Jumat, 13 Maret 2015

Not Sister But Sinister

Diposting oleh Rumah Kopi di 13.15 0 komentar
Aktivitas di luar, bikin gerah! Jangan nambah-nambahi panas dalam dong, ah!
Woeee! Lha ini gue kakak lo bukan kondektur bus yang suka nyrobot penumpang angkutan lain. Duh busyet dah! Omongan lo kek orang kagak pernah di sekolahin aja! Jadi emosi gue! :( 

((istigfar... tenangin ati, orang sabar balanya berbie))

Mari bicarakan baik-baik. Untung aku udah dapet pelajaran dari Mase kalau ada masalah apa pun, dibicarakan baik-baik. Secara kita ini manusia, bukan penghuni hutan yang suka triak-triak. Bukannya nyelesein persoalan, malah nyiptain perkara baru kalau caramu keliru.

Aku ini kurang ngalah gimana? Aku ini harus ngelakuin apa lagi buat kamu? Punya adik satu aja, kagak pernah akur. Apa-apaan ini! Kamu nuduh aku ada afair sama tunanganmu! 

What the fuck! Can you say it to me once again! 

Yaelah! Kek nggak ada cowok laen aja di bumi ini! Apa dosaku gitu, sampe adik sendiri tega nuduh yang enggak-enggak?   Mukaku pas-pasan aja, sering jadi sasaran salah tuduh kek gini! Apa jadinya kalau aku cantik kek Nikita Willy? :(

Hidupku gini-gini amat! Apa aja yang aku lakuin selalu saja orang lain salah nangkep. 

Dengerin dulu napa? Jangan asal ngancem bunuh diri, lalu matiin HP kek gitu. Nggak lucu sumpah! Kesel banget kalau ngadepin orang bebal kek gitu. 

Iya, cowokmu telpon pas kapan hari itu! Dan obrolannya nggak jauh dari ngomongongin hubungan kalian. Sebagai kakak kan udah wajar aku ngasih nasihat yang terbaik buat ke depannya. Lagi pula gegara cowokmu curhat itu, aku jadi sial! Salah ngeklik download-an aplikasi jadi nggak tidur ampe pagi.

Ebusyet dah! Tiba-tiba kamu sms kek gitu! Nuduh aku menghasut dia buat marahin kamu! Nuduh aku jadi benalu dalam hubunganmu! Woooeee! Woooeee! Kualat nuduh sembarangan! Jangan nyari kambing hitam, nyari kambing putuh aja sana bulu-bulunya lucu kriwil kek otak loh! ((darah tinggi gue guys))

Apa sih, yang nggak buat kamu! Berapa duit sih, yang aku pake buat nyenengin kamu. Mulai dari beliin baju dan ... Ah! Keknya nggak etis deh, ngungkit yang udah dikasih ke orang. Kamu ya, nggak usah nyalahin tetangga, kanan-kiri, kalau lagi ada masalah dengan hubunganmu itu! Ngaca dong, Bebbb! Nggak perlu dijelek-jelekin kalau dasarnya baik, ya nggak akan mempan!

Duh! Bentar-bentar bikin keder orang sejagad! Kali ini aku angkat tangan! Udah muak dengan orang-orang yang bikin hidupku kek dikejar satpol PP. Aku udah ngelakuin yang terbaik. Aku nggak ngerugiin kamu. Aku bantuin Om nanggung duit yang kamu titipkan ke dia, yang jumlahnya cuma 15jt, tapi kamu bilang ke aku 18jt, udah gitu aku ada rencana buletin jadi 20jt. Itung-itung buat jajan kamu di rumah ntar! Yaelah malah kek gombal ceritanya! Yang kek gini ini namanya manusia setengah srigala, berbulu ketek pula! :(

Eh, catet dong bagian ini! Sejak kapan seleraku berubah! Mana mungkin aku nglirik cowokmu! Secara pilihanmu kagak ada yang bermutu! Sebenarnya aku salah sih, ngomong kek gini! Terserah siapa pun yang jadi pasanganmu, asal dia orang baik, aku juga ikut ngasih restu. Tapi please  dong jangan bikin jarak di antara kita dengan adanya nuduh sembarangan!

Ingat ini! Darah yang mengalir di tubuh kita itu sama. Melukaimu berarti menyakiti diriku sendiri! Punya otak jangan cuma di bawa beredar kemana-mana! Tuduhanmu nyakitin sumpah! Any way karena aku kagak ngerasa melakukan kejahatan kek yang kamu tuduhkan ... so far i'm okay!*

((pesan terakhirmu nggak lucu. aku bingung dewe ngerti po ra ndasmu! :( ))

Aah mboh lah kerjaanku masih blom kelar noh! >_<

2:13

Kamis, 12 Maret 2015

My Guardian Angel

Diposting oleh Rumah Kopi di 09.09 0 komentar



Manusia butuh wadah untuk mengekspresikan perasaanya. Biar kek pasangan lainnya gitu. Wadahnya harus beda. Kalau mereka pake ember, aku mah apa atuh, pake bejana dong! :D

Dua orang bisa berhenti komunikasi tapi percayalah ke duanya nggak bisa berhenti memikirkan keadaan masing-masing! ((oh emji udah kek dukun aja gue  :v ))

Apa sih, manfaatnya nulis kek gini? Tentu saja banyak banget. Keknya aku lupa dengan banyak hal jadi untuk mengingat kembali dan sebagai acuan jika aku lupa lagi, maka aku menulisnya di sini. Sekali lagi ini bukan untuk lebay-lebay-an. Apalagi buat pamer? Enggak. Aku tahu itu NORAK.

Hai, Laland. Kenalin itu Mamasku. Sampai detik ini dia calon suami yang terbaik. Semoga itu berlangsung hingga nanti. 

Well, sedikit flash back tentang siapa dia dan latar belakangnya hal ini mesti aku ingat agar dalam menjalani hubungan selanjutnya berjalan dengan nyaman.

Lalaland, aku telah berbuat kesalahan. Aku sadar kok, semakin merasa disayangi aku malah sembarangan bertingkah. Gampang marah. Nggak bisa menjaga lidah. Ah, percuma ngomong kek gini. Minta maaf itu bukan sekadar menutupi kesalahan. Minta maaf akan jauh lebih berasa penyesalannya dengan mengubah sikap dari buruk menjadi kurang buruk. ((Eh, bercanda))

Aku sedih saat dia bilang, batinnya tersiksa. :( Oalah melas pokoknya. ((puk-puk punggungnya sini))

Dia hebat kautahu! Dari luar nampak kek orang normal pada umummya. Nggak ada tanda-tanda bahwa sebenarnya dia lelah secara jiwa raga. 

Atas semua beban hidup itu, dia butuh seseorang yang bisa membawanya picknik, sejenak lupa akan masalah. Menjadikan hidupnya kembali bergairah. Seseorang yang menjadi tangan--memeganginya kala dia lemah. Dia memilihku. Itu berarti dia berharap banyak padaku. Tapi apa yang terjadi? 

Aku malah menambahi bebannya. Mengacak-acak hati dan pikirannya. Mengaduk emosinya. Sikapku membuatnya kian tenggelam dalam kemuakan.

Aku menyesal! :( Tolong anggep aja mut yang kemarin udah mati. Dan yang ini mut kesayangane mase yang nggak bandel-bandel amat! ((serius)) Makanya untuk mengawali hari baru kita butuh picknik. Eh, butuh jaga jarak supaya kuman yang kemarin beneran mati!

Setiap kejadian ada hikmahnya ((udah kek Mama Dedeh :v )) pokoknya begitu. Dari perselisihan tempo hari, adalah sentilan agar aku kembali ingat siapa dia?

Harus diingat kalau laki-laki adalah makluk visual. Apa yang terlihat menarik tentu akan membangkitkan nalurinya secara spontan. Tapi jangan khawatir, Ladies! Itu hanya cuci mata. Tanpa bermaksud menggusur penghuni hatinya. Jadi, sebaiknya abaikan saja sebab kebiasaan itu ada pada keturunan adam di semesta alam. ((ora usah cemburuan maneh kalau ndak pengen mati dalam ke adaan masih unyu unyu :v ))

Dia yang terlihat angkuh itu sebenarnya adalah seorang yang sangat butuh perhatian, butuh dukungan menyemangatinya, butuh orang menjaga suasana hatinya agar tetap stabil. Tapi kadang, aku memandangnga sebagai manusia yang layak ditendang. ((kalau pas nyebelin :D )) 

Dalam menjalin hubungan, tentu aku nggak sembarangan melihat prospek ke depan terlepas dari persoalan menyangkut materi. 

Selama ini aku melihatnya sebagai seorang yang nggak pernah mau tertinggal dalam hal apa pun. Dia menjejali otaknya dengan berbagai pengetahuan. Dia mendesain dirinya sebagai calon pemimpin rumahtangga yang hebat. Impiannya banyak. Dia pintar. Dan aku harus membantu mewujudkannya. ((bim sa la bim))

Tentu saja tempatnya di depan. Dan dia hanya mau memilih pendamping yang berkualitas. Baik dari segi fisik maupun kepribadian. Wanita itu akan dijadikan tempat berbagi wawasan agar dia seimbang. ((mut diet kok tenang aje))

Untuk urusan lain dia yang memanage. Sedangkan urusan penampilannya, serta keperluan pribadinya, dia menyerahkan pada asistennya ((istri)) 

Bukankah itu nampak jelas sekali! Selama ini dia sering melibatkanku dalam banyak hal. Berarti dia sudah membawaku masuk dalam dunianya. Aku harus bisa menjadi teman, partner, musuh, kadang jadi anaknya, kadang jadi  tempat pelampiasan kekesalannya. Aku harus siap! 

Selain itu, dia butuh wanita cerdas yang akan menjadi guru private anak-anaknya. Makanya, dia mengajariku untuk menjadi wanita dewasa yang pintar. Eh, akunya malah kek anak kucing yang gelendotan di pangkuannya. 

Nggak perlu lagi meragukan setiap tindakan, serta ucapannya. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Maka, aku harus merbaiki diri dulu nggak usah sok ngatur orang lain. Kek kurang kerjaan aja. Kenali sosoknya lebih dekat supaya semakin kuat ikatan batinnya. Setiap hubungan berproses. Nggak semua pertengkaran berdampak memisahkan. Jika jeli dalam pengamatan, sehabis bertengkar akan semakin lebih mengerti. 


10:38

Let's be a better with write something

Diposting oleh Rumah Kopi di 05.01 0 komentar
Selamat pagi, Laland. Hari ini keadaanku jauh lebih baik meskipun semalam tidurnya nggak nyenyak. :)

Maaf, ya, Laland kalau blog yang ini aku jadikan diary pribadi. Seperti yang sudah terkonsep di awal tahun, aku akan memisahkan tulisan (catatan pribadi >< publikasi karya tulis) pada dua blog yang beda. Tetapi, di sini bukan tempat curhat doang! Beberapa ringkasan artikel yang bermanfaat, juga akan aku share di sini. 

Jadi, jika kamu ingin mengikuti perjalanan hari-hariku, serta ingin menambah wawasan tentang berbagai hal seputar keseharian, pantengin aja blog ini. ((siapa gueh)) 

Kurasa ini jauh lebih baik ketimbang aku nyerocos kek beo yang baru makan puding! Ada banyak percakapan di kepalaku dan jika aku tak segera mengeluarkannya, maka hal itu akan turun ke hati. Menumpuk dalam perasaan. ((haiiss bahasanya)) 

Aku nggak perlu lagi merecoki orang lain untuk sekadar mendengarkan ocehanku. Ini salah satu alasan kenapa aku suka menulis.

Menulis itu memiliki banyak manfaat. Masing-masing punya tujuan berbeda. Tentu saja. Aku pribadi sih, menulis untuk terapi hati. Menyampaikan perasaan yang terjadi tanpa perlu bercerita pada seseorang untuk hal yang nggak perlu bantuan dalam menyelesaikannya.

Aku suka diriku yang seperti ini. Mandiri dan terkonsep. Aku nggak mau hari-hariku hanya terlewati begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Bekarja itu suatu tuntutan hidup. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern harus mimiliki wawasan luas dan skill. 

Yang membedakan manusia dengan sesamanya adalah kemampuan untuk terus memperbaiki diri. Mereka biarlah memilih menjalani hidupnya dengan menjadi artis sosmed, mungkin? Kalau aku nggak suka sering tampil di depan publik. 

Jadi, kembali mengulas hal apa saja yang diperoleh dari kegiatan menulis? Berikut ini merupakan artikel yang aku dapat dari sebuah blog. Semoga bermanfaat!

***
  • Ketika orang membayangkan seorang "penulis", mungkin akan terbayang seorang jenius yang menyendiri di ruangan penuh dengan kertas berserakan di mana-mana sambil berfokus menulis atau mengetik di depan layar komputer tentang karya tulis terbesar selanjutnya.

    Sesungguhnya, menulis adalah jauh lebih luas daripada bayangan di atas. Menulis adalah menuangkan pemikiran ke dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, semua orang adalah penulis, bahkan jika kita tidak berbakat menciptakan kata-kata mutiara atau bait berima.

    Banyak tokoh sukses dunia memanfaatkan menulis untuk mengarahkan pikiran dan tujuan hidup mereka serta untuk mengevaluasi apa yang sudah mereka capai dalam hidup. Warren Buffet menjelaskan bagaimana menulis adalah cara penting untuk menyempurnakan apa yang dia pikirkan. Sedangkan Bill Gates menyatakan bahwa menulis adalah kegiatan harian yang dia lakukan agar dapat duduk dan mengevaluasi apa yang dia alami sepanjang hari.

    Dalam hal ini, menulis dapat digunakan sebagai instrumen untuk berpikir, berekspresi, dan mendorong kreativitas. Untuk lebih meyakinkan Anda, berikut adalah beberapa manfaat dari menulis menurut artikel The Psychological Benefits of Writing oleh Gregory Ciotti:

  • Menulis membuat Anda merasa lebih bahagia

    Apabila Anda tidak tahu cara mulai menulis, cobalah dengan memikirkan dan menulis apa saja yang ingin Anda capai dalam hidup. Ini adalah kegiatan yang terbukti bermanfaat untuk memotivasi Anda. Menulis secara ekspresif dapat membantu meningkatkan mood dan well-being Anda serta mengurangi stres jika dilakukan secara teratur. Menulis tentang mencapai impian masa depan dapat membuat orang merasa lebih bahagia dan sehat. Selain itu, menulis tentang berkat-berkat dan keberhasilan yang telah Anda capai juga dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan dengan lebih menyadari hal-hal baik yang telah Anda terima dan rasakan selama hidup Anda.

  • Menulis dapat membantu Anda merasa bersyukur

    Menghitung berkat-berkat yang telah Anda terima terbukti mampu meningkatkan pandangan hidup. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang merefleksikan hal-hal baik dalam kehidupan mereka secara tertulis sekali seminggu menjadi lebih positif dan termovitasi tentang situasi masa kini dan masa depan mereka. Namun, ketika mereka melakukan hal ini setiap hari, manfaat yang dirasakan berkurang. Kuncinya adalah melakukan secara teratur namun tidak setiap hari untuk menghilangkan kebosanan dan ketidakjujuran.

  • Menulis membantu dalam menghadapi masa-masa sulit

    Menulis tentang masa-masa sulit atau peristiwa traumatis dapat membuat orang merasa lebih depresi, hingga sekitar enam bulan kemudian, baru terasa manfaat emosionalnya. Pemilihan waktu yang tepat untuk menulis sangat berdampak penting bagi pemulihan dari masa-masa sulit. Memaksakan diri untuk menulis dapat memperparah keadaan, tetapi jika Anda menulis tanpa paksaan dan atas kehendak sendiri, manfaatnya akan sangat membantu dalam pemulihan trauma.

  • Menulis meningkatkan cara berpikir dan berkomunikasi

    Kurangnya perbendaharaan kata dapat menyebabkan kesulitan dalam mengekspresikan perasaan, berbagi pengalaman, dan berkomunikasi dengan orang lain. Menulis dapat membantu mencegah penggunaan kata-kata yang kurang efektif mengekspresikan apa yang sebenarnya ingin Anda ungkapkan. Baik dalam kecerdasan emosi maupun dalam kecerdasan ilmu pengetahuan (bahkan matematika), menulis telah terbukti membantu orang menyampaikan gagasan yang sangat kompleks dengan jelas dan sistematis.

  • Menulis mengasah ketajaman otak Anda

    Menulis adalah mengolahragakan otak Anda. Sama seperti olahraga jasmani, menulis dapat menjaga "kebugaran" alias ketajaman otak Anda. Menulis dapat membantu memastikan Anda terus berpikir secara teratur.

  • Menulis membantu Anda berfokus

    Pernahkah Anda membuka terlalu banyakInternet tabs? Itu sangat mengganggu fokus Anda. Bagaimana dengan terlalu banyak memikirkan banyak hal? Ini sering kali menyebabkan orang berusaha menangani terlalu banyak hal pada saat yang bersamaan. Menulis membantu Anda berfokus pada satu hal sementara mencatat hal-hal yang akan Anda lakukan nanti. Pastikan Anda mencatatnya di buku catatan khusus yang selalu Anda bawa setiap saat. Dengan berfokus pada satu hal saja dan membuat rencana tertulis, Anda akan mengurangi stres dan beban pikiran Anda.

  • Menulis membuat Anda ingin belajar lebih

    Menulis sering kali membuat Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang berbagai macam hal, apalagi ketika Anda ingin membagikan karya tulis Anda, baik kepada keturunan Anda maupun kepada masyarakat umum. Menulis dapat memancing keingintahuan Anda dan memacu semangat mencari lebih banyak informasi, inspirasi, dan wawasan. Misalnya, ketika Anda mendengar wejangan dari acara motivasi di televisi atau catchprase di iklan radio, Anda ingin segera mencatatnya agar tidak lupa. Atau mungkin Anda mendengar sebuah topik yang menarik perhatian dan memotivasi Anda untuk meneliti lebih lanjut, misalnya bagaimana perbudakan berakhir di Amerika Serikat atau bagaimana emansipasi wanita terjadi di Indonesia.

    Baik mencatat momen terilhami sederhana dalam sebuah buku harian maupun menuangkan segala pemikiran dan pengetahuan Anda dalam sebuah karya tulis ilmiah, pastikan Anda menikmati proses menulis dan melakukannya secara teratur. Selamat menulis!


    Taipe 12 Maret



Rabu, 11 Maret 2015

AKU BAIK-BAIK SAJA!

Diposting oleh Rumah Kopi di 11.41 0 komentar
Aku tahu apa alasannya, beberapa orang malas ke dokter. Termasuk diriku. Dokter itu kadang suka sembarangan menjatuhkan vonis penyakit pada pasiennya. Kan sialan! :(

Hari ini satu infus masuk ke tubuhku. Harusnya kondisiku berangsur membaik. Tapi malah lemes, gemeteran, pusing, ih rombongan gitu sih, nyerangnya. Eh, yang bikin kesel justru dokter bilang, sebaiknya aku menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Agar tahu kondisi kesehatanku. Apa lagi yang mau diperiksa? Cuma masuk angin, demam biasa juga! Butuh istirahat doang. Aku baik-baik saja. Buktinya masih bisa ngetik seperti ini.

Jangan-jangan infusnya kadaluarsa! :(

Males ke dokter, sumpah! Ini urusannya sama seperti waktu aku didiagnosa mengidap penyakit jantung koroner. Sembarangan sekali dokternya. Mentang-mentang almarhum kakek memiliki riwayat jantung, meninggal karena serangan jantung, terus aku mesti dapat warisan penyakit itu? Kan cucunya bukan aku doang!

Gara-gara divonis penyakit itu, sejak SMP aku dipingit. Sewaktu teman-teman seusiaku bermain, sepulang sekolah aku hanya jadi penghuni kamar. Dan aku hanya nurut. Dan selain itu, aku juga harus mengkonsumsi obat-obatan sialan! Seharusnya aku memberontak saja! 

Dokter hanya manusia. Buktinya, aku baik-baik saja. Jantungku ... emm meskipun detaknya selalu di atas rata-rata, pokoknya aku manusia normal. Aku nggak jantungan. Aku nggak jantungan. Aku enggak jantungan.

Duh, andai Buk e tahu kondisiku saat ini, pasti aku bakalan disuruh balik. Oh, enggak bisa. Aku kan belum melunasi rumah, asuransiku belum kelar, harus nabung buat investasi masa depan! Masih banyak yang belum aku raih.

Save me, God! I need you.

Kangen Ibuk. Kangen Mase. Ah, tapi nggak mau nyariin Mase. Enggak. Entar aku dimarah-marahi lagi. :(

Kalau Mase sayang banget sama aku, pasti dia bakalan nyariin. Kalau dia diem aja, aku juga bakalan diem.

12:40 

RAIN AT A MORNING

Diposting oleh Rumah Kopi di 07.39 0 komentar

Dear, My Lalaland. Apa kabar? Basa basinya cukup begitu aja, ya! Soalnya udah banyak uneg-uneg yang menumpuk di hatiku.

Lalaland, ”Tak ada kata terlambat untuk belajar,” kata pepatah sih, begitu! Masalahnya selalu saja terbentur oleh rasa malas. Bahkan akhir-akhir ini sering ngrasa aneh. Nggak jelas, deh! Kalau lagi pengen nulis, malah pegang buku--membaca. Kalau lagi mau konsen membaca, tiba-tiba gatel pengen nulis. Nggak konsisten! Yap! Bener banget. Seperti itulah diriku saat ini. Semua orang memiliki rasa malas. Itu sih, tergantung diri sendiri bagaimana mengatasinya. Aku tahu aku salah. Sayangnya aku tak segera bertindak memperbaikinya.

Ah, entahlah! Mau jadi apa aku ini!

Lalaland, ada hal lain yang ingin kusampaikan padamu. Mendekatlah sini. Aku ... Aku ini siapa? Eh, maksudku aku tahu diriku manusia biasa. Bukan Malaikat atau Santa Claus yang konon bisa menebar kebahagiaan. Namun begitu, sebagai manusia biasa hatiku tak bisa diam saja jika ada seseorang yang sedang dilanda kesusahan. Cobaan. Apa pun bentuknya. Aku ingin menjadi tangan-tangan yang mampu menopang, mengangkat, mencerabut ketidaknyamanan yang tengah dialami mereka. Tapi, sekali lagi aku sadar aku manusia--memiliki keterbatasan yang luar biasa. Ingin tapi tidak bisa. Membebaskan mereka dari beban hidup, satu persatu, aku belum mampu.

“Bahagiakan orang lain maka kau akan bahagia karenanya.”

Entahlah darimana kutipan itu berasal. Yang jelas, kalimat itu sudah melekat dan akrab sekali denganku. Rasa ingin memberi, membagiakan, terlalu peka itu membuatku mudah sekali terpedaya. Aku memang gampang percaya pada sesiapa. Itu nggak baik. Tapi, bagiku selepas aku memiliki niat baik yang tulus, tentang bagaimana mereka menaggapinya, itu sih nggak penting. Mereka boleh saja menipuku. Atau menganggapku sok lugu. Yang jelas aku bukan ingin dipuji karena mereka terharu atas persembahanku. Aku menempatkan diri pada siapa pun yang sedang tidak beruntung itu. Bukankah lebih baik membantu dari pada dibantu. Filosofinya ialah, berarti aku lebih beruntung dari orang yang memerlukan pertolongan itu. Berbagi sedikit apa yang kumiliki. Itu saja.

Rasa sakit.

Berdamailah dengannya. Rasa sakit itu karena percayalah hal tersebut tak berlangsung lama. Dulu, aku rajin sekali merutuki nasibku yang sering jatuh sakit. Langganan kayaknya. Lama kelamaan semua menjadi biasa bagiku. Aku percaya bahwa Tuhan, melalui rasa sakit yang kualami tersebut telah mengirimkan penyeimbang dari hal-hal luar biasa yang telah aku dapati. Singkat kata, rasa sakit merupakan penyeimbang segalanya. Dengan merasakan sakit, maka aku akan lebih mensyukiri nikmat berupa hal sederhana. 

Mengerikan ya, tergolek sendirian, merintih-rintih kesakitan, lalu akhirnya ketiduran. Mau bagaimana lagi? Ini kan resiko dari apa yang menjadi pilihan hidupku. Sakit, sehat, sedih, dan senang, adalah biasa. Kalau nggak pengen ngalami hal itu ya, jangan hidup.

Untunglah semalam nggak sampe muntah. Pagi ini tinggal lemes doang. Semoga lekas pulih dan bisa kembali beraktivitas.


Oh, iya, Lalaland. Apa kabar dengan hatinya? Apa jauh lebih damai sekarang? Entahlah ya, kuharap begitu! 

Apa kautahu? Ada beberapa hal tentang suatu kesalahan yang dilakukan orang lain itu, harusnya diingatkan supaya kelak nggak akan kembali melakukan. Tetapi seharusnya dengan cara yang baik sih! MENGINGATKAN JANGAN SAMPAI MELUKAI. Sayangnya, aku sering lepas kontrol ketika emosi.


Lalaland, akutahu, ucapan atau triakan kasar yang terjadi saat emosi, sesungguhnya bisa mematikan ikatan antara dua hati. Aku begitu menghindari hal itu. Namun entahlah, akhir-akhir ini aku lepas kontrol. Aku tahu aku yang salah. Tapi penyesalanku nggak akan mengembalikan waktu. 

Maafin, Mutt, ya, Mass. Jika Mut nggak bisa membuat Mase damai, pergilah. Mungkin di luar ada dan tentu ada yang lebih baik dariku. Sebenarnya aku bisa melakukan apa saja, yang sulit bagiku adalah mengendalikan emosi. Aku takut menyakitimu lebih dari ini. Aku sayang sama Mase, tapi cintaku selalu melukai orang yang aku sayangi. 


Tanyakan pada hatimu, seberapa berartinya aku dihidupmu? Jika kamu nggak bahagia denganku, pergilah. Jika kamu menginginkanmu selalu bersama sampai kita benar-benar menjadi manusia dewasa yang baik, dan kamu bisa menerima kekuranganku, tentu saja aku bersedia menghabiskan sisa hidupku bersamamu. 


Taipe, 11 Maret 

Sabtu, 07 Maret 2015

SESUATU TENTANG PAGI INI

Diposting oleh Rumah Kopi di 09.01 0 komentar

Ketika aku membuka mata kulihat segalanya baik-baik saja. Berpikir tentang hal sederhana agar hidupku menjadi lebih baik.

Lalaland, Tuhan selalu baik. Ketika Dia mengambil seseorang itu, segera Dia menggantikannya dengan orang baru. Bahkan lebih hebat.

Dia bukan sosok sederhana. Dia pribadi yang emm ... Sulit dijelaskan. Aku pernah berpikir, dia sangat menikmati hidupnya. Seleranya tinggi. Wawasan dan pengalamannya luas. Usianya terpaut beberapa tahun diatasku. Dia humoris. Kadang bercandanya membuatku kesal. Tetap saja itu menyenangkan. Dihadapannya, sungguh aku tidak memiliki kesempatan untuk merajuk. Marah. Lebay. Dia mampu membuatku takluk. Dalam artian, sekali dia berucap aku lekas mematuhinya. Dia seseorang yang sangat perhatian. Pengertian. Tapi, moody. Oh, tidak! Ini PR terberat yang harus aku selesaikan. Aku juga moody. Dan bagaimana jadinya jika kami berdua berada dalam titik itu.

Manusia tidak akan pernah mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kehendaknya. Tetapi manusia bisa mengupayakan sesuatu dengan belajar menerima.

Ayolah! Jalani saja dulu. Kali ini aku tidak berani berharap banyak. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air yang pasti akan bermuara nantinya. Aku tidak mampu membatasi seberapa besarkah aku menaruh hati padanya? Tetapi aku harus bisa mengedalikan sikapku yang tidak perlu selalu tergantung padanya.

Aku harus terus bersemangat!
Laland, perjalananku masih panjang. Menyelesaikan kuliah. Membahagiakan orangtua. Menabung. Sementara tujuan hidupku hanya itu. Tentang pendampingku kelak, aku pasrahkan pada Dzat Yang Maha membolak balikkan hati.

Hidup ini keras! Nggak ada yang gratis di dunia ini. Segala hal harus diupayakan secara maksimal. Tanpa harus membabani orang lain. Setidaknya itu lah salah satu bentuk kedewasaan. Dewasa berarti bertanggung jawab atas kelangsungan hidup. Mengupayakan sampai maksimal supaya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk itu, perlu kerja keras. Ketekunan. Dan nggak boleh ketinggalan adalah pantang menyerah. Mengeluh sih, boleh saja! Secara sebagai manusia, aku juga pasti memiliki keterbatasan. Nggak terkecuali semangat. Tapi juga harus diingat. Nggak semua orang memiliki kesempatan untuk mengejar mimpi-mimpinya.

Bahagia. Kebahagiaan itu bukan yang selalu dalam bentuk mewah. Indah. Tetapi, bahagia bisa tercipta dari hal kecil di sekeliling. Terkadang lupa bagaimana berterima kasih pada Robb-ku sehingga selalu merasa kurang dan kurang.

Kebahagiaan itu letaknya di hati. Dia muncul atau tenggelam lantaran diri sendiri yang mengupayakan. Apa sih, yang telah diperbuat orang lain untukku? Nggak ada yang istimewa. Mereka berbicara seperti bapak-ibu berbicara padaku. Orang-orang itu memberikan perhatian, layaknya perhatian yang bapak-ibu berikan padaku. Kurang lebih begitu. Bedanya intensitasnya lebih banyak. Dan aku menerimanya dengan hati senang.

Mudah sekali menyalahkan orang lain, ya! Ini karena aku mencari-cari pelampiasan atas kekecewaan. Aku lupa kalau rentetan kejadian tersebut sudah ada yang mengatur. Allah penentu segalanya. Terlepas aku sendiri sudah mengupayakan kebaikan. Melakukan apa yang menjadi tugasku sepenuh hati, jika akhirnya seperti ini pasti Allah memiliki rencana lain. Yang terbaik. Harus berpikir positip.

Oh, iya. Lagipula jika pekerjaanku berkurang, setidaknya ada banyak waktu untuk belajar. Kuliahku harus selesai. Ini bukan untuk orang lain. Melainkan demi kepuasaanku sendiri. Bertambahnya ilmu harusnya kelak aku lebih pandai membawa diri.

Lalaland .... Kembali bicara soal perasaan.

Nggak ada cinta tanpa air mata. Bukankah kautahu hal itu? Cinta itu pengorbanan. Pengabdian. Kesabaran. Tindakan. Pokoknya begitulah. Aku nggak ingin kehidupan percintaanku mengacaukan semua-muanya. Tujuanku bukan itu saja. Harusnya lebih menyadari hal ini: karena aku sudah mendapatkan cinta yang benar-benar kuinginkan, cinta itu seharusnya mampu mengantarkanku pada tujuan memperbaiki keadaan--mempersiapkan masa depan. Ya, harusnya begitu.

Lalaland ...

Jika aku bisa membuang jauh segala resah ini, akan kulakukan dari dulu. Apa? Kaupikir aku nyaman dengan hal ini? Pribadi sensi itu nggak selamanya buruk, sih. Tetapi masalahnya segala hal yang berlebihan itu memuakkan. Aku tersiksa oleh perasaanku sendiri. Aku menderita oleh hal-hal negatip yang rajin bertandang ke alam bawah sadarku. Aku bertindak menggunakan emosi, Lalaland ....

Jika ada kalimat seperti ini: TAK TERASA, LUKA ITU HILANG DENGAN SENDIRINYA. Aku kurang setuju dengan hal itu. Bagaimana mungkin luka bisa hilang dengan sendirinya? Pasti ada upaya dari si empunya raga yang berusaha memahami bahwa duka lara memang bagian dari kehidupan. Atas dasar pemahaman itu, lalu mengolahnya sedemikian agar duka nggak menjadi penghalang untuk terus bertindak demi terciptanya impian. Jangan sampai luka-luka itu menganak pinak menjadi titik di mana keinginan menyerah akhirnya muncul. Waktu yang membantuku memulihkan goresan-goresan tersebut. Sayatan yang nggak terlihat namun sakitnya membuatku sekarat. Kenapa? Karena aku memang berlebihan. Maksudku, rajin membesar-besarkan masalah yang sebenarnya biasa saja.

Menurutku, waktu memang obat mujarab penyembuh segala luka. Semangat merupakan infus yang menggelontor kekuatan--bagaimana pun keadaannya aku bisa bertahan. Impian-impian yang menumpuk itu tak lain memiliki peran sebagi motorik yang menuntun langkah membelah jalan masa depan.

Nggak bisa dihindari, memang. Jatuh-bangun itu bagian dari hidup. Masalahnya ketika terjatuh sudahkah Anda [aku] berhenti sejenak untuk berpikir, bagaimaa aku bisa jatuh, tadi? Apa yang membuatku terjatuh? Hal apa yang harus aku lakukan supaya nggak kembali jatuh? Selama ini seringnya aku menyalahkan orang lain atas kesialan yang kuterima. Benar-benar lupa bahwa apa yang aku dapati hari ini, adalah investasi dari tempo hari. Bahwa cerita yang terjadi dalam hidupku terus berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya.

Berpikir tentang hal sederhana yang bisa membuat hidupku jadi bermakna. Aku bahagia pagi ini. Terima kasih ya, Allah. Tidak akan kunistakan nikmat yang telah Kauberikan. Aamiin.

Taipe, 7 Maret 2015

Dear, Tante!

Diposting oleh Rumah Kopi di 08.11 0 komentar

Masih sama. Pagi ini ketika membuka mata kulihat segalanya baik-baik saja. Fenomena alam bergerak seperti hari-hari sebelumnya. Kekhawatiran itu sebenarnya hanya buah pikiran atas ketidak percayaan diri sendiri dengan apa yang telah dilakukan. Itu suatu kesalahan karena dengan begitu aku tidak lekas beranjak dari tempatku berdiri. Mematung mengingat kembali, merenungkan hal yang telah terjadi, memikirkan apa yang telah berlalu, memang tidak ada salahnya tetapi tidak boleh memberi porsi (waktu) terlalu besar.

Pagi ini dan beberapa jam berikutnya, aku harus bisa mengendalikan diriku untuk mematuhi apa yang telah kurancang sebelumnya. Iya, berhenti melakukan hal yang tidak penting. Masa depanku terletak pada apa yang aku lakukan hari ini. Kebahagiaanku ada pada diriku sendiri. Mereka semua hanya figuran yang seharusnya tidak bisa mempengaruhi suasana hati.

Terlepas dari itu, aku sempat berpikir kenapa jika semua hal sudah diatur oleh Tuhan, manusia harus bersusah payah memperjuangkan kehidupan? Lalu aku juga berpikir, kenapa ada kelompok manusia yang dari lahir sampai meninggal, mereka hidup dengan serba kecukupan? Dan kenapa pula ada kelompok manusia yang berjuang sejak lama tetapi tidak kunjung memperoleh apa yang diinginkan?

Jika berpikir seperti ini, apakah aku berdosa dan meragukan keadilanMu, Tuhan?

Pada dasarnya semua orang egois. Fakta. Coba saja lihat sekitar. Bukankah jika tidak mendatangkan keuntungan, kesenangan, dan apalah itu maka akan ditinggal. Yang seperti ini bisa jadi seumur hidup mereka belum pernah merasakan bahagia. Maka dia tidak mau bersusah payah mengambil mutiara yang tertanam dalam lumpur. Alam adalah tempat belajar yang tidak akan pernah kehabisan materi menyajikan bagaimana seharusnya menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Aku tidak bisa menyuruh orang memaklumi keadaanku sebab setiap manusia pasti menanggung beban dalam hidupnya. Besar atau kecil masalah yang dihadapi, tidaklah penting. Maka dari itu seberapa kuat aku menggenggam masalahku, memikirkan solusinya supaya tidak ada yang tahu kalau sebenarnya aku sekarat, misalnya.

Baiklah. Jika begitu, aku harus memaklumi diri sendiri untuk lebih berhati-hati supaya hati dan pikiranku tidak terkontaminasi dengan hal buruk sehingga dengan mudahnya mengeluh, menyerah, dan jatuh.

Laland, yang membuat jarak antara manusia adalah uang. Ketika membicarakan masalah uang, maka bukan tidak mungkin hal sensitif menyulut perselisihan akan muncul.
Percaya atau tidak bahwa yang menciptakan jarak antara manusia adalah uang? Coba sejenak renungkan, apa yang membuat kita terdampar di negeri orang? Apa yang memisahkan anak dari orangtua? Apa yang memisahkan suami dari istri, dan sebagainya? Apa yang menyeretku sampai ke sini! UANG))

Semua juga tahu kalau manusia memang makluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Ketika aku harus pura-pura bahagia di depan orang lain, tentu itu bisa mudah kulakukan. Tetapi sayangnya, belum ada manusia yang berhasil memanipulasi hatinya sendiri. Termasuk aku. Suatu waktu saat bersama sahabat, pasangan, saudara, aku bisa tertawa terbahak. Namun, ketika sendiri hati dan pikiran kembali mencumbui luka yang berserak.

Luka itu bukan berarti masalah pribasi, Lalaland. Baiklah akan kuceritakan hal ini. Jauh di sana, kehidupan keluarga om dan tante sedang jatuh dalam hal ekonomi. Itu wajar, memang. Yang aku pikirkan bagaimana keadaan keponakan2 itu? Apalagi anak yang sudah menginjak 15 tahun tersebut. Di mana perkembangan mentalnya sedang tumbuh. Beberapa saat yang lalu, kemana pun pergi selalu diantar jemput pakai mobil mewah. Bahkan diusianya yang belum genap 17 itu, dia sudah mahir menyetir mobil. Sekarang, sekadar membelikannya pulsa saja, barangkali orangtuanya tidak mampu. Katanya, dia menyisihkan uang sakunya untuk biaya perjalanan ke Malang. Dan itu membuatku sedih.

Dia anak laki-laki penurut. Beda dengan kebayakan anak seusianya. Seharusnya tak ada yang kukhawatirkan. Aku cukup membantu saat dia membutuhkan. Yang membuatku sedih, bagaimana perasaanya menghadapi tatapan sinis teman-temannya yang mengetahui bahwa usaha ayahnya, jatuh? Bahkan mungkin, dia adalah saksi saat para nasabah yang mempercayakan tabungannya di tempat orangtuanya itu, hendak menarik saldo dan ketika tidak ada dana mereka mengamuk, mengancam, merusak apa saja yang ada di rumahnya.

Ah, Tuhan kan profesor, pembuat skenario, sekaligus sutradara yang tercanggih. Ketika Dia merancang sesuatu, pasti sudah ada solusinya. Ketika Tuhan menaruh sebuah kotak kebahagiaan di suatu tempat nan jauh, pastilah saat itu juga Tuhan menyediakan jalan supaya mausia bisa melangkah ke sana. Dan tentu saja jalan itu tidak selamanya lurus. Bahkan tidak semua orang berhasil menemukan jalan itu.

Semoga Rizky kuat. Semoga anak itu sanggup melewati masa sulit seperti belasan tahun lalu, saat harus berulang kali masuk rumahsakit.

Saat seperti ini, kenapa pula tante malah berniat pergi meninggalkan suaminya? Dulu, ketika kehidupan begitu memanjakan mereka, bukankah tante juga menikmatinya. Dan aku pikir, atas apa yang terjadi dengan jatuhnya usaha si om, tante ikut andil di dalamnya. Aku ingin marah saja, ingin mengumpat, tapi itu pilihan tante. Ingin rasanya aku tidak peduli dan pura-pura tidak tahu saja, namun begitu mereka bagian dari keluargaku.

Bukannya aku tidak mau mendekatimu, menjadi tempat curhat, mendengarkan keluh kesah, Tante. Tapi aku malas, bahkan benci pada orang yang selalu menganggap kematian adalah jalan terbaik menyelesaikan masalah. Tiap kali bercerita, pasti bilangnya ingin mati. Duh! Aku muak sumpah! Tante lupa bahwa dia bukan satu-satunya wanita yang memiliki masalah. Dia bukan satu-satunya ibu dan istri yang hidup tertekan kini.

Ayolah, kenapa tidak melihat keadaanku dulu. Yang hampir mati dipukuli orang. Yang tubuhnya penuh luka memar. Yang selama 300 hari menikmati ngilunya luka-luka baru. Bahkan polisi saja tidak bisa membebaskanku dari penderitaanku itu. Apa tante lupa bahwa keponakanmu ini juga pernah hancur. Apa tante tidak ingat, saat gadis lain bahagia dengan kehidupannya, sementara aku harus menanggung beban seumur hidup karena laki-laki itu? Apa tante tidak ingat bukan hanya hatiku yang remuk, tapi aku juga masih harus mengembalikan uang puluhan juta yang dia pinjam di kantormu, kan? Motorku ikut dibawa kabur juga, kan?

Tapi, aku masih kuat. Dan tidak pernah berniat menghancurkan hidupku meski aku sempat depresi, Tan! Aku tidak punya cita-cita bunuh diri. Aku masih dan terus merangkak sampai sperti yang kamu lihat saat ini. Ini adalah sisa masa lalu yang berhasil aku lalui.

Ayolah, tak ada hal yang tak berujung. Jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali dikemudian hari, Tan. Hidup itu akan terus berjalan berkesinambungan. Setidaknya, lihat anak-anakmu. Yang kuat. Yang kuat. Yang kuat. Jangan menyerah!!!

Aku cukup senang melihat mereka hidup mewah, dulu. Meski aku tidak ikut menikmati hal itu. Dan sekarang, aku ikut-ikutan menaggung beban mental maupun finansial karena mau tak mau merelakan tabunganku di tempatnya, diganti dengan rumah dan tanah yang sialnya aku  masih butuh puluhan juta untuk melunasi.

-_-

9 Maret

 

Rumah Kopi Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting