orang yang dikasihi. BRAM percaya, tetap melanjutkan hidup dengan baik berbekal semangat yang tersisa merupakan wujud cinta abadi yang dipersembahkan teruntuk almarhum ayah, sahabat, serta kekasih hatinya.
Novel ini wajib ada di tangan Anda.


